Petani Cabai di Kampar Berjuang Menghadapi Cuaca Panas dengan Teknologi Digital

Di tengah cuaca panas yang sering menguji ketahanan tanaman, para petani cabai di Desa Koto Garo, Kecamatan Tapung, Kabupaten Kampar, Riau, terus berjuang mempertahankan produksi dan kualitas hasil panen mereka. Di bawah naungan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Cagar, perjuangan mereka kini membuahkan hasil nyata, baik dari sisi produksi maupun dukungan luas dari pemerintah daerah dan Bank Indonesia (BI) yang mendorong penerapan teknologi digital farming.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Ketua Gapoktan Cagar, Sayfuddin, mengenang awal perjuangan mereka sejak tahun 2010. Pada masa itu, sebagian besar petani adalah pendatang dari Sumatera Utara yang belum memiliki lahan tetap. "Kami dulu cuma punya skill bertani. Akhirnya mulai dari nol, tanam cabai di lahan yang kami sewa atau numpang. Awalnya kecil, tapi lama-lama banyak yang ikut karena cabai ini punya nilai jual tinggi," kenangnya.
Perjalanan panjang itu mulai mendapat arah baru pada 2018 saat BI mulai turun langsung mendampingi para petani di Koto Garo. "Kami pertama kali kenal dengan BI karena waktu itu Pak Abdi dari BI Riau datang langsung ke sini. Dari situlah mulai ada pelatihan, bantuan alat, dan pendampingan teknis," ujar Sayfuddin.
Kini, di bawah Gapoktan Cagar terdapat empat kelompok tani aktif yaitu Rawit Tani Mandiri, Pencing Berkarya, Bukit Raya, dan Kelompok Wanita Tani, dimana gapoktan ini yang mengelola total 10 hektare lahan cabai. "Dulu untuk pengairan tanaman cabai kami masih siram pakai ember dan gayung, ternyata itu sangat tidak efisien. Sekarang kami sudah ada mesin pompa air, selang drip, sampai mesin bertekanan tinggi yang bisa mengairi lahan di bukit. Kami sudah belajar banyak dari pengalaman," ujar Sayfuddin.
Produktivitas cabai mereka kini mencapai 0,7–0,8 kilogram per batang, meningkat dari sebelumnya 0,5 kilogram berkat penerapan sistem digital farming. Salah satu inovasinya adalah pengairan dan pemupukan tetes otomatis (drip irrigation), serta penggunaan rapid soil check yang terhubung melalui jaringan Wi-Fi. Teknologi ini membantu petani mengukur kualitas tanah dan mengatur kebutuhan nutrisi tanaman secara presisi.
Ketua Poktan Rawit Tani Mandiri, Ariswanto, menjelaskan bahwa penerapan smart farming dilakukan di lahan seluas dua hektare. "Kami bisa tahu kapan tanah butuh air, kapan butuh pupuk. Semua bisa dipantau lewat perangkat digital. Dampaknya besar, hasil lebih merata dan tanaman lebih sehat," ungkapnya.
Kendala di lapangan, seperti serangan hama antraknosa, cuaca ekstrem dan terbatasnya pupuk subsidi, menjadi tantangan harian yang tak jarang membuat petani harus berinovasi. "Kami sudah punya pengalaman dari masa-masa sulit itu. Sekarang lebih siap, sudah tahu cara menanggulangi penyakit dan menjaga kesuburan tanah pakai pupuk kompos dan asam humat," tutur Ariswanto.
Kini, hasil cabai dari Gapoktan Cagar rutin dikirim ke pasar di Pekanbaru dan Batam melalui pengepul yang datang dua kali seminggu, dengan kapasitas pengiriman mencapai 1–1,5 ton per minggu. "Kami tidak berhenti belajar. Petani di sini bukan cuma tanam dan panen, tapi sudah berpikir bagaimana menjaga kualitas, memanfaatkan teknologi, dan menjaga pasokan tetap stabil," tutup Sayfuddin dengan nada optimis.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Riau, Panji Achmad, menegaskan bahwa pengembangan pertanian cabai di Kabupaten Kampar menjadi salah satu bentuk nyata dari kolaborasi BI bersama pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga stabilitas harga pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah. "Kegiatan seperti di Kampar ini merupakan bagian dari upaya pengendalian inflasi yang kami lakukan secara kolaboratif. Karena kita semua menyadari bahwa pengendalian inflasi adalah hal penting yang harus menjadi perhatian bersama," ujar Panji.
Menurutnya, upaya pengendalian inflasi tak hanya sekadar menjaga stabilitas ekonomi, tetapi juga menyentuh langsung kesejahteraan masyarakat. "Jika inflasi tidak terkendali, dampaknya akan paling terasa oleh masyarakat berpenghasilan tidak tetap. Karena itu, penguatan produksi pangan lokal seperti cabai menjadi langkah strategis," katanya.
Panji menjelaskan, karakteristik wilayah Riau yang belum unggul di sektor tanaman pangan menyebabkan ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah masih cukup tinggi. Oleh karena itu, BI mendorong inovasi dan peningkatan produktivitas melalui program digital farming pendampingan teknis, dan pelatihan bagi petani lokal. "Riau memang unggul di sektor lain, namun di bidang pangan kita masih perlu memperkuat fondasinya. Melalui dukungan teknologi dan sinergi berbagai pihak, kita harapkan produktivitas cabai di Kampar terus meningkat dan bisa berkontribusi nyata dalam menjaga stabilitas harga pangan di daerah," tutup Panji.