Perjalanan Jersey Sepak Bola: Dari Kain Hingga Sejarah
Jersey sepak bola tidak hanya sekadar pakaian yang dipakai saat bermain. Bagi sebagian orang, jersey merupakan simbol kebanggaan, cinta, dan kenangan yang tak tergantikan. Di dalamnya tersimpan kisah-kisah tentang klub yang mereka dukung, perjalanan panjang, dan momen-momen penting yang terjadi di lapangan.
Acara bertajuk “Menjahit Sejarah, Merayakan Gairah” menjadi wadah bagi para penggemar sepak bola untuk menyampaikan cerita-cerita unik tentang jersey. Acara ini diselenggarakan oleh kawanbola, Hanatama Studio, dan Bridge di Kozi coffe, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, pada Sabtu, 25 Oktober 2025. Tiga tamu istimewa hadir dalam acara tersebut, yaitu desainer MILLS Fajar Ramadhan, desainer jersey Persib Bandung Agung Mutakin, dan Nays Muntahar, seorang kolektor jersey sepak bola.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Nays Muntahar: Penjaga Memori dan Harapan Masa Depan
Nays Muntahar hadir sebagai penjaga memori. Baginya, jersey bukan sekadar benda koleksi, melainkan fragmen sejarah yang mengandung nostalgia. Ia memiliki galeri pribadi yang menampung banyak koleksinya. Namun, ia lebih berharap agar Persib memiliki museum besar yang bisa dikunjungi oleh banyak orang.
“Saya sudah janji, kalau museumnya jadi, saya akan bantu isi dengan koleksi pribadi,” ujarnya. 
Nays juga menjelaskan rencananya untuk membantu klub jika museum resmi Persib benar-benar berdiri. Ia sering terlibat langsung dalam berbagai kegiatan Persib, seperti tur trofi enam kota beberapa waktu lalu. Tim kolektor Persib juga ikut berpartisipasi dalam acara tersebut.
Fajar Ramadhan: Perkembangan Industri Jersey di Indonesia
Fajar Ramadhan, desainer MILLS, berbicara tentang bagaimana industri jersey di Indonesia berkembang menjadi sebuah ekosistem. Dalam sepuluh tahun berkarya di dunia desain olahraga, ia melihat perubahan besar yang terjadi.
“Dulu, desainer jersey bisa dihitung jari, sekarang sudah banyak banget. Bahkan sudah jadi profesi baru,” katanya. Menurut Fajar, perkembangan ini bukan sekadar tren, tapi bentuk pengakuan bahwa karya anak bangsa di bidang olahraga bisa berdiri sejajar dengan brand internasional.
Cita-cita sederhana Fajar adalah agar desainer jersey di Indonesia bisa hidup layak dan dihargai. Ia ingin tetap konsisten dalam berkarya, bahkan hingga 11 tahun, 12 tahun, dan seterusnya.
Agung Mutakin: Desain yang Mengandung Sejarah
Di sisi lain, Agung Mutakin, desainer jersey Persib, menjelaskan bahwa desain jersey bukan hanya tentang warna atau motif. Di setiap lekuk garis dan potongan bahan, ada sejarah yang dijahit dengan hati.
“Persib itu tidak akan pernah besar tanpa bobotoh, staf, dan orang-orang di balik layar,” ujarnya. Dalam merancang jersey Persib terbaru bersama brand asal Spanyol, Kelme, Agung menempatkan sejarah dan fungsi sebagai fondasi utama.
Awalnya, ada rencana memasukkan elemen Maung, tapi akhirnya dihapus karena terlalu mirip dengan klub di ibu kota. Akhirnya, mereka memilih desain yang lebih minimalis. Meskipun begitu, desain yang minimalis itu justru lebih mahal.
Agung meyakini, jersey bukan sekadar identitas klub, tapi juga penghormatan bagi mereka yang menjaga nama besar Persib di dalam arena pertandingan.