Mengukur Kekuatan Bioenergi dalam Perpindahan Energi

admin.aiotrade 17 Des 2025 6 menit 17x dilihat
Mengukur Kekuatan Bioenergi dalam Perpindahan Energi


aiotrade, JAKARTA — Energi terbarukan berbasis sumber hayati atau bioenergi memiliki potensi besar sebagai penopang transisi energi nasional. Namun, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi agar peluang ini dapat direalisasikan secara maksimal.

Ketangguhan bioenergi setidaknya terlihat dari target PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) yang membidik penggunaan biomassa hingga 10 juta ton per tahun pada 2030. Target ini ditetapkan sebagai upaya menggantikan molekul fosil dalam pembangkitan listrik nasional dan menekan emisi karbon sektor ketenagalistrikan.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Direktur Bioenergi PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pihaknya menargetkan penggunaan biomassa mencapai 2,5 juta ton tahun ini. Adapun, realisasi hingga pertengahan Desember mencapai 2,2 juta ton.

Melalui penggunaan biomassa tersebut, pihaknya menyebut telah berhasil menurunkan emisi karbon hingga 2,6 juta ton karbon dioksida (CO2e) ekuivalen dari 14 jenis biomassa. Hingga 2030, PLN EPI menargetkan 10 juta biomassa diterapkan dalam program co-firing biomassa.

"Tetapi untuk 2–3 tahun ke depan, kami punya potensi sekitar 7,3 juta ton, yang sebenarnya ini kami punya di depan mata," kata Hokkop dalam Bisnis Indonesia Forum bertajuk Prospek dan Tantangan Bioenergi Nasional, Selasa (16/12/2025).

Co-firing biomassa menjadi salah satu instrumen paling efektif dalam mendukung target net zero emission (NZE) karena mampu menurunkan emisi karbon secara langsung melalui penggantian molekul fosil, bukan sekadar mengganti jenis pembangkit.

PLN EPI mencatat potensi biomassa nasional sangat besar, mencakup dari limbah pertanian, kehutanan, kayu, hingga pulp (waste agro, waste forestry, waste wood, waste pulp), potensi biomassa Indonesia diperkirakan mencapai 280 juta ton per tahun.

Namun, sejauh ini pemanfaatan baru mencapai 20 juta ton, sementara potensi yang dinilai mudah diakses mencapai 60 juta ton.

“Bioenergi itu unik karena molekul fosilnya diganti dengan molekul hayati. Secara life cycle assessment, ini terbukti mampu mereduksi emisi karbon secara signifikan,” ujarnya.

Dalam praktiknya, PLN telah mengimplementasikan teknologi co-firing biomassa di hampir seluruh pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). Dari total 52 PLTU milik PLN, sebanyak 49 PLTU telah menerapkan co-firing dengan berbagai jenis biomassa.

Meski demikian, PLN EPI mengakui peningkatan pemanfaatan biomassa masih menghadapi tantangan teknis. Pembangkit listrik yang awalnya dirancang berbasis fosil memiliki batas toleransi terhadap campuran energi baru, sehingga implementasi biomassa harus dilakukan secara bertahap agar keandalan mesin tetap terjaga.

Secara teknis, PLN menilai porsi co-firing biomassa sebesar 10–15% masih berada dalam batas aman bagi mayoritas PLTU. Bahkan, beberapa PLTU berteknologi stoker di wilayah timur Indonesia telah menggunakan biomassa di atas 50%, dan sebagian mendekati 90%.

Selain biomassa padat, PLN EPI juga mengembangkan sumber bioenergi lain, seperti biogas dari limbah cair kelapa sawit (palm oil mill effluent/POME) serta pemanfaatan biomassa menjadi syngas, yang masuk dalam perencanaan Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL).

PLN EPI turut menambahkan bahwa tantangan terbesar adopsi biomassa ke depan tidak hanya terletak pada teknologi, tetapi di pembentukan ekosistem bioenergi yang berkelanjutan, mulai dari rantai pasok, pengolahan, blending (pencampuran), hingga infrastruktur penyimpanan biomassa.

“Kalau PLTU atau PLTG, ekosistemnya sudah terbentuk sejak awal. Bioenergi ini masuk di tengah, sehingga ekosistemnya harus kita bangun bersama,” tuturnya.

Dengan target 10 juta ton biomassa pada 2030, PLN EPI memperkirakan potensi pendapatan mencapai hingga Rp9,3 triliun dengan penurunan emisi 11 juta ton CO2e. Dia pun optimistis bioenergi akan menjadi tulang punggung transisi energi nasional, sekaligus solusi penurunan emisi karbon terbesar di sektor ketenagalistrikan.

Sejumlah Tantangan Peningkatan Bioenergi

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai bioenergi memiliki nilai strategis, terutama dalam meningkatkan bauran energi terbarukan untuk mendukung transisi.

Peneliti Indef Imaduddin Abdullah menjelaskan bioenergi memiliki potensi besar dalam mendukung transisi energi nasional sekaligus menopang ketahanan energi. Bioenergi juga relatif lebih andal dibandingkan sejumlah jenis energi lainnya. Selain itu, bioenergi juga dinilai mampu menggerakkan ekonomi lokal.

“Sehingga bergeraknya bioenergi secara tidak langsung, atau mungkin langsung gitu ya, memberikan dampak kepada produsen di hulu yang memang banyak adalah ekonomi lokal gitu. Jadi memang kita melihat bahwa ini [bioenergi] punya peran strategis,” tuturnya pada kesempatan yang sama.

Meski demikian, Imaduddin mengakui masih terdapat sejumlah tantangan seperti dalam arsitektur pasar bioenergi. Tantangan tersebut meliputi fragmentasi rantai pasok, volatilitas harga, pangsa ekspor dan arsitektur pasar yang masih terbatas.

Indef berharap pasokan bioenergi ke depan dapat lebih stabil dan memenuhi standar global, terutama apabila Indonesia menargetkan ekspor. Selain itu, biaya transaksi diharapkan dapat ditekan, yang kuncinya terletak pada penguatan rantai pasok.

Pihaknya juga berharap agar harga dapat diprediksi, volatilitas yang tidak mematikan adopsi mandat, dan pasokan domestik terlindungi tanpa melemahkan insentif investasi.

Indef turut mendorong agar pasar bioenergi menjadi lebih likuid dan efisien, dengan proses kontrak yang lebih cepat, biaya pembiayaan yang lebih rendah, kepastian permintaan, serta skala usaha yang layak secara komersial dan patuh terhadap standar global.

Sejalan dengan itu, Indef menilai terdapat sejumlah prioritas reformasi yang perlu dilakukan. Beberapa di antaranya meliputi penguatan sistem measurement, reporting, and verification (MRV), pengembangan ketelusuran (traceability) nasional dari feedstock hingga produk akhir, percepatan sertifikasi produsen, serta pembentukan hub atau aggregator pasokan untuk konsolidasi volume, mutu, dan jadwal untuk biaya transaksi.

Reformasi lainnya mencakup pengembangan referensi harga atau indeks bioenergi yang transparan, pembangunan register dan aturan klaim untuk sustainable aviation fuel (SAF), serta penyusunan kontrak yang mampu memperkuat pasar.

“Karena memang walaupun potensi kita besar, tetapi kalau pasar ini belum terbentuk secara baik, baik dari sisi supply dan demand, ini pada akhirnya pasar tidak terbentuk dan tidak tercapai. Jadi, walaupun permintaannya ada, tetapi jika pasar pasokannya tidak ada juga berubah. Jadi memang ini harus bergerak beriringan,” jelasnya.

Sementara itu, Masyarakat Energi Biomassa Indonesia (MEBI) memaparkan beberapa rekomendasi dalam mendorong pemanfaatan biomassa.

Dalam rekomendasinya yang pertama, Ketua Umum MEBI Milton Pakpahan merekomendasikan peningkatan produksi biomassa guna mendukung target Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) berbasis EBT, khususnya Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi (PLT Bio) sebesar 0,9 gigawatt (GW) hingga 2034.

Saat ini, terdapat sekitar 480 megawatt (MW) PLT Biomassa yang berada dalam tahap konstruksi, tender, maupun perencanaan, dengan kebutuhan biomassa mencapai sekitar 2,5 juta ton.

Kedua, MEBI juga merekomendasikan ketersediaan bahan bakar biomassa (B3M) tambahan untuk mendukung target co-firing sesuai RUPTL yakni tambahan 4,7 juta ton per tahun sampai 2030, termasuk untuk PLTU non-PLN.

“Bisa dibayangkan, 4,7 [juta ton] dalam 5 tahun ini tanggung jawab co-firing. Tolong dibantu PLN juga mencarikan solusi, makanya solusinya dalam jangka panjang,” jelas Milton.

Rekomendasi ketiga, yakni dalam sektor industri, pihaknya merekomendasikan untuk bekerja sama dengan Pusat Industri Hijau (PIH) Kementerian Perindustrian serta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dalam mendorong implementasi Standar Industri Hijau (SIH) berbasis biomassa pada industri yang sudah ada.

Keempat, MEBI merekomendasikan untuk mempromosikan biomassa dan kompor biomassa sebagai bahan bakar alternatif untuk memasak, termasuk dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Bayangan saya seperti di Filipina, dia jual seperti ‘kacang goreng’ itu, kayu pellet. Dibeli di ritel-ritel untuk masak,” ujarnya.

MEBI juga mendorong untuk dapat mengedukasi industri dan publik mengenai B3M berkalori tinggi yang dapat digunakan untuk pembakaran dan pertanian.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan