
Kinerja Perbankan di Akhir Tahun 2025: Tantangan dan Optimisme
Kondisi makro ekonomi yang belum sepenuhnya stabil tampaknya memengaruhi target-target perbankan di akhir tahun 2025. Hal ini terlihat dari laporan keuangan bulan-bulan terakhir kuartal IV, yang menunjukkan berbagai tantangan dalam mencapai target pertumbuhan kredit dan laba bersih.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Bank Mandiri: Pertumbuhan Kredit yang Mengungguli Target
Bank Mandiri menjadi salah satu bank besar yang mencatatkan kinerja yang cukup baik. Pada November 2025, pertumbuhan kredit mencapai 13,1% secara tahunan (year-on-year/YoY), melampaui target sebesar 8%-10%. Rasio kredit macet juga mengalami penurunan menjadi 0,99%, dibandingkan dengan posisi 1,03% pada September 2025.
Namun, laba bersih Bank Mandiri mengalami penurunan sebesar 6,41% YoY menjadi Rp 44,15 miliar. Penurunan ini disebabkan oleh peningkatan beban operasional sebesar 37,35% YoY menjadi Rp 44,31 triliun.
Direktur Finance and Strategy Bank Mandiri Novita Widya Anggraini menyatakan bahwa pertumbuhan dua digit untuk penyaluran kredit dan dana pihak ketiga (DPK) masih dapat dipertahankan hingga akhir tahun. Ia optimis bahwa prospek ekonomi nasional yang tetap terjaga akan menjadi peluang untuk menjaga kinerja yang solid.
Bank Central Asia (BCA): Pertumbuhan Kredit yang Masih Di Bawah Target
Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 921,20 triliun pada November 2025, tumbuh 5,18% YoY. Namun, angka ini masih di bawah target pertumbuhan 6%-8% yang ditetapkan untuk tahun penuh 2025.
EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F Haryn mengatakan bahwa pertumbuhan kredit sangat terkait dengan kondisi perekonomian nasional. Meski demikian, BCA tetap optimistis bahwa target pertumbuhan kredit bisa tercapai hingga akhir tahun.
Dalam hal profitabilitas, NIM (Net Interest Margin) BCA ada di level 5,7%. Laba bersih bank juga berhasil tumbuh 4,35% YoY menjadi Rp 52,67 triliun.
CIMB Niaga: Menurunkan Target Kredit
Berbeda dengan Bank Mandiri dan BCA, CIMB Niaga mengambil langkah lebih hati-hati. Presiden Direktur CIMB Niaga Lani Darmawan mengungkapkan bahwa pihaknya menurunkan target pertumbuhan kredit dari 6%-8% menjadi di bawah 5% untuk tahun penuh 2025.
Meski pertumbuhan kredit pada Oktober 2025 masih relatif baik di level 7,98% YoY, Lani mengatakan bahwa lesunya permintaan di pasar dari semua segmen menjadi alasan utama penurunan target.
Namun, target NIM sebesar 3,9% dan NPL di bawah 2% tetap dipertahankan. Dengan demikian, CIMB Niaga berusaha melindungi profitnya di tengah ketidakpastian ekonomi.
Bank Neo Commerce: Penurunan Kredit yang Disengaja
Bank Neo Commerce, sebuah bank digital dengan modal inti sebesar Rp 4 triliun, mencatatkan penyaluran kredit sebanyak Rp 7,2 triliun pada November 2025, turun 15,29% YoY. Direktur Bisnis Bank Neo Commerce Aditya Windarwo menyebut bahwa penurunan ini merupakan hasil dari pengetatan penyaluran kredit yang dilakukan bank.
Hingga akhir tahun, bank tetap melihat penyaluran kredit di kisaran Rp 7 triliun. Adit menilai bahwa kinerja sejauh ini sudah mencerminkan kinerja akhir tahun bank nanti.
Pandangan Ahli: Indikator Kinerja yang Tidak Semua Terpenuhi
Menurut Advisor Banking & Finance Development Center Moch Amin Nurdin, kinerja di bulan November menjadi cerminan kinerja akhir tahun perbankan karena biasanya sudah ditetapkan sebagai prognosa pencapaian hingga akhir tahun.
Ia menilai bahwa tidak semua indikator kinerja keuangan yang telah dipasang bank akan tercapai. Bank-bank besar tetap diuntungkan oleh kecukupan modal dan loyalitas nasabah, namun efisiensi dan pengelolaan risiko tetap menjadi faktor penting dalam menilai kinerja perbankan.
Tantangan di Tahun 2026
Secara umum, Amin menilai bahwa tahun 2026 tidak akan mudah. “Secara jangka pendek, 2026 tak semudah 2025,” katanya. Namun, ia yakin bahwa bank akan lebih siap setelah melewati kondisi 2025.
“Sehingga pasti akan ada perbaikan, strategi akan mereka sesuaikan. Tahun 2026 diyakini akan lebih baik,” pungkasnya.