
aiotrade, JAKARTA – Pada tahun 2026, sejumlah pabrik kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mulai beroperasi di Indonesia. Beberapa perusahaan yang telah membangun fasilitas produksi di sini antara lain Vinfast dari Vietnam dan BYD dari Tiongkok. Kedua pabrik tersebut berlokasi di Subang, Jawa Barat.
Vinfast telah menginvestasikan lebih dari US$300 juta dalam proyeknya di Indonesia dengan kapasitas produksi awal sekitar 50.000 unit kendaraan per tahun. Fasilitas manufaktur Vinfast Subang dibangun di atas lahan seluas 171 hektare. Perusahaan ini juga menegaskan komitmennya untuk meningkatkan nilai investasi secara bertahap hingga mencapai US$1 miliar atau setara Rp16 triliun (berdasarkan asumsi kurs Rp16.000 per dolar AS). Dalam fase ini, kapasitas produksi ditargetkan mencapai 350.000 unit kendaraan per tahun untuk melayani pasar domestik sekaligus membuka peluang ekspor.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di sisi lain, BYD dilaporkan telah menyelesaikan sekitar 90% pembangunan fasilitas pabriknya di Indonesia dengan nilai investasi mencapai Rp11,2 triliun. Pabrik tersebut disiapkan untuk kapasitas produksi hingga 150.000 unit per tahun.
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menyatakan bahwa insentif impor utuh CBU untuk mobil listrik murni akan dihentikan pada akhir 2025. Kebijakan ini merujuk pada Peraturan Menteri Investasi Nomor 6/2023 jo. Nomor 1/2024, yang menetapkan bahwa fasilitas impor dan insentif BEV hanya berlaku hingga 31 Desember 2025.
Mulai 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027, produsen kendaraan listrik wajib memenuhi komitmen produksi lokal dengan skema 1:1 sesuai peta jalan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), termasuk kesetaraan spesifikasi teknis seperti daya motor listrik dan kapasitas baterai. Jika tidak memenuhi komitmen tersebut, pemerintah dapat mencairkan bank garansi sebagai sanksinya.
Saat ini, beberapa pabrikan mobil listrik telah menerima insentif impor, seperti BYD, Geely, VinFast, serta PT National Assembler yang menaungi merek Citroen, Aion, Maxus, dan VW. Artinya, sejumlah pabrikan BEV tersebut perlu memulai perakitan lokal pada 2026.
Proyeksi Ekonom
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa Vinfast tampaknya menerapkan strategi perakitan lokal sebagai langkah awal untuk pasar Indonesia. "Pendekatan ini dimulai dengan perakitan di dalam negeri, kemudian secara bertahap meningkatkan kandungan lokal untuk memanfaatkan insentif yang tersedia sekaligus mengendalikan biaya, sebelum beralih ke produksi dalam skala yang lebih besar," ujar Josua dalam pernyataannya, dikutip Rabu (31/12/2025).
Dari perspektif ekonomi, Josua menilai bahwa investasi tersebut penting bukan hanya dari segi volume produksi, tetapi juga karena peningkatan produktivitas dan kapabilitas industri yang dihasilkan. Hal ini mencakup pengembangan manufaktur berteknologi tinggi, otomasi proses, serta integrasi dengan solusi energi bersih.
Dia menambahkan, apabila model serupa dapat diadaptasi dan diterapkan di negara-negara seperti Indonesia, dengan penyesuaian terhadap kondisi lokal serta penguatan jaringan pemasok, pendekatan ini berpotensi mendorong peningkatan produktivitas yang lebih luas di sektor manufaktur.
Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa efektivitas strategi tersebut sangat bergantung pada kualitas implementasi, stabilitas rantai pasok, serta penerimaan konsumen. Ia menilai ekspansi agresif di sektor kendaraan listrik memerlukan disiplin keuangan dan kejelasan arah bisnis agar dapat bertahan dalam siklus industri yang kompetitif.
Tren Pasar Kendaraan Listrik
Di sisi lain, meskipun pasar otomotif domestik sedang lesu, penjualan mobil listrik berbasis baterai (battery electric vehicle/BEV) justru mengalami lonjakan signifikan sepanjang tahun berjalan. Mengacu pada data Gaikindo, total penjualan wholesales mobil listrik murni selama 11 bulan 2025 mencapai 82.525 unit. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dari capaian sepanjang 2024 sebesar 43.188 unit.
Lonjakan tersebut didorong oleh semakin masifnya peluncuran merek dan model kendaraan listrik baru di pasar domestik, yang pada akhirnya memperketat persaingan di segmen EV. Selain BYD, Wuling, dan Chery, ada sejumlah pendatang baru turut meramaikan pasar, seperti Vinfast dari Vietnam, Polytron milik Grup Djarum, serta Jaecoo di bawah Grup Chery.
Euforia mobil listrik di Indonesia juga tak terlepas dari sejumlah insentif perpajakan hingga bebas bea masuk impor yang diberikan oleh pemerintah. Alhasil, harga mobil listrik semakin terjangkau di kisaran Rp200 juta, atau beririsan dengan mobil low cost green car (LCGC).