Mengukur Peran Danantara dan Swasta dalam Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%

admin.aiotrade 07 Des 2025 3 menit 12x dilihat
Mengukur Peran Danantara dan Swasta dalam Capai Pertumbuhan Ekonomi 8%


aiotrade, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III/2025 mencapai 5,04%, sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal II/2025 yang sebesar 5,12%. Pencapaian ini menunjukkan bahwa berbagai sektor, baik swasta maupun pelat merah, telah berkontribusi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu peran penting di sini adalah dari Danantara Indonesia, yang diharapkan dapat membantu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga mencapai target 8%.

Realisasi pertumbuhan ekonomi tersebut didukung oleh beberapa faktor utama, seperti konsumsi domestik, aktivitas ekspor-impor, investasi, dan belanja pemerintah. Selain itu, peran pelaku usaha dan korporasi dalam struktur ekonomi nasional juga sangat penting. Hal ini mencakup BUMN, perusahaan swasta, sektor perbankan, serta perusahaan terbuka atau emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dari sisi BUMN, kehadiran Danantara Indonesia menjadi langkah baru yang diharapkan mampu meningkatkan kinerja perusahaan pelat merah. Dalam laporan media, sejumlah inisiatif dilakukan oleh Danantara bersama sektor swasta untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Managing Director Treasury Danantara Indonesia, Ali Setiawan, menjelaskan bahwa perusahaan akan memegang dua peran utama, yaitu mendanai proyek strategis dan mencari return dari aktivitas pasar modal. Dia menambahkan bahwa Danantara akan mengarahkan aktivitasnya secara jangka panjang dengan dua fungsi tersebut.

Dalam proyek strategis, Danantara terlibat dalam pembangunan pengolahan sampah menjadi listrik atau waste to energy (WTE), yang direncanakan akan dibangun di 33 daerah. Selain itu, Danantara baru-baru ini menerbitkan Patriot Bond dengan nilai Rp50 triliun. Instrumen ini disebut sebagai pembiayaan strategis untuk memperkuat kemandirian pembiayaan nasional.

Melalui Patriot Bond, negara mendapatkan sumber pendanaan jangka menengah hingga panjang yang stabil. Sementara itu, pelaku usaha akan memiliki akses terhadap instrumen investasi yang aman dan bermanfaat bagi perekonomian. Prinsip dasar obligasi patriot adalah partisipasi sukarela dan tanggung jawab bersama. Skema ini membuka ruang bagi kelompok usaha nasional untuk berkontribusi dalam agenda pembangunan lintas generasi.

Di sisi lain, dari sektor pelaku usaha, Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Bakrie, menyatakan bahwa pihaknya akan fokus pada penciptaan lapangan kerja. Anindya menegaskan bahwa Kadin sebagai mitra strategis pemerintah akan terus mendukung kebijakan nasional, termasuk inisiatif Presiden Prabowo Subianto yang berfokus pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Pihaknya percaya bahwa keberhasilan pemerintah akan berdampak positif pada dunia usaha dan perekonomian. Anindya menyebutkan bahwa Kadin telah berkontribusi dalam sejumlah program besar pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Selain itu, Kadin juga aktif memfasilitasi tenaga kerja migran.

Sementara itu, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti tekanan yang dialami sektor padat karya, khususnya tekstil, selama satu tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, menjelaskan bahwa sektor tekstil masih mengalami pelemahan hingga 20%. Shinta juga menyebut industri furnitur sebagai salah satu sektor yang mengalami penurunan bisnis sebesar 20%. Selain itu, sektor otomotif juga mengalami pelemahan sebesar 9% sepanjang tahun ini.

Shinta menyarankan pemerintahan Prabowo-Gibran agar segera tanggap mengatasi masalah ini. Salah satunya melalui peningkatan pemberian insentif, khususnya bagi masyarakat menengah. Upaya ini diperlukan untuk menyeimbangkan sisi pemasok (supply) dan sisi pasar (demand).

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan