
Penerbitan ST015 sebagai Produk Sukuk Ritel Terakhir Tahun 2025
Kementerian Keuangan, yang kini dipimpin oleh Purbaya Yudhi Sadewa, sedang bersiap untuk menerbitkan surat utang ST015 sebagai seri sukuk ritel terakhir yang akan diterbitkan pemerintah pada tahun 2025. Berdasarkan analisis sejumlah ahli keuangan, produk ini memiliki prospek serapan pasar yang positif di sisa tahun 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Sepanjang tahun 2025, anak buah Menteri Purbaya di Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) telah menerbitkan SBN Ritel seri ST014 pada periode Maret–April 2025. Saat itu, suku bunga deposito berada pada level 5,75%, sedangkan ST014 ditawarkan dengan imbal hasil sebesar 6,50% dan 6,60% untuk tenor pendek dan panjang. Pemerintah berhasil menghimpun dana senilai Rp19,35 triliun untuk produk bertenor pendek dan Rp3,99 triliun untuk produk bertenor panjang.
Kini, ST015 menjadi produk Sukuk Tabungan kedua yang bakal diterbitkan oleh pemerintah pada periode 10 November–3 Desember 2025. Sebagai perbandingan, Bank Indonesia (BI) baru saja menahan suku bunga di level 4,75% pada Rapat Dewan Gubernur hari ini (22/10). Alhasil, sejumlah analis menilai bahwa imbal hasil yang ditawarkan produk ini tidak akan jauh berbeda dengan ORI028.
Fitur Khusus ST015: Floating with Floor
Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi menilai bahwa ST015 memiliki fitur unik yang disebut "floating with floor". Fitur ini memungkinkan tingkat imbal hasil yang ditawarkan akan menyesuaikan perubahan BI-Rate setiap tiga bulan sekali. Jika suku bunga BI melanjutkan penurunan, tingkat imbalan pertama akan ditetapkan sebagai imbalan minimal yang berlaku hingga jatuh tempo.
“Pada dasarnya, seri ST–yang memiliki fitur floating with floor–berbeda dengan seri fixed sebelumnya, ini dapat menjadi pilihan investasi yang relevan di fase late-cut-cycle,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Rabu (22/10/2025).
Namun, meskipun memiliki fitur menarik, ST015 juga menghadapi tantangan dalam penyerapan pasar. Hal ini karena pemerintah berada di tengah tren pelonggaran moneter. Kuncinya, tingkat penyerapan pasar terhadap produk ini akan bergantung kepada tingkat kupon yang ditawarkan, desain produk, hingga momentum penerbitan.
Momentum Reinvestasi
Memilih momentum yang tepat untuk mempermudah investor melakukan aksi reinvestasi dinilai menjadi salah satu upaya yang bisa membuat kinerja penerbitan ST015 lebih laris ke depannya.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual menilai bahwa investor SBN Ritel memiliki kecenderungan untuk kembali menempatkan dana investasi mereka di produk serupa. Hal itu yang kemudian mendorong produk ST015 mampu terserap di pasaran.
“Jadi kalau dia udah memang selama ini di situ, dia biasanya akan reinvest. Dia akan refinance ke situ lagi, dia akan reinvestasi ke situ lagi,” katanya kepada Bisnis, dikutip Rabu (22/10/2025).
Upaya serupa pernah dilakukan DJPPR pada penerbitan ORI028. Plt. Direktur Surat Utang Negara DJPPR Novi Puspita Wardani, mengaku cukup optimis terhadap penjualan produk tersebut, sebab reinvestasi diprediksi akan terjadi dari produk ORI022.
Alhasil, ORI028 bertenor enam tahun yang pada perdagangan kemarin, Selasa (21/10/2025) yang tersisa 18%, telah ludes terjual dan hanya tersisa Rp3,22 miliar atau sekitar 0,1% pada perdagangan hari ini, Rabu (22/10/2025).
Prospek ST015 di Tengah Tren Suku Bunga Rendah
David masih menyoroti ihwal besaran imbal hasil yang ditawarkan ST015 ke depannya. Hal itu dinilai bakal menjadi daya tarik bagi investor untuk berinvestasi di produk SBN tersebut. David memprediksi, ST015 bakal memberikan imbal hasil di sekitar level 6% dan tidak jauh berbeda dengan produk ORI028.
“Ya utamanya tetap [besaran] imbal hasil. Terus tenor ST015 juga enggak panjang kan, hanya dua tahun,” kata David.
Dengan longgarnya likuiditas perekonomian nasional, David memprediksi ST015 masih memiliki peluang untuk mencatatkan oversubscribed, seperti ST014. Terlebih, imbal hasil produk ini lebih unggul dibandingkan bunga deposito bank besar yang memiliki bunga deposito yang berkisar pada 2,50%–3%.
Pandangan dari Anugerah Sekuritas Indonesia
Senada, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto menilai bahwa produk ST015 masih memiliki daya tariknya tersendiri, terutama di tengah keputusan BI untuk menahan suku bunga.
Sifat ST015 yang mengikuti besaran suku bunga hingga aspek keamanan menjadi pertimbangan Ramdhan dalam menilai produk ini. Terlebih, Ramdhan memprediksi BI bakal memangkas suku bunga satu kali lagi di sisa 2025.
“Menurut saya, ST015 tetap menarik karena komparasinya dengan instrumen saat ini. Karena produk ini aman dan sekarang suku bunga kita sedang rendah, ini akan menjadi alternatif bagi masyarakat,” tegas Ramdhan, Rabu (22/10/2025).
Namun, Ramdhan masih menekankan pada pentingnya mitra distribusi melakukan sosialisasi mengenai ST015 kepada investor. Hal itu penting dilakukan untuk memberikan penjelasan bagi investor terhadap kondisi perekonomian saat ini.
“Ini prospeknya akan tergantung nanti menyosialisasikan kondisi suku bunga yang saat ini,” kata Ramdhan.