Kinerja Saham Sektor Infrastruktur Tahun 2025

Pada tahun 2025, kinerja saham emiten sektor infrastruktur tercatat sangat mengesankan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 19 Desember 2025, indeks IDX Infrastructures (IDXINFRA) mengalami kenaikan sebesar 71,51% sejak awal tahun alias year to date (YTD). Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya naik sebesar 21,61% YTD.
Kenaikan IDXINFRA selama tahun ini didorong oleh subsektor telekomunikasi. Salah satu penggerak utama adalah PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), yang harga sahamnya meroket hingga 2.123,40% YTD. Dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp 247,11 triliun, MORA menjadi salah satu emiten yang berkontribusi besar terhadap IHSG saat ini.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Fath Aliansyah Budiman, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, menjelaskan bahwa kenaikan MORA dipengaruhi oleh ekspektasi merger dan ekspansi fiber to the home (FTTH). Meskipun demikian, ia menilai kenaikan saham tersebut masih didorong oleh cerita atau story-driven.
Sukarno Alatas, Senior Equity Research Kiwoom Sekuritas, juga melihat bahwa pendorong terbesar IDXINFRA berasal dari pergerakan saham MORA. Namun, ia memperingatkan bahwa kenaikan tersebut belum sepenuhnya didasari oleh fundamental yang kuat. Ia menilai, dukungan fundamental lebih solid datang dari emiten seperti PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL). Perbaikan average revenue per user (ARPU), efisiensi biaya, margin, serta arus kas yang lebih kuat menjadi faktor pendukung utama.
Selain itu, PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) juga turut mengangkat IDXINFRA. Kenaikan saham CDIA dipacu oleh euforia pasca melantai di Bursa dan ekspektasi ekspansi logistik. Namun, ada beberapa emiten yang menjadi penahan bagi indeks, seperti PT Jasa Marga Tbk (JSMR), PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR).
Saham JSMR turun sebesar 20,32% YTD, MTEL turun 9,30% YTD, dan TOWR turun 11,45% YTD. Selain itu, saham konstruksi BUMN masih terbebani tekanan margin, leverage, dan pertumbuhan yang terbatas.
Prospek dan Rekomendasi untuk Tahun 2026
Menurut Fath, kondisi ini kemungkinan akan tetap terjadi hingga tahun 2026, dengan penopang berasal dari subsektor telekomunikasi dan pemberat dari subsektor konstruksi. Sukarno juga melihat bahwa subsektor telco dan digital infrastructure akan tetap menjadi tulang punggung IDXINFRA, meski dengan laju pertumbuhan yang lebih moderat dan selektif.
Pada tahun 2026, terdapat peluang rotasi ke infrastruktur energi dan tol tertentu jika suku bunga turun dan restrukturisasi neraca berjalan. Sentimen positif datang dari penurunan bunga, konsolidasi industri, dan proyek strategis nasional. Namun, risiko utama tetap ada, seperti kebutuhan modal belanja besar (capital expenditure), potensi dilusi, dan integrasi pascamerger.
Sukarno merekomendasikan beli untuk saham TLKM dan JSMR dengan target harga masing-masing Rp 4.000 per saham dan Rp 5.500 per saham.
Untuk TLKM, spin-off PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) menjadi katalis utama karena membuka peluang valuasi tambahan dari aset fiber bernilai besar. Pemisahan bisnis fiber membuat kinerja lebih transparan, meningkatkan efisiensi, dan memungkinkan TLKM memperoleh valuasi lebih tinggi melalui re-rating aset infrastruktur serta peluang pendanaan/partnership strategis.
Sementara itu, kinerja JSMR berpotensi positif di tahun 2026 karena didorong oleh kenaikan trafik, pembukaan ruas baru, serta efek kenaikan tarif yang sudah dilakukan pada kuartal IV 2025. Katalis utama tetap berasal dari penyesuaian tarif lanjutan dan potensi penurunan suku bunga yang dapat memperbaiki margin.