Mengungkap Prospek Kinerja BUMN 2026 dan Rekomendasi Saham Analyst

admin.aiotrade 28 Des 2025 5 menit 12x dilihat
Mengungkap Prospek Kinerja BUMN 2026 dan Rekomendasi Saham Analyst

aiotrade.CO.ID - JAKARTA.

Kinerja emiten BUMN pada tahun 2026 kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan sepanjang tahun 2025 ini. Alasannya berasal dari pasar yang kini cenderung menunggu dan melihat, dengan kinerja mayoritas emiten pelat merah.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Melalui data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja IDX BUMN20 hanya mampu naik 7,48% sejak awal tahun 2025. Sebagai perbandingan, ini tentu tertinggal jauh dengan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik sebesar 20,59% year to date (YTD).

Dana asing juga terpantau masih keluar dari sejumlah emiten BUMN, khususnya sektor perbankan. Dalam sebulan terakhir saja, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dijual asing paling banyak, yaitu sebesar Rp 4,4 triliun. Jika ditarik lebih jauh, BBRI sudah dijual Rp 8,82 triliun sejak awal tahun alias YTD. Di periode ini, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) masing-masing dilego asing Rp 13,8 triliun dan Rp 4,19 triliun YTD.

Sementara, melihat kinerja sahamnya, tercatat ada dua emiten Danantara yang naik ratusan persen sepanjang tahun 2025. Yaitu, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Timah Tbk (TINS) yang masing-masing naik 111,15% YTD dan 203,74% YTD.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata melihat, emiten pelat merah dari sektor komoditas dan energi memang tengah diuntungkan oleh sentimen harga dan narasi hilirisasi dan transisi energi di sepanjang tahun 2025. “Sementara, emiten bank pelat merah dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) cenderung defensif,” ujarnya kepada aiotrade, Rabu.

Sementara, lesunya performa IDXBUMN20 lantaran bobot berat dari emiten big caps defensif yang tidak lagi memimpin reli pasar tahun 2025. “Namun, ini bukan berarti BUMN ditinggalkan investor. Melainkan, pasar semakin selektif dan tidak memberi premi hanya karena status BUMN. Raihan laba, return on equity (ROE), dividen, dan kualitas aset jadi penentu utama,” ungkapnya.

Kepala Riset Praus Capital Marolop Alfred Nainggolan melihat, kenaikan IHSG di tahun ini yang cukup tinggi tidak terjadi secara merata ke seluruh saham. Namun, dikontribusikan mayoritas atau sekitar 64% oleh beberapa emiten konglomerasi. Dari 11 emiten utama penggerak IHSG di tahun 2025, hanya PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang dimiliki oleh negara. “Dalam tiga tahun terakhir, kenaikan IHSG sebesar 67%-nya disumbang dari 10 emiten non-BUMN,” ujarnya kepada aiotrade, Minggu (28/12).

Performa harga saham BUMN dalam satu-tiga tahun terakhir pun bisa mengindikasi minat pasar yang rendah terhadap saham-saham emiten pelat merah. Padahal, jika melihat performa fundamental, emiten BUMN masih memiliki kinerja solid, khususnya dari sektor perbankan. “Artinya ada faktor non-fundamental yang dilihat oleh pasar,” ungkapnya.

Hasil RUPSLB 2025

Di tengah kinerjanya yang kurang bergairah, sejumlah emiten BUMN kompak menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) di penghujung tahun 2025. Sebut saja, ada TLKM, ANTM, BBNI, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Adhi Karya Tbk (ADHI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT Jasa Marga Tbk (JSMR), BBRI, PT Kimia Farma Tbk (KAEF), dan TINS. Lalu, PT Semen Baturaja Tbk (SMBR), PT PP Tbk (PTPP), BMRI, PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS), PT Indofarma Tbk (INAF), PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), PT Waskita Karya Tbk (WSKT), dan PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS).

Hasil RUPSLB 21 emiten Danantara itu mengubah anggaran dasar dan sebagian merombak jajaran pengurus. “Hasil RUPSLB di akhir 2025 lebih berfungsi sebagai justifikasi kinerja 2026, seperti kejelasan strategi, tata kelola, dan RKAP, bukan katalis instan (penggerak kinerja). Pasar tetap menunggu realisasi laba dan perbaikan neraca,” kata Liza.

Alfred berpandangan, pelaksanaan RUPSLB emiten BUMN dengan agenda perombakan kepengurusan dan menjadi sesuatu yang lumrah. Agenda tersebut akan menjadi katalis, jika perubahan kepengurusan bisa memberikan keyakinan kepada pasar akan tujuan utama korporasi melakukan perubahan susunan kepengurusan, yaitu yang utama peningkatan performa. “Selama ini agenda perubahan susunan kepengurusan di BUMN lebih dekat kepada tujuan ‘mengakomodasi’ kepentingan non-bisnis perusahaan,” katanya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta melihat, RUPSLB BUMN di penghujung 2025 hanya untuk peningkatan efisiensi dan kualitas bisnis, serta perbaikan kinerja. “Ini penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar ke depan,” ujarnya kepada aiotrade, Minggu (28/12).

Prospek dan Rekomendasi

Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Fath Aliansyah melihat, saham ANTM dan TINS masih memiliki potensi kenaikan kinerja saham di tahun depan. Pendorongnya adalah membaiknya harga komoditas terkait, membaiknya output produksi, dan momentum dari aliran dana asing. “Jika dilihat dari momentumnya, (emiten komoditas emas dan nikel) momentumnya masih cukup kuat. Setidaknya sampai kuartal I 2026,” ujarnya kepada aiotrade, Rabu (24/12).

Liza melihat, sentimen positif penggerak kinerja emiten BUMN20 berasal dari peluang cost of fund (CoF) lebih ramah, valuasi BUMN yang relatif murah, potensi dividen, serta eksekusi pasca-RUPSLB. Sementara, sentimen negatif berasal dari risiko nilai tukar rupiah, volatilitas global, dan tekanan kebijakan atau dividen, serta kebijakan dan campur tangan BPI Danantara yang masih diragukan keampuhannya.

Kandidat jawara emiten Danantara di tahun 2026 masih berasal dari sektor komoditas strategis dan energi, seperti ANTM, PGEO, dan PGAS, serta emiten bank himbara yang dapat kucuran likuiditas jumbo. “Namun, kucuran likuiditas jumbo ke emiten bank BUMN masih perlu pembuktian, apakah mampu membukukan pertumbuhan kredit yang sehat dan menjaga kualitas aset stabil. Jadi, kuncinya tetap eksekusi, bukan headline,” tuturnya.

Alfred berpandangan, kinerja emiten BUMN20 akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah melalui BPI Danantara sebagai pemilik saham mayoritas, serta penugasan atau penggunaan BUMN dalam mensukseskan program-program pemerintah yang jauh dari orientasi bisnis. Artinya, di tahun 2026, pemerintah melalui BPI Danantara memiliki perang penting dalam mengembalikan persepsi BUMN sebagai korporasi murni.

“Beberapa emiten BUMN saat ini masih memiliki valuasi yang menarik adalah saham-saham BUMN perbankan, serta infrastruktur seperti PGAS dan JSMR,” katanya.

Menurut Nafan, kinerja IDX BUMN20 bisa saja tumbuh menjadi dobel digit di tahun 2026 lantaran tengah ada uptrend saham-saham emiten konstituennya di akhir tahun 2025. Sentimen positif di tahun depan adalah penurunan suku bunga, kebijakan hilirisasi, dan pergerakan harga komoditas global. Hal itu bisa didukung oleh peran Danantara yang tengah melakukan efisiensi BUMN jumlah BUMN yang bisa berdampak ke efektivitas kinerja emiten pelat merah.

Nafan pun merekomendasikan accumulative buy untuk BBNI, BBRI, BMRI, dan PGAS dengan target harga masing-masing di Rp 4.710 per saham, Rp 4.540 per saham, Rp 6.200 per saham, dan Rp 1.965 per saham. Rekomendasi add juga disematkan untuk TINS dengan target harga terdekat Rp 4.300 per saham.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan