
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mengajak netizen di media sosial untuk ikut serta menjaga ekosistem sepak bola Indonesia. Ia menekankan pentingnya membangun citra positif bagi olahraga ini melalui penggunaan media sosial secara bertanggung jawab.
Erick Thohir, yang juga menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, menyoroti kekhawatiran terhadap praktik bullying dan pemberitaan yang tidak seimbang terhadap pemain timnas Indonesia. Menurutnya, media sosial memiliki peran penting dalam membentuk citra sepak bola nasional, bukan hanya menyampaikan informasi tetapi juga melindungi para pemain dari dampak psikologis akibat sorotan berlebihan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Saya minta tolong kepada rekan-rekan media. Bantu kami membangun sepak bola Indonesia dengan benar. Kritik boleh, tapi jangan sampai menjadi bullying yang berlebihan,” ujar Erick Thohir saat berbicara kepada awak media.
Ia menyoroti maraknya serangan verbal dan komentar ekstrem terhadap pemain, baik dalam bentuk pemberitaan maupun komentar di media sosial. Fenomena ini, menurutnya, bisa menjadi racun bagi perkembangan pemain muda yang sedang meniti karier profesional.
Beberapa pemain seperti Rizky Ridho dan Marselino Ferdinan sempat menjadi korban serangan netizen. Erick Thohir menegaskan bahwa netizen harus lebih baik dan tetap memberikan dukungan positif kepada para pemain.
“Kita punya banyak pemain muda luar biasa. Ada Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, dan generasi di U-23, U-20, bahkan U-17 yang akan tampil di Piala Dunia U-17 2025. Mereka adalah aset bangsa. Jika terus diserang dan dibully, bagaimana mereka bisa berkembang?” tambahnya.
Selain masalah bullying, Erick Thohir juga menyentuh isu diskriminasi yang masih ada di sepak bola nasional. Ia menyatakan prihatin karena masih ada perlakuan tidak adil terhadap pemain dari wilayah tertentu, khususnya dari Indonesia timur.
Salah satu contohnya adalah Yakob Sayuri, pemain Malut United yang disorot setelah bermain buruk saat timnas Indonesia melawan Arab Saudi. Erick Thohir menegaskan bahwa tidak ada tempat bagi diskriminasi dalam sepak bola Indonesia.
“Saudara-saudara kita dari timur adalah bagian penting dari bangsa ini. Jangan beri label buruk hanya karena asal atau latar belakang,” tegasnya.
Erick Thohir menutup dengan harapan agar semua pihak, terutama media dan publik sepak bola, dapat menjaga semangat sportivitas dan rasa saling menghargai. Ia menekankan bahwa saat ini pihaknya sedang membangun sepak bola yang sehat dan berintegritas.
“Mari sama-sama menjadi bagian dari solusi, bukan sumber luka bagi pemain kita,” pungkasnya.