Menteri LH Buka Suara soal Banjir Sumbar, Tutupan Hutan Kurang 30 Persen

admin.aiotrade 17 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Menteri LH Buka Suara soal Banjir Sumbar, Tutupan Hutan Kurang 30 Persen

SEMARANG, aiotrade
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan bahwa bencana banjir yang terjadi di Sumatera Barat tidak hanya disebabkan oleh curah hujan yang ekstrem, tetapi juga oleh kurangnya tutupan hutan dan kondisi geomorfologi wilayah tersebut.

Pernyataan ini disampaikan oleh Hanif dalam sambutannya pada acara UI GreenMetric Indonesia Awarding 2025 yang berlangsung di Muladi Dome, Universitas Diponegoro, pada Selasa (16/12/2025). Ia menekankan pentingnya perhatian pemerintah dan akademisi terhadap bencana besar yang melanda Sumatera Barat.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Menurut Hanif, bagian utara Sumatera Barat terletak di rangkaian Pegunungan Bukit Barisan dengan lereng yang sangat curam, sedangkan sisi selatannya langsung berbatasan dengan Laut Hindia. Hal ini membuat wilayah tersebut rentan terhadap bencana alam.

“Kondisi Sumatera Barat tidak dalam keadaan yang baik. Dengan kapasitas seperti itu, tutupan hutan untuk Provinsi Sumatera Barat kurang dari 30 persen, sementara kawasan hutannya sendiri hanya 38 persen dari 16 DAS yang terdampak. Ini yang kemudian memperparah terjadinya bencana banjir,” jelas Hanif.

Wilayah Sumatera Barat yang berbatasan dengan Pegunungan Bukit Barisan dinilai memiliki risiko tinggi terhadap bencana. Ia menyoroti perubahan tutupan lahan menjadi ladang oleh masyarakat dan minimnya upaya konservasi yang memperparah risiko erosi dan banjir.

“Kapasitas dari cover-nya atau C-nya sudah sebagian besar berubah menjadi ladang-ladang masyarakat. Kemudian tidak ada nilai konservasinya atau nilai P-nya. Sehingga, yang terjadi di Sumatera Barat dengan curah hujan yang cukup sangat tinggi 135 mm, maka terjadi bencana yang cukup besar terutama pada DAS Agam,” ujarnya.

Bencana ini menyebabkan korban jiwa hampir 200 orang, terutama di DAS Agam.

“Kenapa DAS Agam itu menimbulkan korban? Hampir 200 jiwa di daerah situ,” kata Hanif.

Dengan pernyataan ini, diharapkan semua pihak dapat lebih memperhatikan kondisi lingkungan dan berupaya melakukan konservasi untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Bencana Banjir di Sumatera Barat

  • Curah Hujan Tinggi
    Curah hujan yang mencapai 135 mm memicu terjadinya banjir yang signifikan. Kondisi ini memperparah risiko bencana, terutama di daerah dengan topografi yang curam.

  • Minimnya Tutupan Hutan
    Tutupan hutan di Sumatera Barat kurang dari 30 persen, sehingga mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap air. Hal ini meningkatkan debit air saat hujan deras.

  • Perubahan Penggunaan Lahan
    Perubahan lahan menjadi ladang oleh masyarakat telah mengurangi fungsi hutan sebagai penyerap air. Tidak adanya nilai konservasi (P) memperparah risiko erosi dan banjir.

  • Geomorfologi Wilayah
    Wilayah Sumatera Barat terletak di dekat Pegunungan Bukit Barisan dengan lereng curam dan berbatasan langsung dengan Laut Hindia. Kondisi ini menjadikannya rentan terhadap bencana alam.

Langkah-Langkah yang Diperlukan untuk Mengurangi Risiko Bencana

  • Peningkatan Tutupan Hutan
    Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama untuk melestarikan hutan dan mengembalikan tutupan hutan yang hilang. Ini akan membantu menyerap air dan mengurangi risiko banjir.

  • Penguatan Konservasi Lahan
    Upaya konservasi seperti reboisasi dan pengelolaan lahan secara berkelanjutan diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mencegah erosi.

  • Edukasi dan Kesadaran Masyarakat
    Masyarakat perlu diberdayakan dengan pengetahuan tentang pentingnya konservasi dan pengelolaan lingkungan. Kesadaran ini akan membantu mencegah tindakan yang merusak lingkungan.

  • Kerja Sama Antar Stakeholder
    Pemerintah, akademisi, dan masyarakat harus bekerja sama dalam merancang dan menerapkan kebijakan lingkungan yang efektif dan berkelanjutan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan