
Kepemimpinan Industri Farmasi di Dalam Negeri
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menyampaikan bahwa sebanyak 95 persen produk obat jadi telah mampu diproduksi secara dalam negeri. Namun, bahan baku untuk produk farmasi masih tergantung pada impor. Menurutnya, saat ini sekitar 85 persen bahan baku farmasi yang digunakan berasal dari luar negeri, terutama dari India dan Tiongkok.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Agus menilai bahwa kemampuan industri hilir yang kuat dapat menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada impor. Ia menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam memproduksi bahan baku farmasi dari sumber daya alam lokal. Contohnya adalah tanaman obat dan minyak atsiri yang tersebar di berbagai daerah. Potensi ini bisa menjadi modal penting dalam memperkuat industri farmasi nasional, sehingga tidak hanya bergantung pada pasokan impor.
Salah satu contoh keberhasilan industri dalam negeri adalah tanaman meniran yang telah diekspor ke Inggris. “Ini menunjukkan bahwa industri kita sudah mampu memenuhi standar yang sangat ketat, karena Inggris memiliki regulasi obat yang paling ketat di dunia,” ujar Agus Gumiwang.
Pertumbuhan Industri Kimia, Farmasi, dan Obat Tradisional
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), industri kimia, farmasi, dan obat tradisional mengalami pertumbuhan sebesar 11,65 persen pada kuartal III tahun 2025. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,04 persen pada periode yang sama.
Selain itu, nilai investasi sektor ini mencapai Rp 65,9 triliun dengan nilai ekspor sebesar US$ 15,22 miliar. Sektor ini juga berkontribusi sebesar 17,39 persen terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB) dan menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja.
“Capaian ini menunjukkan bahwa sektor industri manufaktur, termasuk farmasi dan kosmetik, terus menjadi penopang utama perekonomian nasional,” tambahnya.
Prinsip Keberlanjutan dalam Industri Farmasi dan Kosmetik
Agus Gumiwang menekankan pentingnya prinsip keberlanjutan dalam pengembangan industri farmasi dan kosmetik nasional. Ia menyatakan bahwa pendekatan lingkungan harus menjadi bagian dari strategi industri. Hal ini melibatkan efisiensi energi, pemanfaatan bahan baku ramah lingkungan, serta penerapan green chemistry dalam produksi.
Selain itu, industri kosmetik dan obat bahan alam juga akan menerapkan wajib sertifikasi halal pada Oktober 2026. “Prinsip keberlanjutan harus menjadi bagian dari budaya industri kita,” kata Agus Gumiwang.
Langkah-Langkah Menuju Industri yang Lebih Mandiri
Untuk meningkatkan kemandirian industri farmasi, pemerintah dan pelaku usaha perlu bekerja sama dalam mengembangkan bahan baku lokal. Ini termasuk penelitian dan pengembangan terhadap tanaman obat yang ada di Indonesia. Selain itu, diperlukan dukungan infrastruktur dan regulasi yang mendukung pengembangan industri farmasi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain: * Meningkatkan riset dan pengembangan bahan baku farmasi dari sumber daya alam lokal. * Membangun kerjasama antara pemerintah, universitas, dan perusahaan untuk mempercepat inovasi. * Memperkuat sistem sertifikasi dan regulasi agar produk dalam negeri dapat bersaing di pasar global. * Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya produk lokal dan bahan baku alami.
Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan industri farmasi dan kosmetik nasional dapat semakin mandiri dan berkembang secara berkelanjutan.