Merdeka Copper (MDKA) Ungkap Penyebab Kenaikan Harga Saham MBMA

admin.aiotrade 08 Nov 2025 3 menit 19x dilihat
Merdeka Copper (MDKA) Ungkap Penyebab Kenaikan Harga Saham MBMA

Faktor Penyebab Kenaikan Harga Saham MBMA

PT Merdeka Copper Gold (MDKA) mengungkap alasan di balik kenaikan signifikan harga saham anak perusahaannya, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), saat ini saham MBMA diperdagangkan pada level Rp645 per saham. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 104,11% dalam enam bulan terakhir dan naik 40,83% sejak awal tahun.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Tom Malik, General Manager Corporate Communication MDKA, menjelaskan bahwa MBMA sedang memacu produksi tambang di PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) serta pengembangan pabrik di Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP). Ia menyampaikan hal tersebut saat berada di tengah acara Mine Tour & Media Workshop di Banyuwangi, Jawa Timur, pada Jumat (7/11/2025).

Proses Produksi dan Sistem Pengangkutan yang Efisien

Produksi MBMA saat ini sedang meningkat. Salah satu metode yang digunakan adalah pengiriman bijih limonit dari SCM ke IMIP melalui sistem pipa slurry. Bijih limonit merupakan jenis bijih besi yang terdiri dari campuran besi oksida-hidroksida terhidrasi. Biasanya, kadar nikel dalam bijih ini lebih rendah dibandingkan jenis bijih nikel lainnya.

Sistem pipa slurry adalah perpipaan khusus yang dirancang untuk mengangkut campuran cairan dan partikel padat atau slurry dalam jarak jauh. Tom menjelaskan bahwa proses ini melibatkan pembuatan bijih menjadi slurry seperti lumpur, kemudian dipompa melalui pipa. Saat ini, sudah ada satu sistem yang berjalan, dan pada akhir tahun akan ada yang kedua. Di tahun depan, MBMA juga akan membangun satu lagi sistem.

Menurut Tom, meskipun sistem pipa slurry sangat efisien dari sisi biaya pengangkutan, namun memerlukan investasi besar. Selain itu, MBMA juga sedang mengembangkan pabrik HPAL ketiga di IMIP yang dioperasikan oleh PT Sulawesi Nickel Cobalt. Fasilitas ini memiliki kapasitas terpasang 90.000 ton nikel MHP dan akan beroperasi pada pertengahan 2026.

Proyek dan Pertumbuhan Keuangan

Tom menambahkan bahwa proyek-proyek yang sedang berjalan memberikan gambaran bahwa tahun depan akan ada peningkatan pendapatan dari pabrik-pabrik baru ini. Hal ini didukung oleh penggunaan pipa slurry yang memungkinkan pengiriman bijih dengan biaya lebih murah, serta adanya pabrik di IMIP.

Equity Analyst OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, menyatakan bahwa manajemen MBMA menargetkan penjualan bijih nikel mencapai 20 juta wet metric ton (WMT) pada tahun depan. Target ini sejalan dengan dimulainya operasi PT Sulawesi Nickel Cobalt, yang memiliki kapasitas sekitar 90.000 ton. Adapun, Sulawesi Nickel Cobalt diproyeksikan mulai beroperasi pada paruh kedua 2026.

Selain itu, transisi Feed Preparation Plant (FPP) baru di tambang SCM diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya, terutama dari pengurangan biaya transportasi, sehingga keekonomian unit juga meningkat.

Prediksi Margin EBITDA

Devi dalam publikasi riset terbarunya menjelaskan bahwa hal tersebut akan membantu memperkuat margin EBITDA. Ia memprediksi bahwa margin EBITDA akan mencapai 19,1% pada 2026, dibandingkan dengan 9,6% pada 2025.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan