
BLORA, aiotrade–
Beberapa petani tebu di Kabupaten Blora, Jawa Tengah, menyampaikan kekecewaan mereka terhadap berhentinya operasional mesin giling (boiler) milik PT Gendhis Multi Manis (GMM) di Todanan. Kekhawatiran ini disampaikan langsung kepada Direktur Bisnis Perum Bulog, Febby Novita, dalam pertemuan yang digelar di Ruang Paripurna DPRD Blora, Senin (20/10/2025). Acara tersebut juga dihadiri oleh Bupati Blora Arief Rohman, Ketua DPRD Mustopa, Wakil Ketua Lanova Chandra Tirtaka, serta perwakilan APTRI (Asosiasi Petani Tebu Republik Indonesia) Blora.
Salah satu petani dari wilayah Kunduran, Darmadi, mengungkapkan rasa kaget dan terpukul atas berhentinya musim giling di GMM. Ia mengatakan bahwa kekecewaan ini dirasakan secara mendalam karena para petani merasa syok dengan situasi yang terjadi.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Rasa duka kami di saat berhentinya musim giling GMM ini, apalagi kami selaku petani merasa syok. Jujur saja, sejak berhentinya GMM, tegakan kami masih banyak. Dengan turunnya hujan yang kurang bersahabat, apa bisa tertebang?” ujar Darmadi.
Ia berharap pemerintah dan Bulog dapat memberikan solusi konkret agar musim giling bisa kembali berjalan tahun depan. “Walaupun tahun ini kami merasa berduka, kami berharap untuk tahun 2026 GMM bisa buka kembali. GMM adalah aset kami sebagai petani tebu,” tambahnya.
Senada dengan Darmadi, petani dari wilayah Japah, Padiman, menyampaikan kekesalan karena tebu petani masih banyak yang belum digiling. “Harapan kami, GMM bisa membeli tebu para petani yang masih tegakan, lebih dari 500 hektar. Masa sih mesin ujug-ujug bluk (tiba-tiba rusak)?” kata Padiman.
Menurutnya, kerusakan mesin bukan hal baru di pabrik gula milik BUMN tersebut. “Saya sangat kecewa. Banyak petani Blora yang loyal dengan GMM. Dua tahun ini sering rusak. Tahun ini saja sudah 34 hari tidak giling,” ujarnya.
Permintaan Maaf dan Langkah Darurat
Menanggapi keluhan petani, Direktur Operasional PT GMM Blora, Krisna Murtianto, menyampaikan permintaan maaf atas kerusakan mesin boiler. “Kami mohon maaf atas kerusakan mesin GMM. Kami bisa membantu sebatas crane dan jembatan timbang untuk mendukung petani,” jelas Krisna.
Sementara itu, Febby Novita dari Perum Bulog menyatakan akan segera mencari solusi agar hasil panen petani tidak terbuang sia-sia. “Kerusakan mesin ini tidak kami harapkan. Tapi kami akan mencarikan solusi agar tebu tetap bisa terserap. Kami akan bantu dengan crane, truk besar, dan alat timbang supaya bisa dikirim ke pabrik lain terdekat,” jelas Febby.
Febby juga menyebut bahwa meskipun GMM sedang tidak beroperasi, beberapa pabrik gula lain di sekitar Blora masih buka dan siap menyerap tebu petani. “Pasti kami bawa persoalan ini ke Direksi. Dalam waktu dekat, kami akan perbaiki mesinnya. Ini penting karena menyangkut penghidupan para petani,” tutupnya.
Solusi yang Diharapkan
Petani tebu di Blora sangat berharap adanya tindakan nyata dari pihak terkait, baik itu perusahaan maupun pemerintah, agar masalah ini bisa segera terselesaikan. Beberapa langkah yang diharapkan antara lain:
- Pembenahan mesin giling yang rusak agar operasional kembali normal
- Penyediaan sarana pendukung seperti crane dan jembatan timbang untuk memudahkan proses pengiriman tebu
- Kerja sama dengan pabrik gula lain di sekitar Blora agar hasil panen petani tidak terbuang
- Penyusunan rencana jangka panjang untuk menjaga kelangsungan usaha petani tebu
Dengan adanya solusi yang tepat, diharapkan para petani bisa kembali percaya pada sistem produksi tebu yang ada dan tetap bertahan dalam bisnis pertanian ini.