
Meta Dikaitkan dengan Pendapapan dari Iklan Penipuan dan Produk Ilegal
Perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp, Meta Platforms Inc, dikabarkan memperoleh keuntungan besar dari iklan penipuan dan promosi produk ilegal di platformnya. Temuan ini terungkap melalui dokumen internal Meta yang bocor dan pertama kali dilaporkan oleh Reuters.
Menurut laporan tersebut, sekitar 10 persen dari total pendapatan Meta tahun 2024 berasal dari iklan bermasalah, termasuk iklan penipuan (scam ads). Dengan total pendapatan mencapai 164,5 miliar dolar AS (sekitar Rp2.748 triliun), Meta diperkirakan mengantongi 16 miliar dolar AS atau sekitar Rp267,3 triliun dari iklan bermasalah.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pengiklan "Berisiko Tinggi" Jadi Sumber Pemasukan
Reuters mengungkap bahwa sebagian besar iklan tersebut berasal dari pengiklan yang sudah teridentifikasi sebagai “berisiko tinggi”. Namun, alih-alih memblokir mereka sepenuhnya, Meta justru menerapkan tarif iklan yang lebih tinggi kepada para pengiklan tersebut. Langkah ini disebut Meta sebagai “strategi pencegahan”, dengan tujuan agar pengiklan nakal enggan memasang iklan. Namun, kebijakan tersebut juga secara tidak langsung membuat Meta tetap mendapat keuntungan besar dari aktivitas iklan bermasalah.
Sistem algoritma personalisasi di Facebook dan Instagram memperparah situasi. Pengguna yang pernah berinteraksi dengan iklan scam cenderung lebih sering disodori iklan serupa, karena sistem secara otomatis menampilkan konten sesuai minat mereka. Dalam dokumen bertanggal Desember 2024, Meta memperkirakan ada 15 miliar iklan berisiko tinggi yang ditampilkan setiap harinya di Facebook, Instagram, dan WhatsApp.
Selama tiga tahun terakhir, Meta disebut gagal membendung banjirnya iklan investasi palsu, e-commerce fiktif, kasino ilegal, dan penjualan obat terlarang. Mantan penyelidik keamanan Meta, Sandeep Abraham, menilai praktik tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan perusahaan. “Jika regulator tidak akan membiarkan bank mendapatkan keuntungan dari aktivitas penipuan, mereka juga tidak boleh membiarkan hal ini terjadi di sektor teknologi,” ujarnya kepada Reuters.
Meta Membantah Tuduhan
Menanggapi laporan tersebut, Andy Stone, juru bicara Meta, membantah tuduhan bahwa perusahaan sengaja meraup keuntungan dari iklan penipuan. Ia menyebut angka 10 persen yang tercantum dalam dokumen itu sebagai “perkiraan kasar dengan cakupan yang terlalu luas.” Menurut Stone, analisis internal tersebut dilakukan untuk menilai efektivitas sistem keamanan iklan Meta, bukan menunjukkan ketergantungan pada iklan penipuan.
“Banyak dari iklan yang disebut dalam laporan itu sebenarnya bukan pelanggaran, melainkan iklan sah,” kata Stone, dikutip dari Reuters. Ia menegaskan bahwa Meta telah melakukan langkah signifikan untuk mengurangi penyebaran iklan penipuan. “Dalam 18 bulan terakhir, laporan pengguna terkait scam ads turun 58 persen secara global, dan sepanjang 2025 kami telah menghapus lebih dari 134 juta konten iklan penipuan,” ujar Stone.
Dalam salah satu dokumen internal 2024, Meta juga menyebut tengah menargetkan penurunan jumlah iklan scam hingga 50 persen di beberapa negara pada 2025.