Meta Diduga Raup Rp 50 T dari Sindikat Iklan Penipuan Tiongkok

admin.aiotrade 17 Des 2025 3 menit 15x dilihat
Meta Diduga Raup Rp 50 T dari Sindikat Iklan Penipuan Tiongkok


Meta diduga menghasilkan keuntungan yang sangat besar, sekitar Rp 300,3 triliun atau lebih dari sepertiga pendapatan global perusahaan dari pelanggan iklannya yang berasal dari Tiongkok pada tahun 2024. Namun, di balik angka besar tersebut, sebagian besar dana tersebut berasal dari aktivitas penipuan yang dilakukan oleh pelanggan Meta terhadap pengguna Facebook, Instagram, dan WhatsApp di seluruh dunia.

Meski pemerintah Tiongkok melarang warganya sendiri menggunakan media sosial Meta, Beijing membiarkan perusahaan-perusahaan Tiongkok beriklan secara agresif kepada konsumen asing. Menurut dokumen internal, sebanyak 19% dari pendapatan iklan Tiongkok, sekitar Rp 50 triliun, berasal dari iklan penipuan (scam), perjudian ilegal, pornografi, dan konten terlarang lainnya.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Sistem periklanan Meta sendiri menjadi salah satu faktor yang memfasilitasi tingginya angka penipuan ini. Di Tiongkok, Meta bekerja melalui 11 mitra agensi besar (reseller tingkat atas). Laporan menunjukkan bahwa Meta memberikan perlindungan khusus kepada mitra-mitra ini, termasuk mekanisme "whitelisting" atau "pencegahan kesalahan".

Artinya, ketika sistem otomatis mendeteksi adanya pelanggaran aturan, iklan tersebut tidak langsung dihapus. Iklan tetap tayang sambil menunggu tinjauan manual yang bisa memakan waktu beberapa hari. Dalam dokumen internal disebutkan bahwa waktu tambahan ini cukup bagi penipu untuk mencapai tujuan mereka dengan mendapatkan tayangan yang masif.

Kasus Beijing Tengze Technology Co Ltd menjadi contoh nyata dari kekacauan sistem verifikasi Meta. Perusahaan ini masuk dalam daftar "200 pengiklan teratas" Meta di seluruh dunia, sejajar dengan merek global seperti BMW dan Chanel. Namun, dokumen internal menunjukkan bahwa lebih dari separuh iklan perusahaan ini melanggar aturan terkait penipuan.

Saat ditelusuri alamat kantor Beijing Tengze, lokasi yang terdaftar ternyata hanya berupa jalanan perumahan di kota pegunungan terpencil, dan kantor fisiknya tidak pernah ada. Alih-alih memutus hubungan saat pelanggaran terdeteksi, Meta awalnya hanya membebankan biaya iklan lebih mahal sebagai "penalti".

Selain itu, laporan dari konsultan eksternal Propellerfish yang disewa Meta menyimpulkan bahwa "perilaku dan kebijakan Meta sendiri" menyuburkan praktik sistemik ini. Laporan tersebut menyebut adanya industri "spesialis optimalisasi iklan" di Tiongkok yang didanai rentenir untuk mengeksploitasi celah sistem Meta. Karena korbannya berada di luar negeri, pemerintah Tiongkok umumnya "tutup mata".


Intervensi CEO dan dampak pendapatan
Staf internal Meta sebenarnya telah menyadari bahaya ini. Dalam presentasi internal April 2024, staf Meta menulis, "Kita perlu melakukan investasi signifikan untuk mengurangi bahaya yang semakin besar." Pernyataan ini muncul setelah laporan Reuters mengungkap kekhawatiran terkait penipuan iklan.

Meta membentuk tim anti-penipuan khusus yang berhasil menekan angka iklan bermasalah dari 19% menjadi 9% pada paruh kedua 2024. Namun, upaya ini terhenti setelah CEO Meta, Mark Zuckerberg, turun tangan. Catatan dokumen akhir tahun 2024 menyebutkan bahwa sebagai hasil dari "pivot Strategi Integritas dan tindak lanjut dari Zuck," tim penegakan iklan China diminta menghentikan sementara pekerjaan mereka dan akhirnya dibubarkan.

Meta juga mencabut pembekuan akses bagi agensi iklan China baru demi "membuka kunci" pendapatan. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan finansial yang kuat. Dalam satu kasus di Mei 2025, staf menemukan 800 akun iklan yang menghasilkan Rp 467,2 miliar dari iklan terlarang (senjata, seks, judi). Namun, manajemen menolak menghukum mitra besar yang mengendalikan akun tersebut karena "dampak pendapatannya terlalu tinggi."

Akibatnya, gelombang baru agensi periklanan China kembali membanjiri platform. Pada pertengahan 2025, rasio iklan terlarang kembali naik ke angka 16%.

Menanggapi laporan ini, juru bicara Meta, Andy Stone, membantah bahwa Zuckerberg telah memerintahkan pembubaran tim secara permanen. Ia mengeklaim perintah Zuckerberg adalah untuk "melipat-gandakan upaya mengurangi bahaya di seluruh dunia, termasuk di Tiongkok." Stone juga menyatakan bahwa sistem otomatis Meta telah memblokir atau menghapus 46 juta iklan dari mitra Tiongkok selama 18 bulan terakhir, sering kali sebelum iklan tersebut dilihat pengguna. Meta mengeklaim terus bekerja sama dengan penegak hukum untuk menindak jaringan penipuan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan