Kiprah Seniman Perempuan dalam Mengubah Sampah Plastik Menjadi Karya Seni
Di tangan dua seniman jebolan ISI Yogyakarta, sampah plastik bisa bertransformasi menjadi material seni yang menarik dan bernilai. Proyek ini dimulai dari keinginan Ayu (46) dan Mutia (30) untuk menciptakan karya 3D tanpa memakan banyak biaya.
Pada tahun 2016, proyek ini diawali saat Mutia masih menuntut ilmu di ISI Yogyakarta jurusan Seni Rupa. Sementara Ayu, yang juga lulusan ISI Yogyakarta jurusan Seni Lukis, sudah lebih dulu mengembangkan kariernya sebagai seniman.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Awalnya muncul dari ide Mba Ayu, beliau ingin membuat karya seni yang tidak hanya terbatas pada lukisan atau bentuk 2 dimensi,” ujar Mutia saat diwawancarai Tribun Jogja.
Mutia memiliki prinsip agar biaya proyek pribadi bersama Ayu tidak melebihi anggaran untuk keperluan kuliahnya saat itu. Melalui proses brainstorming yang cukup panjang, mereka akhirnya memutuskan untuk bereksperimen dengan kumpulan plastik bekas.
“Tidak naif, waktu itu melihat plastik-plastik bekas kok warnanya lucu-lucu ya, sesederhana itu dan belum ada embel-embel lingkungan,” cerita Mutia tentang awal dari ide ini.

Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan plastik ini memungkinkan TacTic mencapai kondisi zero waste dengan modal yang minim. Dalam tiga tahun pertama, mereka fokus untuk mengeksplorasi material plastik tersebut. Seiring berkembangnya komunitas dan kolaborasi proyek, Mutia mengaku perlu mempelajari isu-isu terkait plastik dan sampah.
“Kami yang terlibat di TacTic ini juga jadinya harus dibekali ilmu tentang material yang dipakai dan sedikit-sedikit juga (ilmu) tentang sampah,” katanya.
Mereka mulai terbuka dengan isu ekologi dan keprihatinan semakin dalam saat mempelajari bahwa limbah plastik menyebabkan kerusakan ekologi baik di darat maupun di laut.
Bergabungnya Lily Elserisa pada tahun 2019 mengajak TacTic untuk menegaskan kembali posisi komunitas ini. “Ini arahnya mau kemana, material kita udah pakai sampah plastik dan kita juga perempuan semua,” ucap Mutia menirukan ajakan Lily.
Semenjak itu, TacTic Plastic yang berbasis di Bantul, DIY ini mulai menegaskan keberadaannya sebagai kelompok seniman perempuan yang fokus mengangkat isu ekologi sekaligus eko-feminisme lewat karya mereka.
Menggerakkan Ekonomi Sirkular
Untuk kebutuhan material dalam jumlah besar, TacTic seringkali mendapat bahan dari salah satu bank sampah di daerah Kotagede, Yogyakarta. “Yang masuk ke kami berupa lembaran plastik yang sudah di press, dan selanjutnya kami tinggal eksekusi bentuk karyanya,” tutur Mutia.
Ia menjelaskan bahwa para pengelola di bank sampah tersebut sangat antusias karena lewat kerjasama seperti ini, pemanfaatan limbah benar-benar memberi penghasilan. “Kalau kami belinya material mentah (plastik belum di press) itu dihargai sekitar 300 perak per-kilogramnya, sementara kalau sudah dipress itu bisa dihargai enam kali lipat.”
Menurut Mutia, melalui kerjasama dengan komunitas grassroot ini diharapkan dapat memberi pemasukan setidaknya untuk kas dan modal untuk kegiatan komunitas tersebut.
TacTic Plastic lewat aktivitas Play with Waste juga aktif memberi pelatihan sekaligus edukasi tentang pemanfaatan limbah plastik kresek. Hal yang diamati oleh Mutia dan kawan-kawan TacTic yaitu, kerap kali daur ulang plastik bekas di bank sampah maupun sekolah-sekolah sebatas membuat kerajinan hiasan seperti bunga-bunga plastik yang sulit untuk dijual kembali.
Padahal, menurut Mutia, sampah plastik kresek yang ada disekitar itu bisa bernilai jauh lebih tinggi jika tahu cara mendaur ulangnya.

Fokus dari pelatihan yang TacTic adakan yaitu mengajarkan cara sederhana daur ulang limbah plastik kresek untuk menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi, seperti buku jurnal gantungan kunci, dan upcycle karya 2D.
“Paling banyak mendaftar itu workshop bikin buku Jurnal,” ucap Mutia. Ia juga menambahkan bahwa banyak peserta workshop yang akhirnya membuat ulang buku jurnal untuk diperjual belikan.
Mutia mengaku tidak memberi batasan seperti harus melapor soal ide yang dipakai kembali. TacTic Plastic tidak menganggap para individu yang memakai ide mereka dan memperjual-belikan hasilnya sebagai kompetitor, melainkan kolaborator.
“Jadi kami semacam bentuk community based yang tujuannya untuk edukasi dan menggerakan lebih banyak orang saja.” Justru, menurut Mutia, semakin banyak orang yang bisa mendaur ulang sampah plastik bahkan menjadikannya sebagai sumber pendapatan adalah hal yang baik dan sejalan dengan misi TacTic Plastic.