Metamorfosis Sampah Plastik Karya Seniman ISI Yogyakarta

admin.aiotrade 24 Okt 2025 4 menit 26x dilihat
Metamorfosis Sampah Plastik Karya Seniman ISI Yogyakarta

Inovasi Seni dari Sampah Plastik

Di tangan dua seniman yang berasal dari ISI Yogyakarta, sampah plastik bisa bertransformasi menjadi karya seni yang menarik. Proyek ini dimulai dari keinginan Ayu (46) dan Mutia (30) untuk menciptakan karya 3D dengan biaya yang tidak terlalu besar.

Proyek ini dimulai pada tahun 2016 saat Mutia masih menempuh pendidikan di jurusan Seni Rupa di ISI Yogyakarta. Sementara itu, Ayu yang juga lulusan ISI Yogyakarta, jurusan Seni Lukis, sudah lebih dulu aktif sebagai seniman.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

“Awalnya ide ini muncul dari Mba Ayu, dia ingin membuat karya seni yang bukan hanya berbentuk lukisan atau 2 dimensi,” ujar Mutia saat diwawancarai Tribun Jogja.

Mutia memutuskan agar biaya proyek bersama Ayu tidak melebihi anggaran untuk keperluan kuliahnya saat itu. Setelah melalui proses brainstorming yang cukup panjang, mereka akhirnya memutuskan untuk bereksperimen dengan plastik bekas.

“Tidak naif, waktu itu melihat plastik-plastik bekas kok warnanya lucu-lucu ya, sesederhana itu dan belum ada embel-embel lingkungan,” cerita Mutia tentang awal dari ide ini.

Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan plastik ini memungkinkan TacTic mencapai kondisi zero waste dengan modal yang minim. Dalam tiga tahun pertama, grup ini fokus pada eksplorasi material plastik tersebut.

Seiring berkembangnya komunitas dan kolaborasi proyek yang dikerjakan, Mutia mengaku perlu mempelajari isu-isu terkait plastik dan sampah. “Kami yang terlibat di TacTic ini juga jadinya harus dibekali ilmu tentang material yang dipakai dan sedikit-sedikit juga (ilmu) tentang sampah.”

Mereka mulai terbuka dengan isu ekologi dan semakin prihatin saat mempelajari dampak limbah plastik terhadap ekologi darat maupun laut.

Bergabungnya Lily Elserisa pada tahun 2019 membawa TacTic untuk menegaskan posisi komunitas ini. “Ini arahnya mau kemana, material kita udah pakai sampah plastik dan kita juga perempuan semua,” ucap Mutia menirukan ajakan Lily.

Semenjak itu, TacTic Plastic yang berbasis di Bantul, DIY ini mulai menegaskan keberadaannya sebagai kelompok seniman perempuan yang fokus mengangkat isu ekologi sekaligus eko-feminisme lewat karya mereka.

Menggerakan Ekonomi Sirkular

Untuk kebutuhan material dalam jumlah besar, TacTic sering kali mendapat bahan dari salah satu bank sampah di daerah Kotagede, Yogyakarta. “Yang masuk ke kami berupa lembaran plastik yang sudah di press, dan selanjutnya kami tinggal eksekusi bentuk karyanya,” tutur Mutia.

Ia menjelaskan bahwa para pengelola di bank sampah tersebut sangat antusias karena lewat kerjasama seperti ini, pemanfaatan limbah benar-benar memberi penghasilan. “Kalau kami belinya material mentah (plastik belum di press) itu dihargai sekitar 300 perak per-kilogramnya, sementara kalau sudah dipress itu bisa dihargai enam kali lipat.”

Menurut Mutia, melalui kerjasama dengan komunitas grassroot ini diharapkan dapat memberi pemasukan setidaknya untuk kas dan modal untuk kegiatan komunitas tersebut.

TacTic Plastic lewat aktivitas Play with Waste juga aktif memberi pelatihan sekaligus edukasi tentang pemanfaatan limbah plastik kresek. Hal yang diamati Mutia dan kawan-kawan TacTic yaitu, kerap kali daur ulang plastik bekas di bank sampah maupun sekolah-sekolah sebatas membuat kerajinan hiasan seperti bunga-bunga plastik yang sulit untuk dijual kembali.

Padahal, menurut Mutia, sampah plastik kresek yang ada disekitar itu bisa bernilai jauh lebih tinggi jika tahu cara mendaur ulangnya.

Fokus dari pelatihan yang TacTic adakan yaitu mengajarkan cara sederhana daur ulang limbah plastik kresek untuk menghasilkan produk yang bernilai jual tinggi, seperti buku jurnal gantungan kunci, dan upcycle karya 2D.

“Paling banyak mendaftar itu workshop bikin buku Jurnal,” ucap Mutia. Ia juga menambahkan bahwa banyak peserta workshop yang akhirnya membuat ulang buku jurnal untuk diperjual belikan.

Mutia mengaku tidak memberi batasan seperti harus melapor soal ide yang dipakai kembali. TacTic Plastic tidak menganggap para individu yang memakai ide mereka dan memperjual-belikan hasilnya sebagai kompetitor, melainkan kolaborator.

“Jadi kami semacam bentuk community based yang tujuannya untuk edukasi dan menggerakan lebih banyak orang saja.” Justru, menurut Mutia, semakin banyak orang yang bisa mendaur ulang sampah plastik bahkan menjadikannya sebagai sumber pendapatan adalah hal yang baik dan sejalan dengan misi TacTic Plastic.

Bagikan Artikel:
admin.aiotrade
admin.aiotrade

Penulis di Website. Berfokus pada penyajian informasi yang akurat, terpercaya, dan analisis mendalam seputar teknologi finansial.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan