Kekhawatiran terhadap Persediaan Rudal AS
Pentagon disebut telah menggunakan hampir separuh persediaan rudal-rudal paling mahalnya. Butuh waktu hingga empat tahun untuk membangun kembali stok tersebut. AS diduga telah menghabiskan persediaan tujuh jenis rudal utama, yang memunculkan kekhawatiran akan risiko jangka pendek kehabisan amunisi untuk perang di masa depan.
Menurut analisis yang diterbitkan oleh Pusat Studi Strategis dan Internasional (CSIS), AS telah menggunakan setidaknya 45 persen persediaan Rudal Serangan Presisi (Precision Strike Missiles), 50 persen persediaan pencegat Pertahanan Area Ketinggian Tinggi Terminal (THAAD), serta hampir separuh persediaan rudal pencegat balistik Patriot, semuanya dalam tujuh minggu pertama perang dengan Iran.

Potret peluncuran rudal High Mobility Artillery Rocket Systems (HIMARS) untuk menyerang Iran yang dilansir CENTCOM AS. Peluncuran itu dari wilayah yang diduga di salah satu negara Teluk. - (X/CENTCOM)
Meski AS dinilai masih memiliki cukup rudal untuk melanjutkan perang dengan Iran tanpa batasan, terdapat peningkatan risiko militer AS tidak cukup siap menghadapi perang di masa depan di kawasan Pasifik. Hal itu tertuang dalam laporan yang ditulis Mark Cancian, pensiunan kolonel Korps Marinir AS, dan peneliti CSIS Chris Park.
Sebelum konflik dengan Iran, persediaan amunisi disebut sudah menipis. CSIS memperkirakan kini diperlukan waktu satu hingga empat tahun untuk mengisi kembali tujuh jenis amunisi utama ke tingkat sebelum perang. Berkurangnya persediaan amunisi telah menciptakan risiko jangka pendek. Perang melawan pesaing setara seperti China akan menghabiskan amunisi dengan laju yang lebih besar dibandingkan perang ini, demikian isi laporan tersebut.
Pengeluaran Pertahanan Membengkak
Pentagon menyatakan, dalam dua bulan terakhir AS telah menjalin kesepakatan dengan perusahaan pertahanan untuk memperkuat stok amunisi, termasuk Honeywell Aerospace. Mereka akan meningkatkan produksi komponen penting setelah investasi multiyears senilai 500 juta dolar AS.
Presiden Donald Trump telah meminta anggaran pertahanan sebesar 1,5 triliun dolar AS untuk tahun fiskal 2027, yang disebut Pentagon sebagai lonjakan pengeluaran pertahanan tahunan terbesar sejak Perang Dunia II.

presiden Amerika Serikat Donald Trump di Gedung Putih, Washington. - (EPA/Allison Robbert)
Menggunakan data laporan CSIS, Fortune menghitung AS sejauh ini telah menghabiskan sekitar 24 miliar dolar AS untuk tujuh amunisi utama yang digunakan. Meski, biaya perang Iran diproyeksikan jauh melebihi angka tersebut.
Pakar kebijakan publik dan dosen Harvard Kennedy School Linda Bilmes mengatakan biaya perang kemungkinan melebihi 1 triliun dolar AS karena pemerintah kerap meremehkan biaya jangka pendek kerusakan infrastruktur serta biaya jangka panjang, seperti tunjangan cacat seumur hidup bagi veteran.
Data dari analisis itu bertentangan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang pada awal konflik menyebut persediaan amunisi kelas menengah dan menengah atas tidak pernah sebanyak atau sebaik ini. Ia juga menyebut AS punya pasokan hampir tak terbatas.
Juru Bicara Utama Pentagon Sean Parnell mengatakan kepada Fortune militer memiliki semua yang dibutuhkan untuk menjalankan tugas pada waktu dan tempat yang dipilih presiden.
Kekhawatiran Soal Biaya Amunisi
Yang menjadi perhatian para ahli seperti Bilmes adalah pengeluaran AS yang tidak proporsional dibandingkan Iran. Menurut Reuters, setiap drone Shahed buatan Iran berbiaya produksi antara 20 ribu hingga 50 ribu dolar AS. Sementara itu, pencegat Patriot yang digunakan untuk menembak jatuh drone atau ancaman udara lain dapat berharga sekitar 4 juta dolar AS.
Tidak hanya biayanya tinggi, tetapi kita juga menghadapi situasi yang tidak seimbang karena biaya jauh lebih tinggi dibandingkan biaya produksi drone, kata Bilmes kepada Fortune.

Rudal Patriot - (REUTERS)
Rudal Patriot saat ini sangat diminati. Sebanyak 18 negara lain menggunakannya selain AS, yang juga telah mengirimkan 600 rudal tersebut kepada Ukraina dan sekutu lainnya selama perang.
Meski Lockheed Martin memperkirakan produksi PAC-3 MSE meningkat menjadi 2.000 unit per tahun pada 2030, analis CSIS menilai AS harus lebih bijak mengalokasikan stok rudal yang ada. Menurut CSIS, Pentagon juga memiliki rudal udara-ke-udara alternatif, termasuk AIM-120, tetapi harganya tetap mahal, yakni sekitar 1 juta dolar AS per unit.
Keterbatasan sumber daya ini membuat sebagian pejabat AS khawatir mengenai kemampuan negara itu memasok amunisi bagi kepentingannya sendiri.