
Fenomena Awan Debu yang Tidak Simetris di Bulan
Bulan Bumi dikelilingi oleh awan debu yang memiliki bentuk tidak simetris, selalu miring ke sisi yang menghadap Matahari. Selama bertahun-tahun, fenomena ini menjadi teka-teki yang sulit dipecahkan. Namun, sebuah studi terbaru mungkin telah memberikan penjelasan tentang keberadaan awan debu asimetris ini.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Para ilmuwan menduga bahwa perubahan suhu ekstrem di permukaan Bulan adalah penyebab utamanya. Sebagian besar permukaan Bulan ditutupi oleh lapisan debu abu-abu dan batuan lepas yang disebut regolit. Lapisan ini terbentuk karena permukaan Bulan terus-menerus terkena dampak mikrometeoroid—batuan antariksa kecil yang berasal dari komet dan tabrakan asteroid.
Tanpa atmosfer pelindung seperti Bumi, Bulan terus-menerus diserang oleh beberapa ton mikrometeoroid setiap hari. Akibatnya, batuan regolit "digiling" menjadi debu. Dampak dari serangan ini menciptakan awan masif yang membentang ratusan mil di atas permukaan Bulan.
Awan Debu yang Miring di Sisi Siang
Pada tahun 2015, para peneliti menemukan bahwa debu Bulan yang terangkat ini menciptakan awan yang sangat luas. Meskipun tidak tebal dan tidak terlihat oleh mata telanjang, kepadatan awan tersebut sangat rendah. Sébastien Verkercke, seorang peneliti pascadoktoral dari Centre National D'Etudes Spatiales (agensi antariksa nasional Prancis) dan penulis pertama studi baru, menjelaskan kepadatan awan tersebut.
“Kepadatan maksimum yang diukur hanya 0,004 partikel per meter kubik (setara dengan 4 butir debu dalam silo biji-bijian),” kata Verkercke. Namun, yang membuat awan ini tidak biasa adalah sifatnya yang asimetris, dengan lebih banyak debu hadir di sisi siang Bulan (sisi yang menghadap Matahari pada saat tertentu) daripada sisi malam.
“Bahkan, awan tersebut paling padat dekat permukaan di dekat terminator fajar,” tambah Verkercke. Sebelumnya, penemu awan tersebut menduga kemiringan ini disebabkan oleh kelompok meteoroid spesifik dengan lintasan yang lebih sering menghantam permukaan sisi siang. Akan tetapi, Verkercke dan rekan-rekannya menyoroti perbedaan yang paling mencolok: perubahan suhu yang masif.
Simulasi Komputer dan Efek Bantalan
Permukaan Bulan seringkali mendidih di siang hari, dengan suhu melonjak jauh di atas tempat terpanas di Bumi. Sebaliknya, malam di Bulan, empat kali lebih dingin daripada suhu rata-rata Antartika. Perubahan suhu hingga 285 derajat Celsius ini mendorong Verkercke dan rekan penulisnya untuk menguji hipotesis bahwa perbedaan suhu inilah yang bertanggung jawab atas bentuk miring awan debu.
Mereka menguji hipotesis ini menggunakan model komputer. Tim mensimulasikan mikrometeoroid—selebar rambut manusia—menghantam debu Bulan pada dua suhu ekstrem yang mewakili siang dan malam Bulan. Hasilnya, mereka menemukan bahwa mikrometeoroid yang menghantam permukaan yang "lebih halus" (fluffier) membuang jumlah debu yang lebih sedikit karena kehalusan permukaan tersebut meredam benturan.
Sebaliknya, mikrometeoroid yang menghantam permukaan yang lebih padat menghasilkan partikel debu kecepatan rendah dalam jumlah yang lebih besar. Perbedaan ini mengisyaratkan bahwa awan debu dapat menjadi penanda seberapa padat permukaan Bulan. Lebih lanjut, meteoroid sisi siang mengangkat debu 6-8 persen lebih banyak daripada sisi malam.
Selain itu, sebagian besar partikel debu pada suhu tinggi memiliki energi yang cukup untuk mencapai ketinggian satelit pengorbit. Kombinasi jumlah debu yang terangkat lebih banyak dan fraksi debu yang mencapai satelit lebih besar inilah yang menjelaskan kelebihan debu di sisi siang.
Studi yang Menjadi Dasar Penelitian Lanjutan
Studi yang diterbitkan pada 15 Oktober di Journal of Geophysical Research: Planets ini membuka jalan untuk penelitian lebih lanjut. Tim berencana memperluas analisis mereka ke objek lain di Tata Surya yang juga dihantam mikrometeoroid. Verkercke menyebut Merkurius sebagai kasus yang sangat menarik, karena memiliki perbedaan suhu siang-malam yang jauh lebih besar daripada Bulan.