Misteri Kematian Timothy di Lantai 4, Polisi Belum Temukan Bukti Bullying

admin.aiotrade 25 Okt 2025 6 menit 12x dilihat
Misteri Kematian Timothy di Lantai 4, Polisi Belum Temukan Bukti Bullying
Misteri Kematian Timothy di Lantai 4, Polisi Belum Temukan Bukti Bullying

Penyelidikan Kematian Mahasiswa Unud Belum Temukan Bukti Bullying

Kepolisian Daerah (Polda) Bali hingga kini belum menemukan bukti kuat yang mengarah pada dugaan adanya tindakan perundungan (bullying) sebagai penyebab utama kematian mahasiswa Universitas Udayana (Unud) Timothy Anugerah Saputra (22), yang melompat dari lantai 4 gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unud di Jl PB Sudirman, Denpasar. Hal ini disampaikan oleh Kabid Humas Polda Bali Kombes Pol Ariasandy di Denpasar, Jumat 24 Oktober 2025, terkait perkembangan terbaru kasus kematian Timothy.

Menurut Kombes Pol Ariasandy, dari pemeriksaan terhadap puluhan saksi, tidak ada yang mengindikasikan adanya tekanan atau perundungan yang dialami korban sebelum meninggal dunia pada Rabu pagi, 15 Oktober 2025. "Kami tegaskan, dari 21 saksi yang sudah diperiksa, belum ditemukan adanya indikasi bullying yang menjadi penyebab korban melompat dari lantai empat," ujar Kombes Pol Ariasandy.

AioTrade Autopilot
πŸ”₯ SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pejabat Polda Bali asal Makassar, Sulawesi Selatan, ini menjelaskan fokus utama penyelidikan adalah mencari tahu penyebab jatuhnya mahasiswa FISIP Unud tersebut. "Kami cari tahu penyebab yang bersangkutan melompat dari lantai 4, apakah dia bunuh diri, kecelakaan kah, itu yang kami telusuri oleh teman-teman penyidik," katanya.

Saksi yang diperiksa meliputi semua pihak yang mengetahui langsung peristiwa, termasuk orang terdekat, teman satu kelas, dosen, sahabat, hingga orang yang berada di lokasi sesaat setelah kejadian. Meskipun dugaan bullying santer beredar di publik, Ariasandy menegaskan dari 21 orang yang diperiksa sampai saat ini masih belum ditemukan adanya indikasi bullying sebelum Timothy meninggal.

"Ini masih berjalan. Kami bekerja secara profesional berdasarkan investigasi dan bukti saintifik," ujar dia. Kabid Humas Polda Bali mengimbau masyarakat untuk memberikan informasi yang valid jika memiliki bukti kuat terkait dugaan bullying. Polisi memastikan akan menindaklanjuti semua laporan dan bekerja secara profesional untuk mengungkap misteri di balik peristiwa tragis tersebut.

"Silakan, polisi akan bekerja kalau memang ada bukti-bukti yang mengarah ke sana segera diinformasikan ke kami, supaya kami cepat bongkar kasus ini, sehingga tahu persis apa penyebabnya tidak simpang siur di luaran," imbaunya.

Kombes Pol Sandy juga mengungkapkan proses penyelidikan di tahap awal sempat menemui beberapa kendala. Salah satu hambatan signifikan adalah minimnya laporan awal dari keluarga. Ibu korban tidak mau diperiksa. Sang ibu dari awal telah membuat surat pernyataan tidak mempersoalkan kasus kematian tragis anaknya ini. Pihak kepolisian bahkan telah mendatangi ibu korban namun permintaan pemeriksaan tidak disetujui.

"Awalnya, orangtua korban sempat memilih tidak membuat laporan polisi dan hanya menyerahkan surat pernyataan lantaran mempertimbangkan kondisi internal keluarga," beber Ariasandy.

Selain itu, sahabat dekat korban, yang diyakini memiliki informasi kunci mengenai kondisi psikologis dan persoalan pribadi Timothy, sempat menolak memberikan keterangan karena masih dalam kondisi syok. "Waktu tanggal 15 (Oktober), penyidik sudah berupaya secara persuasif untuk menggali informasi, tetapi yang bersangkutan belum sanggup memberi keterangan karena masih dalam kondisi syok," jelasnya.

Kendala penyelidikan mulai terurai setelah laporan resmi dari ayah Timothy, Lukas Triana Putra, diterima pada 20 Oktober. Setelah laporan ini, penyidik kembali memanggil sejumlah saksi dan melakukan pemeriksaan tambahan. Langkah penting terbaru yang dilakukan penyidik adalah pendalaman isi ponsel dan laptop milik Timothy untuk mendalami motifnya melompat dari lantai 4.

"Pada awalnya, handphone korban diamankan belum bisa kami periksa. Namun, setelah ada laporan polisi, keluarga menyerahkan ponsel itu, dan saat ini kami sedang mendalami isinya untuk mencari petunjuk lain terkait motif bunuh diri," kata mantan Kabid Humas Polda NTT ini.

Perhatian Menteri HAM

Kasus kematian Timothy mendapat perhatian Menteri HAM Natalius Pigai. Ia mendatangi kampus Unud di Jl Sudirman dan menemui Rektor Prof. I Ketut Sudarsana dan jajarannya pada Jumat siang, 24 Oktober 2025. Pertemuan Menteri Natalius Pigai dengan Rektor Unud dan jajarannya ini berlangsung secara tertutup di lantai 4 gedung Pascasarjana Unud. Usai pertemuan tertutup itu, mereka memberikan keterangan kepada awak media.

"Saya sudah bertemu dengan pihak Kampus Universitas Udayana. Kami juga sudah melakukan pertemuan dengan berbagai komunitas termasuk aparat kepolisian. Dan saya harus menyampaikan bahwa ada dua peristiwa," ujar Menteri Natalius Pigai. "Peristiwa yang pertama adalah terkait dengan kematian almarhum Timothy. Peristiwa yang kedua adalah terkait dengan tindakan-tindakan nir-empati dan nir-simpati," sambungnya.

Menurutnya di antara kedua peristiwa ini apakah ada hubungan atau tidak ada hubungan? Hanya satu, kepolisian yang akan menentukan. "Jadi semua apapun yang terjadi, yang bisa menghubungkan ada hubungan atau tidak ada hubungan adalah kepolisian," imbuhnya.

Pihak kepolisian sudah melakukan tindakan-tindakan penyelidikan secara konvensional, melakukan pendalaman, meminta keterangan saksi-saksi, mengumpulkan bukti-bukti CCTV dan berbagai hal lainnya. Untuk mengungkap fakta dibalik apa penyebab almarhum Timothy bunuh diri, saat ini pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan dengan metode scientific investigation.

"Kepolisian sedang melakukan scientific investigation, jadi memeriksa handphone, nomor komunikasi terakhir. Kemudian termasuk juga memeriksa alat-alat komunikasi yang terkoneksi yang bisa menunjukkan bukti petunjuk atau juga bisa menemukan fakta. Setelah hasil itu, maka kepolisian akan menyampaikan apakah ada hubungan antara peristiwa kematian almarhum Timothy dengan tindakan-tindakan nirempati," paparnya.

Menteri HAM Natalius Pigai mengatakan peristiwa bullying atau perundungan terhadap almarhum Timothy terjadi setelah meninggal, belum ada temuan perundungan dilakukan sebelum almarhum Timothy meninggal. "Pasca kejadian (perundungan setelah Timothy meninggal). Tidak ada (bullying sebelum Timothy meninggal). Itu nanti polisi yang menyampaikan (bullying sebelum atau sesudah meninggal) kalau hal-hal detail itu ada yang berhak menyampaikan itu dari kepolisian. Ada yang bisa kita sampaikan ada yang tidak," ungkapnya.

Satgas Kumpulkan Data

Rektor Unud Prof. Ketut Sudarsana menyampaikan apresiasinya kepada pemerintah pusat atas perhatian dan simpati terhadap kasus meninggalnya Timothy. "Kami dari Universitas Udayana sangat berterima kasih sekali kepada pemerintah pusat atas perhatian dan juga simpati yang sudah diberikan sehingga Pak Menteri HAM juga berkenaan hadir untuk kita diskusi dan memberikan pencerahan dan pengarahan kepada kita semua," ujarnya.

Ia menyampaikan bahwa semua data terkait dengan kejadian ini sudah dirilis juga oleh tim komunikasi publik Unud. Semua tim sedang berproses untuk ke depannya. "Satgas sampai saat ini masih dalam pendampingan mengumpulkan data," ucapnya singkat tanpa memberikan keterangan lebih lanjut kepada awak media.

Pemerintah Sampaikan Belasungkawa

Menteri Ham Natalius Pigai, menyatakan kedatangannya ke Kampus Unud karena pemerintah hadir mendengarkan semua dinamika kehidupan di masyarakat. Pemerintah merasa ikut berempati, simpati, dan bekerja. "Karena tugas pemerintah itu adalah memastikan agar ada rasa keadilan bagi seluruh tumpah darah Indonesia. Kemudian saya memutuskan untuk ke Kampus Udayana untuk mengecek peristiwa terkait dengan kematian almarhum Timothy," jelasnya saat ditemui di Kampus Unud, Jl Sudirman, Jumat 24 Oktober 2025.

"Saya atas nama pemerintah menyampaikan simpati dan berbelasungkawa kepada almarhum, dan kami sampaikan simpati dan berbelasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan," sambungnya. Menteri HAM Natalius Pigai berharap apapun yang terjadi di publik, kita harus menghormatinya dengan memiliki rasa simpati dan empati dengan adanya ini, peristiwa-peristiwa di masa yang akan datang tidak boleh lagi menimbulkan hal yang nirempati dan nirsimpati.

Ia pun mengungkapkan hasil pertemuan dengan Rektor Unud bahwa ada tindakan bullying atau perundungan terhadap Timothy setelah meninggal dunia, dan semua mahasiswa yang melakukan perundungan telah dimintai keterangan. "Memang ada tindakan bullying terhadap almarhum. Dan mereka-mereka yang melakukan tindakan bullying ini sedang dilakukan pendalaman dan dimintai keterangan. Pak Rektor yang mengambil keputusan. Saya yakin Rektor akan mengambil keputusan yang adil," imbuhnya.

Menteri Natalius Pigai pun menyebut bahwa aksi perundungan saat ini terjadi dimana-mana bahkan mulai dari SD, SMP, SMA, Universitas atau Perguruan Tinggi, serta di kalangan masyarakat umum juga terjadi tindakan bullying. Pihaknya menyampaikan bahwa rasa keadilan harus dirasakan oleh korban, yang kedua harus dirasakan oleh keluarga paling dekatnya, baru yang ketiga dirasakan secara publik.

β€œOleh karena itu, saya yakin Pak Rektor dengan Civitas Akademik Universitas Udayana akan mengambil keputusan yang berkeadilan, dirasakan oleh korban, dirasakan oleh keluarga korban, dan dirasakan oleh publik,” katanya.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan