
Pemanggilan jenazah yang ditemukan di pesisir Pulau Rangsang, Perairan Kepulauan Meranti, akhirnya menemui titik terang setelah sebelumnya menjadi misteri. Kerangka manusia tersebut berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada Sabtu (18/4) pagi.
Awalnya, informasi tentang penemuan jenazah diterima Kantor SAR Pekanbaru sekitar pukul 09.00 WIB dari warga yang menemukan jenazah di koordinat 005833N 1025128E. Menindaklanjuti laporan tersebut, tiga personel dari Unit Siaga SAR Meranti langsung diberangkatkan lima menit kemudian.
Tim tiba di lokasi sekitar pukul 09.25 WIB dan proses evakuasi berhasil dilakukan pada pukul 09.45 WIB. Selanjutnya, jenazah dibawa ke RSUD Kepulauan Meranti guna pemeriksaan lebih lanjut bersama pihak kepolisian.
Kepala Unit Basarnas Kepulauan Meranti, Prima Herrie, menyampaikan bahwa identitas korban belum dapat dipastikan saat proses awal evakuasi. Ia menjelaskan:
Belum bisa dikenali. Kita masih menunggu hasil identifikasi dari tim medis dan kepolisian. Saat ini jenazah sudah berada di RSUD, jelasnya kepada Riau Pos.
Ia juga menegaskan bahwa pihaknya belum dapat memastikan keterkaitan antara temuan tersebut dengan laporan orang hilang di wilayah perairan Meranti dalam beberapa waktu terakhir.
Namun, pada Sabtu sore, misteri tersebut akhirnya terungkap. Keluarga korban memastikan bahwa kerangka yang ditemukan adalah Nasri (32), yang sebelumnya dilaporkan melompat dari kapal Dumai Line.
Kepastian ini diperoleh setelah ayah korban, A Gani, melakukan identifikasi langsung di RSUD Kepulauan Meranti. Ia mengenali anaknya melalui pakaian terakhir yang dikenakan, termasuk ikat pinggang yang masih melekat pada jenazah.
Dari pakaian dan ikat pinggangnya, saya yakin itu anak saya, Nasri, ungkap A Gani.
Setelah proses identifikasi selesai, jenazah langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk dibawa ke rumah duka di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Tebing Tinggi Timur.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kepulauan Meranti, Ardath SIP, membenarkan bahwa seluruh proses berjalan dengan lancar, mulai dari evakuasi hingga penyerahan kepada keluarga.
Setelah identifikasi di RSUD, jenazah langsung diserahkan dan kini sudah dibawa ke rumah duka, ujarnya.
Sebelumnya, penemuan kerangka ini sempat dikaitkan dengan beberapa kasus orang hilang di perairan Kepulauan Meranti. Salah satunya adalah Nasri, warga Desa Tanjung Sari, yang dilaporkan melompat dari kapal Dumai Line pada 10 April 2026 sekitar pukul 14.30 WIB.
Saat kejadian, korban tengah dalam perjalanan dari Pelabuhan Tanjung Buton menuju Tanjung Balai Karimun. Upaya pencarian sempat dilakukan selama tujuh hari oleh tim SAR gabungan dengan area penyisiran mencapai sekitar 11 mil laut, namun korban tidak ditemukan hingga operasi dihentikan pada 16 April 2026.
Proses Evakuasi dan Identifikasi
Proses evakuasi dan identifikasi jenazah dilakukan secara cepat dan efisien oleh tim SAR gabungan. Berikut adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan:
- Tim SAR langsung bertindak setelah menerima laporan dari warga.
- Proses evakuasi dilakukan dalam waktu singkat, sekitar 20 menit setelah tiba di lokasi.
- Jenazah dibawa ke RSUD Kepulauan Meranti untuk pemeriksaan lebih lanjut.
- Identifikasi dilakukan oleh keluarga korban melalui pakaian dan aksesori yang masih melekat.
- Setelah identifikasi, jenazah diserahkan kepada keluarga untuk dibawa ke rumah duka.
Tindakan Pihak Berwenang
Pihak berwenang seperti Basarnas dan BPBD Kepulauan Meranti telah memberikan respons yang cepat dan tanggap terhadap insiden ini. Mereka bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk memastikan proses identifikasi berjalan lancar.
Selain itu, para petugas SAR juga tetap menjaga komunikasi dengan keluarga korban agar mereka mendapatkan informasi terkini tentang kondisi jenazah dan proses pengurusan selanjutnya.
Kesimpulan
Insiden penemuan kerangka manusia di pesisir Pulau Rangsang akhirnya terungkap setelah keluarga korban berhasil mengidentifikasi jenazah tersebut. Proses evakuasi dan identifikasi berjalan dengan baik, sehingga keluarga korban dapat menerima jenazah dan melaksanakan prosesi pemakaman sesuai dengan adat dan agama.
Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya kesiapan dan koordinasi antara instansi terkait dalam menangani situasi darurat di perairan. Dengan adanya tindakan cepat dan kolaborasi yang baik, harapan besar dapat terwujud dalam memberikan kepastian dan ketenangan bagi keluarga korban.