
Penyebab Kematian Timothy Anugerah Saputra Masih Mencurigakan
Kasus kematian Timothy Anugerah Saputra, seorang mahasiswa Universitas Udayana (UNUD), yang jatuh dari lantai 4 Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) masih menjadi misteri. Hingga saat ini, penyebab pasti dari kejadian tersebut belum terungkap secara jelas.
Banyak pihak mengira bahwa Timothy meninggal akibat perundungan yang dialaminya. Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi. Faktanya, perundungan itu terjadi setelah ia meninggal dunia. Dari pengakuan teman-temannya, Timothy selama ini tidak pernah mengalami bullying atau perlakuan kasar dari sesama mahasiswa.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pihak kepolisian masih kesulitan dalam memverifikasi informasi lebih lanjut karena mereka belum bisa membuka ponsel milik korban. Meskipun telah mengumpulkan bukti berupa rekaman CCTV sebelum dan saat kejadian, ternyata hanya ada beberapa rekaman yang tersedia.
"Kami jelaskan bahwa CCTV di lobby pada saat korban datang kemudian pada saat korban terjatuh, itu ada. Terekam oleh CCTV pada saat masuk ke gedung, Di CCTV yang sama juga merekam pada saat korban terjatuh," kata Kapolsek Denpasar Barat, Kompol Laksmi T.
Namun, di lantai 4 tempat Timothy jatuh, CCTV sudah rusak sejak tahun 2023. Meski begitu, ada beberapa saksi mata yang melihat Timothy di lantai 4 sebelum kejadian.
"Saksi yang melihat pada saat korban keluar dari lantai 4 ada, datang di lantai 4 berjalan, kemudian korban duduk di lokasi terakhir tempat ditemukan tas dan sepatu," ujar dia.
Tidak hanya satu orang, kata dia, ada tiga orang yang melihat Timothy di lantai 4 sebelum terjatuh. Ketiganya tidak saling kenal, sehingga tidak langsung menghiraukan kegiatan korban.
"Ada 3 orang saksi yang melihat itu, karena tidak saling kenal jadi dibiarkan saja, tidak terlalu menghiraukan kegiatan korban," kata dia.
Beberapa menit kemudian, salah satu dari tiga saksi itu sempat menoleh lagi ke tempat terakhir Timothy duduk. Ternyata saat itu, Timothy sudah tidak ada, dan hanya tersisa sepatunya saja.
Melihat hanya ada sepatu, ketiganya tidak penasaran atau berniat menolong. Sebab diduga tak lama setelah itu, Timothy pun terjatuh.
Namun karena tidak kenal dengan Timothy, mereka pun menghiraukan hal tersebut.
"Setelah salah satu saksi menyampaikkan, kemudian ‘oh mungkin punya yang tadi, udah biarin aja’ karena tidak kenal," jelas Laksmi.
Selain itu, ada juga saksi yang melihat pada saat korban melepas sepatu.
Menurut keterangan teman-temannya, Timothy tidak dirundung sebelum meninggal dunia. "Kalau untuk menjadi korban pembullyan itu dari teman-temannya itu pun merasa sangat kecil sekali kemungkinannya terjadi karena korban ini orang yang berprinsip sekali," ungkap Laksmi.
"Jadi (korban) bukan tipe-tipe yang gampang dibully seperti itu. Itu pengakuan dari beberapa saksi yang kami mintai keterangan," sambungnya.
Bahkan sahabatnya mengatakan bahwa Timothy tidak mungkin menjadi korban perundungan. Namun, dugaan perundungan memang terjadi setelah Timothy tewas.
"Kalau setelah korban terjatuh sampai akhirnya korban meninggal dunia, itu kan ada tersebar chat di media sosial. Kalau sebelum kejadian itu, bahkan dari sahabat korban pun itu (bilang) sangat kecil sekali kemungkinannya (korban tewas karena dibully)," kata Kompol Laksmi Trisnadewi.
Hingga saat ini, pihak kepolisian masih kesulitan untuk membuka ponsel milik Timothy. Polisi menyebut bahwa jika diizinkan mengecek HP korban, maka akan mendapatkan informasi lebih banyak.
Padahal, ponsel itu bisa membongkar jejak digital Timothy sebelum meninggal dunia.
"Kepada ibu dan pihak ayah, kami sudah sampaikan, kalau memang diperkenankan kami membuka HP korban, mungkin saja di sana bisa ditemukan informasi. Tapi dari pihak ibu, sudah menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak mau memperpanjang lagi permasalahan ini ke jalur hukum, jadi akses untuk handphone tidak bisa kami dapatkan," ungkap Kompol Laksmi.