Pertumbuhan Penjualan Mobil Listrik di Indonesia
Peningkatan pesat penjualan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) di Indonesia saat ini tidak sejalan dengan pembentukan ekosistem industri otomotif nasional. Mayoritas model yang beredar masih didominasi oleh produk impor, terutama dari Tiongkok.
Menurut Agus Purwadi, peneliti senior dari Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB, sekitar 60 persen BEV yang terjual di Tanah Air berasal dari China. Sisanya merupakan hasil rakitan lokal atau didatangkan dari negara lainnya.
Di pasar Asia Pasifik, Indonesia didominasi produk China sekitar 60 persen ke atas. Negara tetangga kita, Thailand juga mengalami kondisi serupa dan bahkan menghadapi tekanan dalam industrinya, di mana sejumlah pabrik mulai tutup karena kanibalisasi, ujar Agus di Jakarta, Selasa (14/4/2026).
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan bahwa pengiriman dari pabrik ke diler atau wholesales mobil listrik murni sepanjang 2025 nyaris mencapai seratus ribu unit. Tepatnya 99.372 unit.

Lebih detailnya, model yang didatangkan utuh atau completely built up (CBU) China jumlahnya mencapai 60.671 unit atau komposisinya 61 persen dari segmen BEV 2025. Sedangkan model non-CBU China atau CKD (Completely Knocked Down) 38.701 unit atau 38,9 persen.
Agus menilai, jika pemerintah tidak melakukan evaluasi lebih dalam terhadap fenomena ini, ekosistem industri otomotif nasional yang sudah ada bisa terdampak dan berpotensi kolaps. Pemain baru masih berusaha mendapatkan volume penjualan yang stabil.
Negara yang berhasil seperti India dan Vietnam memiliki persentase local production yang masih besar. Jadi basis lokalnya ada, kalau negara lain hanya basis pasar saja, katanya sambil mengingatkan agar Indonesia belajar dari kondisi yang menimpa Thailand.
Meski sudah ada beberapa pabrikan yang mewujudkan investasi dengan membangun fasilitas perakitan lokal dan berkomitmen memenuhi ketentuan minimal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), Agus menyebut hal tersebut masih meninggalkan catatan.

Komponen assembly bisa menyumbang sekitar 30 persen, sementara R&D sekitar 10 persen, bahkan sering kali masih berupa komitmen ke depan. Padahal, kompleksitas perakitan BEV sebenarnya lebih sederhana dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal, jelasnya.
Menurutnya, kebijakan insentif dan TKDN untuk model-model BEV, khususnya asal China perlu rutin dievaluasi agar tetap sejalan dengan kebutuhan pasar. Selain itu, perlu adanya perhatian terhadap mitra-mitra lokal agar kelangsungan industri otomotif tetap terjaga.
Target awalnya kan untuk mendorong adopsi awal, misalnya sampai 5 persen. Sekarang sudah di atas itu, sehingga perlu penyesuaian. Kalau tidak dievaluasi, justru bisa mematikan pelaku lain di industri, tegas Agus.
