
Fokus pada Sektor Produktif, Tantangan yang Dihadapi oleh Modalku
PT Mitrausaha Indonesia Group (Modalku), penyelenggara fintech peer-to-peer (P2P) lending, menegaskan bahwa fokus utama dari pembiayaannya saat ini berada di sektor produktif. Namun, dalam proses penyaluran pembiayaan tersebut, terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Direktur Modalku, Arthur Adisusanto, menyebutkan bahwa setidaknya ada dua tantangan utama yang dihadapi perusahaan dalam menyalurkan pendanaan ke sektor produktif. Pertama, tingkat literasi keuangan yang belum merata di kalangan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Menurutnya, banyak calon penerima dana belum sepenuhnya memahami dan familiar dengan mekanisme pendanaan pinjaman daring (pindar).
“Solusinya, Modalku terus aktif menghadirkan edukasi finansial secara digital melalui berbagai konten edukasi interaktif yang membahas pengelolaan arus kas, literasi seputar pendanaan produktif, serta informasi lain yang relevan bagi pelaku usaha,” jelas Arthur kepada Bisnis.
Selain itu, kondisi makroekonomi juga menjadi faktor penting dalam pembiayaan pindar untuk sektor produktif. Fluktuasi harga bahan baku dan daya beli masyarakat yang belum stabil dapat menekan cash flow bisnis. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko kredit macet jika tidak diantisipasi secara tepat.
“Oleh karena itu, Modalku senantiasa menjaga kesehatan portofolio pendanaan dengan menerapkan prinsip kehati-hatian dan responsible lending,” tambah Arthur.
Proses mitigasi risiko dilakukan secara menyeluruh oleh Modalku, mulai dari seleksi penerima dana, pemantauan rutin, hingga pendampingan bagi UKM yang menghadapi tantangan bisnis.
Meski menghadapi dua tantangan tersebut, Arthur tetap optimis bahwa penyaluran pembiayaan di perusahaannya bisa tumbuh stabil dan berkelanjutan. Terlebih, Modalku berkomitmen untuk terus berinovasi dan mengembangkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar.
“Selain itu, kami juga terus melanjutkan dukungan bagi UKM yang telah kami layani, serta membuka peluang kemitraan strategis dengan mitra dan asosiasi yang membutuhkan akses pendanaan,” ujarnya.
Data Pendanaan Modalku hingga September 2025
Sebagai informasi, outstanding pendanaan Modalku yang masih beredar sampai 30 September 2025 mencapai Rp309,57 miliar dengan jumlah penerima dana aktif sebanyak 621, terdiri dari 34 institusi dan 587 individual.
Perusahaan yang berdiri di Indonesia sejak 2016 ini memiliki tingkat keberhasilan bayar 90 hari atau TKB90 sebesar 97,81%. Artinya, tingkat wanprestasi (TWP90) dalam level terjaga yakni 2,19%.
Tantangan Industri Pindar dalam Mencapai Target
Di sisi lain, Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) membeberkan penyebab belum tercapainya target porsi pembiayaan produktif di industri pinjaman daring (pindar) mencapai 40%-50% pada periode 2025-2026.
Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat porsi pembiayaan pindar kepada sektor produktif dan/atau UMKM sebesar 33,83% dari total outstanding pembiayaan industri pindar.
Ketua AFPI, Entjik S. Djafar, mengungkapkan bahwa belum tercapainya target itu lantaran ketidakpastian kondisi ekonomi saat ini, sehingga sangat berpengaruh terhadap penyaluran pembiayaan.
“Melambatnya ekonomi baik secara domestik maupun global sangat memengaruhi pertumbuhan pembiayaan [disbursement]. Di sisi lain, akibat hal tersebut, angka kredit macet [NPL] juga terdorong naik,” jelas Entjik.
Sebab demikian, dia berpendapat bahwa tantangan yang dihadapi industri pindar saat ini cukup berat, sehingga AFPI mengingatkan anggotanya untuk tidak terlalu ekspansif dalam menyalurkan pembiayaan.