
JAKARTA, aiotrade
Pada hari terakhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelang penutupan tahun 2025, pasar saham kembali mengalami tekanan dari aksi jual asing. Investor asing tampak memperlihatkan kecenderungan untuk menjual saham-saham unggulan yang ada di berbagai sektor seperti perbankan, pertambangan, energi, dan infrastruktur.
Berdasarkan data yang dirilis oleh BEI melalui platform Stockbit, pada hari Selasa (30/12/2025), investor asing mencatatkan net foreign sell yang signifikan. Salah satu saham yang paling banyak dilepas adalah PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Aksi jual ini mencapai nilai sebesar Rp 415,65 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 2,74 juta saham. Nilai transaksi mencapai Rp 1,01 triliun. Akibatnya, harga saham BBRI turun sebesar 120 poin atau 3,17 persen menjadi Rp 3.660.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Di posisi kedua, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga mengalami tekanan besar dari investor asing. Net foreign sell tercatat sebesar Rp 267,99 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 25,80 juta saham. Harga saham DEWA turun sebesar 2,90 persen menjadi Rp 670.
Sektor pertambangan batu bara juga tidak terhindar dari tekanan jual asing. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 109,12 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 28,13 juta saham. Meskipun demikian, harga saham BUMI tetap stabil di level Rp 366.
Di sektor perbankan, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga masuk dalam daftar saham yang mengalami aksi jual asing sebesar Rp 95,32 miliar. Namun, berbeda dengan BBRI, saham BBCA berhasil ditutup menguat sebesar 50 poin atau 0,62 persen menjadi Rp 8.075.
Selain itu, saham PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) juga mengalami tekanan jual asing sebesar Rp 73,45 miliar. Harga saham ARCI turun tajam sebesar 5,54 persen menjadi Rp 1.620. Sementara itu, saham PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) juga mengalami penurunan sebesar 5,41 persen menjadi Rp 420 setelah mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 58,33 miliar.
Dari sektor energi, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 55,31 miliar. Harga saham ADRO turun sebesar 135 poin atau 6,94 persen menjadi Rp 1.810. Di sisi lain, saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) juga mengalami tekanan jual asing sebesar Rp 48,84 miliar. Harga saham BRMS turun sebesar 3,93 persen menjadi Rp 1.100.
Saham PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) juga mengalami penurunan sebesar 1,21 persen menjadi Rp 6.100 setelah mencatatkan aksi jual asing sebesar Rp 45,96 miliar. Di sektor infrastruktur telekomunikasi, saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) mencatatkan net foreign sell sebesar Rp 38,87 miliar. Namun, saham MTEL justru menguat sebesar 6,87 persen menjadi Rp 700.
Sementara itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga mengalami tekanan jual asing sebesar Rp 38,12 miliar. Harga saham CUAN turun sebesar 1,68 persen menjadi Rp 2.340. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan dari investor asing terus berlangsung di berbagai sektor pasar modal.