
Pergerakan Saham Grup Bakrie yang Menarik Perhatian Investor
Pergerakan saham-saham yang terafiliasi dengan Grup Bakrie menjadi sorotan investor pasar modal sepanjang tahun 2025. Emiten-emiten yang berada di bawah kendali keluarga Bakrie mencatatkan kinerja yang menonjol, baik dari sisi laporan keuangan maupun pergerakan harga saham. Kinerja tersebut didukung oleh sejumlah aksi korporasi yang dilakukan sepanjang tahun, seperti akuisisi perusahaan, diversifikasi portofolio bisnis, perolehan kontrak dan tender strategis, serta pengamanan fasilitas kredit bernilai jumbo untuk mendukung ekspansi usaha.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Saat ini, gurita bisnis Grup Bakrie mencakup sedikitnya 12 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan bidang usaha yang beragam. Di sektor tambang, grup ini menaungi PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS). Pada sektor energi, terdapat PT Darma Henwa Tbk (DEWA) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG). Sementara di sektor industri dan otomotif, Grup Bakrie memiliki PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) serta PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR).
Kinerja Saham BRMS yang Mencuri Perhatian
BRMS menjadi salah satu saham Bakrie yang paling mencuri perhatian di kalangan investor. Perusahaan ini tampil gagah setelah masuk ke indeks internasional MSCI dan membuka peluang arus dana pasif ke saham perseroan. Selain itu, BRMS juga mengumumkan tambang emasnya di Palu telah menghasilkan produksi emas.
Di saat bersamaan, dua emiten Bakrie lainnya yaitu BUMI dan ENRG juga mempercepat ekspansi. BUMI menerbitkan obligasi jumbo untuk menuntaskan akuisisi tambang emas di Australia. Perseroan telah melakukan diversifikasi usaha ke tambang emas. Adapun ENRG menyiapkan penerbitan obligasi dan anggaran besar untuk memperluas portofolio migas.
Daftar Kinerja Saham Grup Bakrie Tahun 2025
Berikut adalah daftar kinerja 12 saham terafiliasi Grup Bakrie sepanjang tahun 2025:
-
PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 32
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 127
Naik/Turun: 262,86% -
PT Bumi Resources Tbk (BUMI)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 123
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 366
Naik/Turun: 210,17% -
PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 402
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 1.100
Naik/Turun: 217,92% -
PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 242
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 1.600
Naik/Turun: 595,65% -
PT Darma Henwa Tbk (DEWA)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 118
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 670
Naik/Turun: 503,60% -
PT Visi Media Asia (VIVA)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 6
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 48
Naik/Turun: 700% -
PT Intermedia Capital Tbk (MDIA)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 10
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 88
Naik/Turun: 780% -
PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 93
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 436
Naik/Turun: 349,48% -
PT Bakrieland Development Tbk (ELTY)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 11
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 45
Naik/Turun: 275% -
PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 5
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 41
Naik/Turun: 583,33% -
PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 50
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 50
Naik/Turun: 0% -
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR)
Harga saham 2 Januari 2025: Rp 129
Harga saham 30 Desember 2025: Rp 845
Naik/Turun: 550%
Prospek Saham Bakrie di Tahun 2026
Menatap 2026, sejumlah analis menilai prospek saham-saham Grup Bakrie masih cukup menarik, meski tetap bergantung pada dinamika harga komoditas global. Head of Research Korea Investment and Sekuritas Indonesia Muhammad Wafi menilai kinerja emiten Grup Bakrie pada 2026 masih positif, namun investor perlu bersikap selektif. Menurut dia, perbaikan fundamental perusahaan didorong oleh proses restrukturisasi utang dan masuknya mitra strategis sepanjang 2025.
Selain itu, Wafi berpandangan, bangkitnya saham-saham Bakrie setelah terpuruk beberapa tahun ke belakang terjadi karena masuknya salim, yang disebut sebagai “Salim Effect” ke beberapa perusahaan Bakrie sehingga menjadi usaha kongsi. Misalnya adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
“Outlook 2026 Grup Bakrie tetap oke tapi selektif. Fundamental membaik drastis karena 'Salim Effect' dan bersih-bersih utang di 2025,” kata Wafi.
Wafi menyebut BRMS sebagai saham yang paling menarik baginya. Sebab telah memasuki fase produksi emas dengan kapasitas penuh. Di saat yang sama, harga emas global masih berada dalam tren bullish. Adapun BUMI, kata dia, kini lebih berperan sebagai cash cow dengan fokus pada efisiensi dan pembagian dividen, meski ruang kenaikan harga sahamnya relatif terbatas akibat tekanan harga batu bara.
Sementara DEWA menarik sebagai turnaround play. Menurutnya, masuknya modal dan manajemen baru berpotensi mendorong peningkatan volume operasional. Sedangkan ENRG dan BNBR masih cenderung spekulatif.
“Katalis besarnya penurunan suku bunga yang bikin beban utang turun dan bisa dorong laba bersih,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta. Ia menilai sejumlah emiten Grup Bakrie mulai mendapatkan perhatian investor global setelah masuk ke dalam indeks internasional seperti MSCI.
“BUMI dan BRMS sudah masuk indeks global, sehingga berpotensi meningkatkan arus dana dari manajer investasi global,” kata Nafan.
Selain faktor indeks, Nafan menilai prospek komoditas seperti emas, batu bara dan minyak juga masih berpeluang membaik seiring potensi peningkatan permintaan global. Namun, ia mengingatkan bahwa volatilitas harga komoditas tetap menjadi risiko utama, terutama bagi batu bara yang kerap mengalami fluktuasi permintaan tanpa diikuti kenaikan harga yang signifikan.
Di sisi lain, struktur utang masih menjadi tantangan bagi sebagian emiten Grup Bakrie. Karena itu, Nafan menekankan pentingnya penerapan tata kelola perusahaan yang baik agar risiko keuangan dapat dikelola secara berkelanjutan.
“Sebagian saham Grup Bakrie bukan termasuk kategori blue chip. Kapitalisasinya memang besar, tetapi volatilitasnya tetap tinggi. Investor perlu mencermati risiko ini,” ujarnya.