Momen Rapat Gubernur BI, Saham Bank Besar Naik, Ini Rekomendasi Analis

admin.aiotrade 15 Des 2025 3 menit 22x dilihat
Momen Rapat Gubernur BI, Saham Bank Besar Naik, Ini Rekomendasi Analis


Kenaikan Harga Saham Bank-Bank Besar di Awal Pekan

Pada awal pekan ini, harga saham bank-bank besar di pasar modal Indonesia mengalami kenaikan yang signifikan. Hal ini terjadi karena beberapa agenda penting yang berlangsung dalam minggu ini, seperti pengumuman suku bunga Bank Indonesia (BI-rate) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dari sejumlah bank milik negara.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Pada perdagangan saham Senin (15/12/2025), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi pemimpin kenaikan dengan masing-masing naik lebih dari 4%. BBNI mencatat kenaikan hingga 4,72% menjadi Rp 4.440 per saham, sementara BBRI melonjak 4,13% menjadi Rp 3.780 per saham. Diikuti oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang naik sekitar 3,75% menjadi Rp 8.300 per saham, serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang juga mengalami kenaikan sebesar 3,53% menjadi Rp 4.990 per saham.

Selain kenaikan harga saham, investor asing juga tercatat melakukan pembelian bersih (net buy) pada empat saham bank utama tersebut. Secara keseluruhan, total net foreign buy yang dicatatkan mencapai sekitar Rp 662,43 miliar, dengan mayoritas terjadi di BMRI senilai Rp 211,79 miliar.

Menurut Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, kenaikan harga saham bank-bank besar ini salah satunya disebabkan oleh masuknya investor asing. Ia menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena adanya harapan penurunan BI-rate di minggu ini. Meski demikian, ia menilai investor tetap memperhatikan proyeksi pertumbuhan kredit perbankan di Indonesia, di mana diperlukan stimulus nyata agar pertumbuhan kredit bisa lebih cepat lagi.

Dampak Penurunan BI-Rate dan RUPSLB

Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer menyatakan bahwa agenda penetapan BI-rate dan RUPSLB Himbara pada minggu ini menjadi sentimen jangka pendek bagi saham perbankan. Namun, dampaknya cenderung lebih ke arah stabilisasi ketimbang lonjakan harga.

Ia memproyeksikan bahwa jika BI kembali menurunkan suku bunga, hal ini akan memberikan sentimen positif karena membuka ruang perbaikan likuiditas, menurunkan biaya dana (cost of fund), dan mendukung pertumbuhan kredit di periode mendatang. Selain itu, ia juga memperhatikan bahwa arus dana asing kemungkinan masih selektif dan volatil hingga akhir tahun karena faktor global dan kebutuhan rebalancing portofolio.

“BBCA memiliki target harga 12 bulan di Rp 9.100 dan BBRI di Rp 4.620,” ujarnya.

Prospek Jangka Pendek dan Panjang

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi sepakat bahwa penurunan BI-rate dapat menjadi sentimen positif bagi saham perbankan, namun tidak instan. Ia menyoroti bahwa dampak penurunan BI-rate akan secara bertahap membantu penurunan biaya dana dan NIM perbankan.

Dalam jangka pendek, ia memprediksi saham perbankan masih akan menghadapi volatilitas tinggi karena investor asing masih berhati-hati untuk masuk mengingat pertumbuhan kredit yang moderat. “Net sell bisa terus berlanjut jangka pendek, kecuali ada trigger makro yang lebih kuat,” ujarnya.

Selain itu, Wafi menilai agenda RUPSLB di beberapa bank milik negara memiliki efek minimal terhadap harga saham karena lebih bersifat administratif dan struktural. Ia menilai BBCA sebagai pilihan yang paling aman untuk jangka panjang, sedangkan BMRI dinilai siap dengan fase penurunan suku bunga. Sementara itu, BBRI masih menghadapi tekanan dari UMKM meskipun valuasi mulai menarik.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan