Momentum Kredit Karbon Indonesia di COP30, Tawarkan Jutaan Ton Saat Harga Naik

admin.aiotrade 12 Nov 2025 4 menit 16x dilihat
Momentum Kredit Karbon Indonesia di COP30, Tawarkan Jutaan Ton Saat Harga Naik

aiotrade
JAKARTA — Perhelatan Konferensi Perubahan Iklim PBB COP30 di Belem, Brasil, menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkenalkan potensi kredit karbon yang dimiliki ke pasar internasional. Saat ini, harga karbon di pasar sukarela menunjukkan tren positif meski penawaran turun secara signifikan dalam satu tahun terakhir.

Dalam forum Seller Meet Buyer (SMB) di Paviliun Indonesia, setidaknya 90,10 juta kredit karbon setara ton karbon dioksida (CO₂e) ditawarkan kepada pembeli internasional. Data Kementerian Lingkungan Hidup per akhir Oktober 2025 menunjukkan bahwa sebanyak 11,41 juta ton CO₂e telah tersertifikasi, 5,06 juta ton CO₂e masih dalam proses sertifikasi, dan 73,62 juta ton CO₂e lainnya merupakan calon yang telah memiliki nomor identifikasi.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Potensi kredit karbon ini berasal dari total 40 proyek penurunan emisi, dengan 21 di antaranya berupa modalitas energi, 8 dari forest and other land use (FOLU), dan 11 dari proyek limbah atau waste. Nilai kredit karbon dari proyek-proyek ini diperkirakan mencapai US$7,7 miliar.

"Pasar karbon bukan sekadar transaksi ekonomi. Ini adalah cara kami menegakkan integritas dan membangun kepercayaan dunia terhadap sistem karbon Indonesia," ujar Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq ketika membuka Paviliun Indonesia.

Dia menjelaskan bahwa Indonesia sedang memasuki babak baru dalam pengelolaan karbon melalui penerapan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon (NEK). Regulasi ini memperluas mekanisme perdagangan karbon nasional, termasuk pasar karbon sukarela, serta membuka peluang kolaborasi internasional berbasis integritas dan transparansi.

"Kami berkomitmen memastikan bahwa setiap unit kredit karbon Indonesia memiliki nilai lingkungan yang nyata, terverifikasi, dan berintegritas tinggi," kata Hanif.

Sebagai tindak lanjut kebijakan regulasi tersebut, KLH telah membuka perdagangan karbon sukarela internasional melalui Mutual Recognition Agreements (MRA) dengan lima independent crediting schemes dunia, yaitu Gold Standard for Global Goals, Global Carbon Council (GCC), Plan Vivo, Verra, dan Puro Earth.

Langkah ini memperluas ruang aksi mitigasi berbasis alam (nature-based) dan teknologi (technology-based), sekaligus memperkuat daya saing pasar karbon nasional di tingkat global.

Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menekankan pentingnya kemitraan global dan kepastian kebijakan dalam mendorong investasi karbon yang berintegritas.

"Indonesia membuka diri bagi investasi karbon internasional yang berlandaskan transparansi dan kredibilitas. Melalui regulasi baru ini, kami ingin memastikan bahwa nilai ekonomi karbon tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat," kata Hashim.

Pasar Global Tunjukkan Perhatian ke Indonesia
Terbitnya Perpres No. 110/2025 yang menandai kembali dibukanya perdagangan karbon sukarela Indonesia ke pasar internasional tak luput dari sorotan pasar. BloombergNEF dalam laporan terbarunya memperkirakan penerbitan kredit karbon Indonesia akan meningkat, dengan keterlibatan proyek penurunan emisi yang lebih beragam.

Ketika perdagangan kredit karbon internasional Indonesia dibatasi dalam beberapa tahun terakhir, BloombergNEF mencatat penerbitan (issuance) dan pemakaian (retirement) kredit karbon Indonesia di registri internasional cenderung terbatas, dengan volume di kisaran 20.000 sampai 60.000 kredit per bulan hingga Oktober 2025.

Mayoritas kredit ini berasal dari proyek pencegahan deforestasi dan reforestasi yang diperdagangkan di Xpansiv. Meski volume terbatas, harga kredit karbon tersebut cukup kompetitif. Kredit karbon dari proyek-proyek ini dibanderol dengan harga rata-rata US$4,97 untuk pencegahan deforestasi dan US$6,94 untuk reforestasi.

Kembalinya Indonesia ke arena perdagangan karbon sukarela juga ditandai dengan perkembangan harga yang positif di Asia Pasifik, terutama untuk proyek reforestasi.

Harga rata-rata kredit karbon dari proyek ini di pasar spot pada Oktober mencapai US$10,04 per ton, tertinggi sepanjang 2025. Rekor ini dicapai meski kredit karbon dari reforestasi sempat absen di pasar pada September.

"Kredit dari proyek pencegahan deforestasi juga mencapai level tertinggi 2025. Kredit yang berasal dari proyek Konservasi Hutan Tropis Kuamut Malaysia diperdagangkan di level US$27,15 per ton," tulis BloombergNEF.

Kontras dengan kredit karbon berbasis solusi alam, kredit dari pembangkit energi hijau justru tetap lemah. Kredit yang mendominasi kawasan Asia Pasifik ini hanya dilabeli harga US$0,44 per ton pada Oktober 2025. Dalam delapan bulan berturut-turut, kredit karbon dari energi diperdagangkan di bawah US$1 per ton.

Harga rendah ini tidak lepas dari melimpahnya pasokan. Data BloombergNEF menunjukkan bahwa kredit karbon dari sektor efisiensi energi dan permintaan energi mendominasi penerbitan dengan total 3,29 juta ton CO₂e pada Oktober 2025. Dari sektor pembangkit energi, total penerbitan mencapai 1,25 juta ton CO₂e, sedangkan proyek karbon biru hanya menyumbang 80.000 kredit, seluruhnya berasal dari Myanmar.

Secara keseluruhan, penerbitan kredit karbon di Asia Pasifik pada Oktober 2025 mencapai 4,89 juta ton CO₂e, turun 4% dibandingkan bulan sebelumnya. Total penerbitan selama Januari–Oktober 2025 juga mengalami penurunan tajam sebesar 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, volume pemakaian kredit karbon di Asia Pasifik pada Oktober mencapai 4,89 juta ton CO₂e, terkoreksi 13% dibandingkan bulan sebelumnya. Secara kumulatif, total pemakaian sepanjang Januari–Oktober 2025 tercatat 48,83 juta kredit, atau menurun 7% secara tahunan.

Beberapa perusahaan energi besar tercatat sebagai pembeli utama kredit karbon di kawasan Asia Pasifik sepanjang Oktober, termasuk Eni, PetroChina International, dan GASAG AG. Adapun India, Malaysia, China, dan Uzbekistan tetap menjadi pasar utama untuk penggunaan kredit karbon. Seluruh kredit karbon yang dipakai dari Malaysia berasal dari Proyek Konservasi Hutan Hujan Kuamut, yang berfokus pada pencegahan deforestasi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan