
Saat ini, pemerintah sedang mempertimbangkan kebijakan untuk membatasi ekspansi peritel modern ke daerah pedesaan. Hal ini menimbulkan pertanyaan terkait rencana perluasan jaringan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), khususnya di wilayah yang dianggap terpencil.
Sebelumnya, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menyampaikan bahwa jika Koperasi Desa Merah Putih berjalan dengan baik, maka penyebaran bisnis minimarket di desa harus dihentikan. Wacana ini menjadi fokus bagi pelaku ritel yang saat ini sedang mengembangkan strategi ekspansi.
Menanggapi isu tersebut, Direktur Corporate Affairs Sumber Alfaria Trijaya, Solihin, menyatakan bahwa perusahaan akan selalu mematuhi aturan pemerintah yang berlaku di setiap daerah tujuan ekspansi. Ia menjelaskan bahwa strategi ekspansi AMRT tidak hanya menyasar desa, melainkan wilayah yang dinilai memiliki potensi pasar.
Selain itu, perusahaan juga fokus pada efisiensi operasional agar tidak terbebani biaya tambahan. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga kualitas layanan sekaligus menjaga kinerja bisnis.
Dalam rangka ekspansi, AMRT merencanakan membuka sekitar 800 gerai baru pada tahun ini. Fokus utama pembukaan gerai ini adalah luar Pulau Jawa. Dengan rencana ini, perseroan memprediksi pertumbuhan pendapatan mencapai kisaran high single digit sepanjang tahun.
Di luar negeri, AMRT juga aktif dalam memperluas jaringan. Baru-baru ini, perusahaan telah berekspansi ke Bangladesh dan berencana membuka 100 cabang di negara tersebut. Selain itu, AMRT juga sedang menjajaki negara baru sebagai target perluasan bisnis, meski belum memberikan detail lebih lanjut.
Analisis dari BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menyebutkan bahwa wacana pembatasan minimarket di desa bisa membuat ekspansi AMRT lebih selektif. Namun, hal ini tidak akan berdampak signifikan terhadap gerai yang sudah beroperasi.
Dengan jaringan yang kuat di area urban dan semi-urban, dampak terhadap kinerja secara keseluruhan diperkirakan relatif terbatas. Di sisi lain, Abida menilai kinerja AMRT masih akan didukung oleh momentum musiman seperti Ramadan dan Lebaran, yang biasanya mendorong lonjakan konsumsi.
“Kombinasi pertumbuhan penjualan same store dan ekspansi gerai yang terukur menjadi katalis positif bagi kinerja AMRT tahun ini,” ujarnya.
Berdasarkan prospek tersebut, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham AMRT dengan target harga Rp 2.000 per saham untuk jangka menengah.
Pada penutupan perdagangan Rabu (25/2), saham AMRT berada di level Rp 1.735 per saham, melemah 2,8% dibandingkan hari sebelumnya. Dalam setahun terakhir, saham AMRT masih tertekan 28,01%.
Diskusi Pembaca
Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!
Tambah Komentar