
JAKARTA, aiotrade
Sejumlah musisi tanah air turut serta dalam aksi bela Palestina yang digelar di depan Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Minggu (26/10/2025). Aksi damai ini dihadiri oleh ribuan massa yang membawa keffiyeh dan bendera Palestina. Mereka menunjukkan dukungan terhadap rakyat Palestina dengan berbagai cara, termasuk melalui seni dan kesadaran sosial.
Aksi damai yang bertajuk "Hearts of Palestine (HOPE)" ini menawarkan berbagai aktivitas seperti pementasan musik hingga teater. Selain itu, para peserta juga diajak untuk berdonasi bagi masyarakat Palestina yang sedang menghadapi krisis. Proyek ini tidak hanya bertujuan untuk menyuarakan isu Palestina, tetapi juga untuk membangun kesadaran generasi muda tentang permasalahan global yang sering kali diabaikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Project Leader HOPE, Eka Annash, menjelaskan bahwa aksi ini melibatkan banyak musisi dan tokoh anak muda untuk menjangkau generasi Z. Menurutnya, generasi Z memiliki peran penting dalam membangun narasi yang lebih peduli terhadap kondisi Palestina. Eka menilai, generasi muda saat ini lebih sadar akan isu-isu sosial dan politik, sehingga mereka bisa menjadi agen perubahan yang efektif.
Eka Annash, vokalis kelompok musik The Brandals, menyatakan bahwa aksi bela Palestina digelar karena Israel masih melakukan penjajahan terhadap wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa kekerasan yang terjadi di Palestina belum berhenti meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak 10 Oktober lalu.
"Sebenarnya gencatan senjata yang diterapkan Israel itu cuma tipuan saja, tipuan publikasi dan political. Kekerasannya di sana sekarang masih berlangsung, itu yang ingin kita berhentikan," ujar Eka Annash.
Di sisi lain, musisi Isabella Fawzi mengatakan bahwa aksi di depan Kedubes AS bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik tentang situasi di Palestina. Menurutnya, genosida yang dilakukan Israel di Gaza sejak 2023 lalu tidak boleh dinormalisasi. Ia menyerukan agar kalangan musisi tidak lagi bungkam terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di Palestina.
"Jangan sampai kita menormalisasi peristiwa genocide dan juga occupation (pendudukan) yang terjadi di tanah Palestina. Itu sama sekali tidak normal," kata Isabella.
Ia menambahkan bahwa semua orang dapat menjadi influencer dan bersuara untuk menyuarakan keadilan. "Kita semua bisa menjadi influencer, kita semua bisa bersuara, karena tidak bisa diam lagi, diam itu berarti kita complicite, terlibat, and I don't want that (saya tidak mau seperti itu)."