
Pengalaman Berharga di Negeri Sakura
Pagi di musim semi bulan April lalu, langit Nagoya tampak cerah. Walau udara cukup dingin, tetapi tidak sedingin malam hari. Dari hotel tempat menginap, aku berjalan menuju hotel tempat acara perayaan ulang tahun perusahaan tempat aku kerja. Ya! Tujuan ke Jepang tahun ini untuk menghadiri ulang tahun perusahaan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Walau begitu, tidak disangka-sangka, di Negeri Sakura, tempat yang jauh dari kampung halaman, sebagai orang asing dan muslim aku merasa menjadi manusia paling dihargai. Inilah kisahku yang sangat bersyukur karena sepiring hidangan halal.
Di Balik Sepiring Makanan Halal
Selama bekerja dengan orang Jepang, aku tahu betapa orang Jepang itu sangat menghargai perbedaan. Terutama soal keyakinan. Saat di Jepang pun aku semakin memahami bahwa rasa empati dan saling menghargai itu memang sifat yang sudah mendarah daging di diri orang Jepang. Hal ini aku rasakan saat menyantap hidangan di perayaan ulang tahun perusahaan.
Seperti perayaan pada umumnya, acara dibuat dengan konsep resmi. Ada sambutan dari Direktur Utama, Penanggung Jawab, hingga pemegang saham. Bahkan ada pertunjukan musik klasik juga. Setelah acara inti selesai, masuk ke acara makan dan santai. Nah, di momen inilah aku merasa takjub dengan pelayanan di hotel Jepang.
Jadi, sebelum acara pihak dari kantor pusat sudah konfirmasi mengenai menu makanan yang akan tersaji. Mereka tahu bahwa dari cabang luar negeri, seperti Indonesia dan Thailand ada makanan yang tidak bisa disantap. Aku, perwakilan dari Indonesia dan kebetulan satu-satunya yang muslim. Sudah pasti dong, makanan tidak boleh mengandung alkohol dan babi. Sedangkan yang dari Thailand, tidak makan daging sapi. Alhasil tema makanan yang diambil yaitu Seafood.
Berhubung ada acara kampay, salah satu waitress datang mengkonfirmasi apakah aku muslim dan tidak minum alkohol. Aku mengiyakan dan dia pamitan untuk mengambilkan minuman. Lalu, makanan pembuka datang dan pelayanan yang membawa makanan menjelaskan kalau hidangan yang tersaji tidak mengandung alkohol dan babi. Saat itu, biasa saja dan aku tidak merasa istimewa.
Datang lagi makanan kedua, hingga penutup. Jujur setiap kali makanan datang aku tertegun, karena saat makanan datang dia selalu menjelaskan bahwa hidangan khusus aku itu tidak mengandung alkohol dan babi. Hal yang membuat aku tertegun itu, karena aku sebagai muslim merasa sangat dihargai. Hal yang mungkin terlihat sepele dan sederhana, tetapi buatku sangat menenangkan.
Mereka seakan memastikan bahwa “Mba, kamu tenang saja, makanan ini halal dan nikmatilah tanpa ada rasa khawatir karena memang dimasak khusus buat kamu.” Bahkan, jika mereka melakukan hal tersebut karena pekerjaan untuk memberikan service terbaik, menurutku itu pekerjaan paling tulus dan ikhlas.
Alasannya karena aku merasakan nada suara yang lembut tanpa sarkas. Lalu, tatapan mata yang ramah, sehingga aku merasakan kehangatan yang sulit dijelaskan. Sebagai seorang muslim di negara yang bukan mayoritas islam, aku merasakan bagaimana rasanya dihargai dengan penuh keistimewaan.
Apalagi semenjak tiba di Jepang aku cukup khawatir dengan makanan. Setiap kaki masuk ke restoran, pasti aku tanya dulu “Apakah ada makanan yang tidak mengandung alkohol?” atau “Apakah olahan ayam ini mengandung minyak babi?” Beda banget saat perayaan ulang tahun perusahaan, aku merasa tenang dan nyaman soal makanan. Apalagi hidangannya super enak dan lezat.
Aku habiskan satu per satu tanpa sisa. Orang yang melihat pasti bakalan mengira kalau aku sangat kelaparan. Padahal tidak juga, karena sudah sarapan banyak di hotel tempat menginap.
Dari sepiring hidangan halal di Negeri Sakura, mengajarkan bahwa ramah-tamah, empati dan saling menghargai itu tidak selalu datang dari bahasa dan budaya yang sama. Rasa tulus untuk menghargai orang lain bisa didapatkan dari siapa saja, walau berbeda ras, bahasa, dan keyakinan. Bahkan ketika jauh dari rumah, akan selalu ada orang yang bisa menghargai setiap perbedaan.