Nasib Media Kerajaan Malaysia Terjebak Kesalahan Sebut Presiden Indonesia di KTT ASEAN

admin.aiotrade 26 Okt 2025 3 menit 14x dilihat
Nasib Media Kerajaan Malaysia Terjebak Kesalahan Sebut Presiden Indonesia di KTT ASEAN
Nasib Media Kerajaan Malaysia Terjebak Kesalahan Sebut Presiden Indonesia di KTT ASEAN

Kesalahan Media Malaysia Saat Menyebut Presiden Indonesia di KTT ASEAN

Pada acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN terbaru, sebuah insiden menarik perhatian publik. Salah satu media ternama Malaysia, Radio Televisyen Malaysia (RTM), mengalami kesalahan dalam menyebutkan nama presiden Indonesia saat acara penyambutan para kepala negara. Kesalahan ini berlangsung di tengah momen penting dan langsung menjadi viral di media sosial.

Awal Mula Insiden

Insiden ini terjadi saat sesi penyambutan para pemimpin negara ASEAN di KLCC. Pada saat itu, setiap kepala negara dipanggil oleh pembawa acara resmi, yang kemudian diikuti dengan sambutan hangat dari Anwar Ibrahim. Ketika giliran Indonesia tiba, RTM justru menyebutkan nama Joko Widodo, bukan Presiden Prabowo Subianto yang saat itu sedang hadir.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dalam siaran langsung RTM, komentator yang memandu acara secara keliru mengumumkan: "Yang terhormat Presiden Indonesia Joko Widodo." Kesalahan ini terdengar jelas di tengah sorak-sorai penonton dan langsung terekam oleh kamera siaran.

Reaksi Publik dan Viral di Media Sosial

Meski hanya berlangsung singkat, momen tersebut segera menjadi viral di platform media sosial seperti X (Twitter) dan TikTok. Netizen Indonesia dan Malaysia bercanda menyebutnya sebagai "efek Jokowi yang masih melekat" atau "transisi kepresidenan yang terlalu cepat untuk diingat."

Reaksi masyarakat sangat cepat, dan isu ini langsung menyebar luas. Banyak orang mengecam kesalahan yang dilakukan oleh RTM, terutama karena acara tersebut berlangsung di bawah pengawasan pemerintah Malaysia.

Tanggapan Resmi RTM

Menanggapi viralnya insiden tersebut, pada Minggu (26/10/2025), stasiun penyiaran publik Malaysia ini resmi mengeluarkan permintaan maaf atas kesalahan tersebut. Melalui pernyataan resmi yang disampaikan melalui media sosial ofisial mereka, RTM menyatakan bahwa mereka menanggapi serius masalah ini dan telah mengambil tindakan yang sesuai.

"Berdasarkan investigasi internal, terdapat kesalahan dari komentator siaran yang menyebut Presiden Indonesia sebagai Joko Widodo, padahal Presiden Indonesia saat ini adalah Prabowo Subianto," ujar pihak RTM.

RTM juga menyayangkan kejadian tersebut dan meminta maaf atas insiden yang terjadi. "RTM dengan ini menyampaikan permohonan maaf kepada Presiden dan pemerintah Indonesia, serta seluruh pihak yang terdampak atas kesalahan ini," demikian pernyataan tersebut.

Evaluasi dan Tindakan Lanjutan

Imbas dari insiden tersebut juga menjadi bahan evaluasi bagi RTM. Melalui pernyataannya tersebut, RTM juga berjanji akan terus memperkuat kontrol editorial dan verifikasi fakta untuk memastikan keakuratan serta integritas seluruh informasi yang disampaikan.

Sebagai salah satu media ternama Malaysia yang sudah ada sejak 1920-an, RTM memiliki peran penting dalam menyajikan informasi kepada publik. Dengan statusnya yang tidak sembarangan, RTM harus lebih waspada dalam memberikan informasi, terutama dalam situasi yang sensitif seperti KTT ASEAN.

Status RTM Sebagai Media Nasional

RTM sudah lama berada di bawah naungan Kementerian Penerangan Malaysia. Seiring berjalannya waktu, RTM resmi memiliki stasiun TV dan 34 stasiun radio yang bisa didengar dan ditonton secara streaming, bisa diakses melalui aplikasi, dan juga bisa diakses melalui web.

Dengan jumlah audiens yang besar, RTM memiliki tanggung jawab besar untuk memberikan informasi yang akurat dan objektif. Kesalahan yang terjadi ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh staf dan pimpinan RTM agar lebih hati-hati dalam menjalankan tugasnya.


Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan