Kritik Menyeluruh terhadap Pemimpin Israel dan Penurunan Populeritas Presiden AS
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kini menghadapi tekanan berat dari dalam negerinya masing-masing. Di tengah situasi yang semakin memburuk, keduanya dihadapkan pada kritik tajam yang menunjukkan penurunan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan mereka.
Kritik terhadap Pemimpin Israel
Di Israel, tiga mantan pejabat senior menyebut bahwa Netanyahu telah membajak negara tersebut dan gagal dalam perang melawan Iran. Mereka menilai pemerintahan Netanyahu tidak lagi menjalankan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan rakyat, melainkan bertindak seolah-olah negara itu adalah milik pribadi Netanyahu, istrinya (Sara), dan Miri Regev (menteri transportasi).
Pada malam peringatan 78th kemerdekaan Israel (menurut kalender Ibrani), kita dipaksa untuk mengatakan dengan kepahitan: Israel telah dibajak oleh rezim yang memandang sumber daya negara sebagai milik pribadinya sendiri, ujar mantan kepala staf tentara Dan Halutz dan Moshe Yaalon, seperti dikutip dari Anadolu Agency.
Mereka meminta masyarakat untuk mengambil kembali kendali negara, karena pemerintahan Netanyahu dinilai terlepas dari kenyataan warganya. Harian Israel, Maariv, juga memberikan kritik tajam terhadap kepemimpinan Netanyahu. Dalam laporannya, media tersebut memperingatkan bahwa arah kebijakan pemerintah saat ini telah membawa negara ke dalam situasi yang digambarkan sebagai sebuah bencana terbesar sejak pendudukan Palestina.
Maariv menilai ancaman paling serius yang kini dihadapi Israel bukan hanya dari luar, tetapi juga dari dalam negeri sendiri. Keretakan sosial yang semakin dalam disebut sebagai krisis sentral yang berpotensi merusak fondasi negara. Surat kabar itu bahkan menggunakan istilah "Kuil Ketiga" untuk menggambarkan simbol ideologis yang terancam runtuh akibat perpecahan tersebut.
Istilah ini merujuk pada gagasan pembangunan kuil Yahudi di kawasan Masjid al-Aqsa. Tepatnya di area yang saat ini ditempati oleh Dome of the Rock. Ketegangan di kawasan suci tersebut juga disebut semakin meningkat. Serangan yang dilakukan oleh pemukim Israel ke dalam kompleks, serta insiden berulang terhadap jamaah Muslim, dinilai sebagai bagian dari upaya lebih luas untuk mengubah status quo historis dan keagamaan.
Langkah-langkah tersebut dipandang sejalan dengan agenda kelompok ekstremis yang ingin memperluas kontrol atas kawasan suci dan membentuk ulang identitas kota, yang pada akhirnya berpotensi mengancam warisan Islam dan Kristen di wilayah tersebut. Maariv secara tegas mengaitkan situasi ini dengan kebijakan Netanyahu.
Tekanan Berat terhadap Presiden AS

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kini menghadapi tekanan berat di dua front sekaligus, konflik geopolitik dengan Iran dan krisis kepercayaan publik di dalam negeri. Dalam beberapa pekan terakhir, data jajak pendapat menunjukkan tren penurunan yang konsisten.
Dampaknya terasa di seluruh Amerika Serikat, dari pusat kekuasaan di Washington hingga akar rumput masyarakat. Laporan CNN menyebut fenomena ini sebagai sinyal krisis kepemimpinan. Data terbaru menunjukkan popularitas Trump merosot tajam ke sekitar 30 persen, level yang secara historis dianggap berbahaya bagi seorang presiden aktif.
CNN melaporkan sejumlah jajak pendapat terkini menunjukkan tingkat dukungan terhadap Trump merosot ke sekitar 30 persen. Survei Reuters-Ipsos mencatat angka 36 persen, sementara survei Strength in Numbers-Verasight menunjukkan 35 persen dan AP-NORC sebesar 33 persen. Hasil ini memperpanjang tren penurunan konsisten yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir.
Tidak hanya tingkat persetujuan yang menurun, angka ketidakpuasan terhadap Trump juga mencapai rekor baru. Rata-rata penolakan publik terhadap Trump kini berada di kisaran 62 persen menurut agregasi survei nasional. Angka ini lebih tinggi dibandingkan periode krisis sebelumnya, termasuk awal masa jabatan 2017 dan pasca peristiwa January 6 United States Capitol attack.
Kondisi tersebut menunjukkan semakin luasnya penolakan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump, tidak hanya dari oposisi, tetapi juga merambah pemilih independen dan sebagian basis konservatif yang mulai mengkhawatirkan stabilitas nasional.
Penurunan ini disebut semakin tajam sejak pecahnya konflik dengan Iran. Isu perang kini menjadi salah satu faktor utama yang menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah. Survei menunjukkan sekitar dua pertiga warga Amerika tidak setuju dengan cara Trump menangani konflik tersebut.
Di berbagai kota besar, sentimen anti-perang mulai menguat. Banyak warga menilai konflik luar negeri bukan prioritas utama saat kondisi ekonomi domestik sedang tertekan. Selain itu, kebijakan luar negeri ini dinilai memperburuk ketidakstabilan global sekaligus menekan ekonomi domestik.
Faktor ekonomi juga menjadi penyebab utama merosotnya popularitas Trump. Inflasi tinggi dan lonjakan harga energi akibat perang Iran memicu ketidakpuasan luas di kalangan pemilih. CNN melaporkan tingkat persetujuan terhadap penanganan ekonomi Trump turun ke sekitar 31 persen, terendah sepanjang karier politiknya. Sementara itu, lebih dari 70 persen responden menyatakan tidak puas terhadap kebijakan inflasi pemerintah.