
Malam di Kafe Lotus
Ada sesuatu yang ganjil di udara malam Pochinki. Udara lembap, lampu jalan remang, dan dari kejauhan terdengar alunan jazz lawas — “Take Five” karya Dave Brubeck, mengalun pelan dari dalam Kafe Lotus, tempat favorit kami menambatkan rasa ingin tahu sekaligus lelah hidup.
Lagu itu memang cocok untuk malam seperti ini: tenang tapi punya ketukan yang sulit ditebak — seperti politik di Negeri Yasnaya, selalu berubah ritmenya sesuai siapa yang memegang konduktor. Aku datang lebih dulu. Jack menyusul, jaket cokelatnya sedikit kusut, matanya tajam seperti orang yang baru saja menelan berita buruk tanpa ada sedikitpun pemanis.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Masih lagu itu aja,” katanya, melirik ke arah pengeras suara. Aku nyengir. “Ya, jazz itu kayak politik, Jack — improvisasinya banyak, tapi nadanya itu-itu juga.” Jack ketawa kecil, lalu duduk. Kami pesan dua cangkir latte, satu cheesecake untuk basa-basi, dan secarik topik serius yang sudah menunggu: politik dan proyek.
Obrolan yang Menghangatkan, Tapi Tak Manis
“Jadi gini,” kata Jack, “aku nggak habis pikir. Gaji anggota dewan di Yasnaya itu kan udah lumayan. Tapi kenapa masih banyak yang mroyek?”
Aku tersenyum miring. “Mungkin gajinya cukup buat hidup, tapi nggak cukup buat gaya hidup.” Jack natapku sejenak, lalu muncul tawa pendek. “Analisis ekonomi mikro yang sangat warung kopi.”
Kami tahu, tak semua anggota dewan gitu. Banyak yang jujur, bahkan idealis. Tapi di antara mereka, selalu saja ada yang memetik nada sumbang di tengah orkestra kebijakan publik. Ada yang bermain lewat “proyek aspirasi” — seperti tangan bayangan yang menabuh genderang dari balik layar. Mereka menaruh “titipan proyek” di anggaran, dengan dalih membawa manfaat bagi rakyat, padahal ujungnya justru mengalir ke rekanan yang sudah akrab dengan tanda tangan.
Tahap RAPBD: Saat Anggaran Menjadi Panggung
Jack bersandar, menatap jendela yang berembun. “Katanya, tahap RAPBD itu musim kawin politik,” ujarnya pelan. Aku mengangkat alis. “Kawin siapa sama siapa?” “Ya itu… antara kepentingan dan kesempatan.” Ia bercerita seperti dosen ekonomi yang kehilangan sabar. Dari Agustus sampai Oktober, katanya, itulah masa “penajaman teknis.” Tapi di balik meja rapat, mulai terdengar desis-desus:
“Begitu item proyek muncul, nama-nama mulai bermain.” Ada yang menghubungi kontraktor lokal, menawarkan “akses.” Ada yang mengunci lokasi proyek — “itu jalan di dapil saya, nanti saya kawal.” Ada pula yang meminjam bendera, menitipkan tender, atau menukar pengawasan dengan kesepahaman. Semua halus, semua administratif, semua sah di atas kertas — seperti racun yang disajikan dalam cangkir porselen.
Pokir: Jalur Aspirasi atau Jalan Pintas?
Kami sempat diam selintas. Hanya terdengar denting sendok di gelas, dan saxophone dari pengeras suara yang entah mengapa terdengar getir malam itu. Jack melanjutkan, “Dan jangan lupa, ada juga main pengaruh lewat pokir. Itu saluran resmi aspirasi, tapi di banyak tempat, jadi ruang abu-abu. Bisa diarahkan ke proyek tertentu.” Aku nimpali, “Jadi semacam jembatan yang dibangun dengan niat baik, tapi dilintasi oleh kepentingan.” Jack ngernyitkan dahi, lalu senyum getir. “Ya, jembatan aspirasi yang kadang lebih mirip jalan tol pribadi.”
Kami tertawa kecil. Bukan karena lucu, tapi karena lelah. Ada sesuatu yang ironis dari sistem yang dibuat untuk rakyat, tapi sering berputar di orbit kecil bernama kepentingan.
Ketika Gaji dan Proyek Duduk Semeja
Jack ngaduk kopinya yang sudah dingin. “Lucunya,” kata dia, “semua bilang kerja untuk rakyat. Tapi begitu proyek lewat, yang dapat justru mereka yang paling jauh dari rakyat.” Aku ngangguk. “Kadang aku pikir, politik itu seperti kopi yang sudah diseduh berkali-kali. Rasanya tetap pahit, tapi anehnya, kita tetap meneguknya — karena tak ada minuman lain yang terasa sejujur itu.”
Kami terdiam cukup lama. Di luar, hujan mulai turun. Lampu-lampu di Pochinki memantul di genangan aspal, membentuk kilau seperti janji kampanye yang dipantulkan ulang tanpa arah.
Jazz, Politik, dan Papan Senyum
Saat kami hendak pulang, Jack menatap keluar jendela — ke arah deretan papan senyum yang menempel di tikungan-tikungan kota. Foto besar dengan tagline kecil, seolah semua baik-baik saja. “Kadang aku iri sama mereka,” katanya pelan. “Kenapa?” tanyaku. “Karena senyumnya selalu sama — bahkan saat rakyatnya lagi lapar.” Aku tertawa lirih. “Mungkin karena mereka tahu, senyum adalah investasi yang paling tahan inflasi.”
Kami meninggalkan Kafe Lotus dalam diam. Angin malam terasa dingin, tapi kepala masih hangat oleh percakapan. Di luar sana, politik masih menari seperti improvisasi jazz — kadang manis, kadang sumbang, tapi selalu sulit dihentikan. Dan seperti biasa, kami sepakat untuk ngopi lagi minggu depan. Mungkin bahas RAPBD lagi, mungkin cuma bahas sendok yang hilang di Kafe Lotus. Yang jelas, selama kopi masih pahit, obrolan akan selalu jujur. ☕