Negosiasi AS-Iran Diperkirakan Berlangsung 6 Bulan

Negosiasi AS-Iran Diperkirakan Berlangsung 6 Bulan

Proses Negosiasi Damai AS dan Iran Membutuhkan Waktu yang Panjang

Proses negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diperkirakan akan memakan waktu selama enam bulan. Prediksi ini disampaikan oleh seorang pejabat dari kawasan Timur Tengah dan Eropa, meskipun identitasnya tidak diungkapkan. Perkiraan ini muncul setelah berbagai upaya diplomasi antara kedua negara dilakukan.

Dalam pernyataannya, para pejabat menyarankan agar gencatan senjata yang berlaku hingga 22 April segera diperpanjang. Tujuan dari tindakan ini adalah untuk mencegah kembali meletusnya konflik sementara kedua pihak sedang berupaya mencapai perdamaian melalui negosiasi yang diwacanakan.

Persyaratan Iran untuk Membuka Selat Hormuz

Salah satu syarat penting yang diajukan dalam negosiasi adalah agar Iran membuka kembali Selat Hormuz. Menurut dua pejabat tersebut, pembukaan kembali jalur laut strategis ini menjadi kunci jika Iran ingin mencapai perdamaian dengan AS. Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi pasokan minyak global, dan penutupannya dapat menyebabkan kenaikan harga minyak secara signifikan.

Negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Qatar, dan Bahrain juga mendesak Iran untuk segera membuka kembali jalur tersebut. Namun, saat ini Selat Hormuz telah diblokade oleh pasukan militer AS. Pemblokadean dimulai secara efektif pada Senin (13/4/2026), sebagai langkah AS untuk menekan Iran agar lebih cepat menyetujui perdamaian.

Pernyataan Trump tentang Akhir Perang

Prediksi yang disampaikan oleh pejabat Timur Tengah dan Eropa bertentangan dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump. Menurut Trump, perang antara AS dan Iran sudah hampir usai. Ia mengklaim bahwa Iran cenderung memilih perdamaian daripada terus berperang dengan AS dan Israel.

Saya rasa, ini (perang antara AS dan Iran) sudah hampir berakhir, ya. Saya menganggapnya sudah sangat dekat dengan akhir, kata Trump dalam wawancara dengan acara Mornings with Maria yang disiarkan oleh Fox Business, dikutip oleh Jerusalem Post.

Meski begitu, Trump mengakui bahwa negosiasi damai bisa saja gagal. Namun, ia tetap optimistis bahwa negosiasi tahap kedua antara AS dan Iran akan berjalan lancar dan menghasilkan perdamaian abadi.

Persiapan Negosiasi Damai Tahap Kedua

AS dan Iran kini sedang bersiap melakukan negosiasi damai tahap kedua. Langkah ini dilakukan karena negosiasi tahap pertama yang digelar di Islamabad, Pakistan, pada 11 April 2026 lalu gagal total.

Awalnya, rencana negosiasi tahap kedua dijadwalkan berlangsung di Pakistan pada Kamis (17/4/2026) waktu AS atau Jumat (18/4/2026) waktu Indonesia. Namun, rencana tersebut urung terlaksana. Menurut Kementerian Luar Negeri Pakistan, AS dan Iran masih menentukan waktu dan tempat untuk bertemu.

Siapa yang akan datang, seberapa besar delegasinya, siapa yang akan tinggal, dan siapa yang akan pergi, itu terserah pihak-pihak yang terlibat untuk memutuskan, ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan, Tahir Andrabi, kepada wartawan di Islamabad, dilansir oleh Al Jazeera.

Upaya Diplomasi yang Masih Berlangsung

Meski negosiasi tahap pertama gagal, berbagai pihak tetap berharap proses dialog antara AS dan Iran dapat diteruskan. Beberapa negara seperti RI (Republik Indonesia) juga meminta agar negosiasi ini tetap dilanjutkan.

Selain itu, AS berencana untuk terus melakukan blokade pelabuhan Iran selama yang diperlukan. Hal ini dilakukan sebagai bentuk tekanan terhadap Iran agar lebih kooperatif dalam proses negosiasi.

Trump juga menyatakan bahwa Iran setuju untuk menghentikan program senjata nuklirnya sebagai syarat untuk mengakhiri perang. Ini menjadi salah satu poin penting dalam negosiasi damai antara kedua negara.