Negosiasi AS-Iran Terkendala, Perang Besar Mengancam?

Negosiasi AS-Iran Terkendala, Perang Besar Mengancam?
Negosiasi AS-Iran Terkendala, Perang Besar Mengancam?

Perkembangan Negosiasi Iran dan Amerika Serikat

Negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat dilaporkan mengalami beberapa kemajuan, namun masih menyisakan banyak perbedaan mendasar yang menjadi penghambat. Situasi ini memicu kekhawatiran akan kemungkinan pecahnya kembali konflik, terlebih dengan mendekatnya batas akhir gencatan senjata pada Rabu (22/4/2026).

Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, dalam pidato nasional pada Sabtu (18/4/2026) malam menyatakan bahwa meskipun ada kemajuan, pembicaraan masih jauh dari tahap final. Ada banyak kesenjangan dan beberapa poin mendasar yang belum terselesaikan, ujarnya.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian juga menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak berhak mencabut hak nuklir Iran. Ia mengkritik pernyataan Presiden AS Donald Trump yang melarang Iran menggunakan hak nuklirnya. Trump mengatakan Iran tidak dapat menggunakan hak nuklirnya, tetapi tidak menjelaskan atas dasar apa. Siapa dia sehingga berhak merampas hak suatu bangsa? kata Pezeshkian.

Isu Nuklir dan Selat Hormuz

Dua isu utama yang menjadi penghambat negosiasi adalah program nuklir Iran dan situasi di Selat Hormuz. Ketegangan meningkat setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali menutup akses Selat Hormuz, hanya 24 jam setelah sebelumnya dibuka. Langkah ini dipicu oleh blokade laut yang dilakukan AS terhadap pelabuhan-pelabuhan utama Iran.

Ghalibaf mengecam tindakan tersebut sebagai bodoh dan konyol. Ia menegaskan bahwa Iran tidak akan mengizinkan kapal asing melintasi selat tersebut jika kapal Iran sendiri diblokir.

Bayang-Bayang Perang

Ghalibaf juga memastikan bahwa militer Iran siap menghadapi kemungkinan konflik jika AS kembali memulai permusuhan. Sementara itu, upaya mediasi internasional terus dilakukan. Putaran pertama pembicaraan yang digelar pada 12 April di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan. Gedung Putih menyebutkan bahwa perundingan lanjutan kemungkinan kembali digelar di kota yang sama. Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran menyatakan belum ada jadwal pasti untuk pertemuan berikutnya.

Ia menekankan bahwa pembicaraan tidak dapat dilanjutkan sebelum ada kesepakatan mengenai kerangka dasar, serta menuding AS masih mempertahankan sikap maksimalis.

Pernyataan Trump Memicu Ketegangan

Presiden AS Donald Trump memberikan pernyataan yang beragam terkait situasi ini. Ia menuding Iran bersikap kurang ajar di Selat Hormuz dan menegaskan bahwa AS tidak akan tunduk pada tekanan. Meski menyebut negosiasi berjalan dengan baik, Trump juga mengancam akan kembali melakukan serangan militer jika tidak tercapai kesepakatan sebelum gencatan senjata berakhir.

Tekanan dan Negosiasi Berjalan Bersamaan

Menurut Abbas Aslani, peneliti senior di Pusat Studi Strategis Timur Tengah di Teheran, Iran saat ini menghadapi dua pendekatan sekaligus dari AS: negosiasi dan tekanan. Iran mempertanyakan, jika AS benar-benar ingin mencapai kesepakatan, mengapa mereka tetap melakukan blokade laut, menambah sanksi, dan meningkatkan kehadiran militer di kawasan? ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa belum ada tanda-tanda perpanjangan gencatan senjata, dan hingga kini belum ada pembahasan serius mengenai hal tersebut.