
Kehancuran Perdamaian: AS dan Iran Gagal Mencapai Kesepakatan
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa pihaknya akan memblokade Selat Hormuz setelah pembicaraan dengan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Pernyataan ini diumumkan pada hari Senin (13/4/2026), yang menandai dimulainya tindakan tersebut sejak pukul 10 pagi ET. Blokade ini hanya akan diterapkan terhadap kapal-kapal yang pergi dan pulang dari Iran.
Selat Hormuz merupakan jalur laut penting yang menjadi penghalang utama dalam negosiasi perdamaian antara AS dan Iran. Pengendalian selat ini menjadi salah satu poin utama yang tidak dapat dicapai dalam diskusi yang berlangsung selama 21 jam di Islamabad, Pakistan.
Maksimalisme dan Perubahan Target Gagalkan Pembicaraan
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan hasil negosiasi tingkat tinggi negaranya dengan AS dalam sebuah unggahan di X. Dalam pernyataan resmi pertamanya sejak kembali dari Islamabad, ia menjelaskan bahwa negosiasi tersebut merupakan keterlibatan paling intensif antara kedua negara dalam 47 tahun.
Araghchi menyatakan bahwa Iran telah berpartisipasi dengan itikad baik, tujuan untuk mengakhiri permusuhan yang sedang berlangsung. Menurutnya, diskusi telah mencapai ambang potensi nota kesepahaman. Namun, ia menyebut bahwa ancaman terbaru Presiden AS untuk memblokir Selat Hormuz menghambat proses ini.
"Kami menghadapi maksimalisme, perubahan target, dan blokade," ujarnya merujuk pada ancaman Trump. Ia menambahkan bahwa niat baik melahirkan niat baik, sementara permusuhan melahirkan permusuhan.
Memblokade Selat Hormuz
Presiden Donald Trump mengatakan bahwa Angkatan Laut AS akan memblokade Selat Hormuz setelah para negosiator gagal mencapai kesepakatan perdamaian dengan Iran. Militer AS mengonfirmasi bahwa blokade akan dimulai Senin pukul 10 pagi ET dan hanya berlaku untuk kapal yang pergi dan pulang dari Iran.
Teheran telah bersumpah untuk membalas setiap kapal militer di selat tersebut. Hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global, karena harga minyak kembali menembus angka $100 per barel pada hari Minggu. Minyak mentah Brent, patokan internasional, naik 8 persen.
Efek Domino
Blokade tersebut dianggap akan semakin mengganggu ekonomi global dan menjaga harga bensin tetap tinggi. Negosiasi yang buntu juga menunjukkan adanya perbedaan pandangan tentang beberapa isu penting, seperti program nuklir Teheran, fasilitas yang tersisa, pendanaan untuk kelompok proksi Iran, dan pembukaan penuh selat.
Gertakan AS Buntut Gagal Negosiasi
Sebelumnya, Trump memerintahkan Angkatan Laut AS untuk mulai memblokade Selat Hormuz, Minggu (12/4/2026). Keputusan ini diambil setelah Iran menolak menghentikan ambisi nuklirnya dalam perundingan damai yang berlangsung di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu.
Meskipun perundingan panjang diklaim berlangsung cukup lancar dan mayoritas hal sudah mencapai kesepakatan, persoalan program nuklir masih menjadi hambatan utama. Trump menyatakan blokade akan segera diberlakukan terhadap semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz.
"Mulai sekarang, Angkatan Laut Amerika Serikat, yang terbaik di dunia, akan memulai proses MEMBLOKADE setiap dan semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz," tulis Trump di platform Truth Social.
Ia juga mengeluarkan ancaman keras terhadap Iran. "Setiap warga Iran yang menembaki kami atau kapal, akan DIHANCURKAN," tegasnya.
Negosiasi Buntu
Negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad, Pakistan berakhir tanpa kesepakatan setelah 21 jam kedua belah pihak melakukan pembicaraan. Iran menolak sejumlah syarat yang diajukan AS dan dianggap sebagai tuntutan yang tak masuk akal.
Dilansir dari media Iran, Tasnim, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan perundingan antara Iran dan AS berakhir tanpa kesepakatan karena tuntutan berlebihan yang diajukan pihak AS. Baqaei mengatakan sebetulnya dalam pembicaraan Iran dan AS telah mencapai kesepahaman mengenai sejumlah isu, tetapi ada dua tiga hal penting berbeda pandang dari kedua belah pihak.
Kata dia negosiasi berlangsung dalam suasana ketidakpercayaan dan kecurigaan setelah kedua belah pihak terlibat perang selama 40 hari.
"Wajar jika sejak awal kita tidak mengharapkan tercapainya kesepakatan dalam satu pertemuan," kata Baqaei dilansir dari Tasnim, Minggu (12/4/2026).
"Tidak ada yang mengharapkan itu juga," lanjut dia.