Negosiasi Iran Tersandung, JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Akar Masalah

Negosiasi Iran Tersandung, JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Akar Masalah
Negosiasi Iran Tersandung, JD Vance Sebut Isu Nuklir Jadi Akar Masalah

Wapres AS JD Vance Mengonfirmasi Gagalnya Perundingan dengan Iran

Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, mengonfirmasi bahwa perundingan selama 21 jam antara pihak AS dan Iran di Islamabad, Pakistan, gagal mencapai kesepakatan. Meski demikian, Vance menegaskan bahwa pihaknya masih menyampaikan "tawaran terakhir dan terbaik" untuk dipertimbangkan oleh Teheran.

Menurut Vance, akar utama dari kebuntuan negosiasi berpusat pada masalah fasilitas nuklir milik Iran. Pihak AS menuntut komitmen jangka panjang agar Iran tidak mengembangkan senjata nuklir. Sementara itu, Iran membantah tudingan tersebut, dengan menyatakan bahwa mereka tidak sedang berupaya memproduksi bom atom.

Pernyataan Vance terkait dengan hasil negosiasi yang berlangsung di sebuah hotel mewah di Islamabad. Ia menjelaskan bahwa pihak AS memberikan waktu bagi Iran untuk mempertimbangkan tawaran tersebut sebelum meninggalkan lokasi pembicaraan.

Sebelumnya, pada hari Selasa (7/4/2026), AS telah menyampaikan rencana penangguhan serangan bersama Israel selama dua pekan demi kelancaran proses negosiasi. Vance menyatakan bahwa pihaknya berangkat dengan proposal yang sangat sederhana, yaitu sebuah metode kesepahaman yang merupakan tawaran terakhir dan terbaik.

"Pertanyaan sederhananya adalah, apakah kita melihat komitmen fundamental dari Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir ... bukan hanya sekarang, bukan hanya dua tahun dari sekarang, tetapi untuk jangka panjang?" tanya Vance. Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, komitmen tersebut belum dilihat.

Vance juga menyatakan bahwa Presiden Donald Trump bersikap akomodatif selama perundingan. Menurutnya, Trump mengingatkan para delegasi untuk datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik dalam mendapatkan kesepakatan. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa tidak ada kemajuan yang signifikan dalam diskusi.

Dinamika Negosiasi yang Berlangsung

Negosiasi antara AS dan Iran dilakukan di Islamabad, Pakistan, menjadi pertemuan tingkat tinggi pertama antara kedua negara sejak Revolusi Islam 1979 dan yang pertama dalam lebih dari satu dekade terakhir. Hasil dari diplomasi ini dinilai sangat krusial karena akan menentukan nasib gencatan senjata yang baru berumur dua pekan.

Selain itu, perundingan ini diharapkan mampu membuka kembali Selat Hormuz yang merupakan jalur vital bagi 20 persen pasokan energi global. Jalur sempit ini telah diblokir oleh Iran sejak konflik memanas, sehingga memicu lonjakan harga minyak dunia.

Dalam unggahan di platform X, Pemerintah Iran menyampaikan bahwa setelah berdiskusi selama 14 jam, jeda diambil agar para ahli teknis dari kedua belah pihak dapat bertukar dokumen. Otoritas Iran menegaskan bahwa atas usulan Pakistan, negosiasi akan kembali dilanjutkan ke putaran berikutnya setelah masa rehat pada hari Minggu, meskipun masih terdapat sejumlah perbedaan pandangan.

Delegasi yang Terlibat dalam Perundingan

Delegasi AS diwakili oleh Wakil Presiden JD Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan penasihat senior Jared Kushner. Sementara itu, Iran mengutus Ketua Parlemen Mohammad Baqer Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi.

Berdasarkan keterangan sumber dari pihak mediator, tensi perundingan dilaporkan naik-turun seiring dengan perubahan suasana hati dari kedua belah pihak. Sejauh ini, pemerintahan Presiden Donald Trump belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait hasil perundingan maupun sengketa yang masih tersisa.