Neneng Kini Bisa Hidupi Keluarga Tanpa Harus Keliling Jakarta

admin.aiotrade 17 Des 2025 6 menit 13x dilihat
Neneng Kini Bisa Hidupi Keluarga Tanpa Harus Keliling Jakarta


aiotrade.CO.ID, Neneng Elawati sudah hampir setahun bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Susukan, Ciracas, Jakarta Timur. Dari dapur itu juga, perempuan yang kini berusia 46 tahun itu bisa mencari nafkah untuk kehidupan keluarganya.

Ia mengaku sudah ikut bekerja di SPPG itu sejak kali pertama dapur yang menyediakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut pada 6 Januari 2025. Setiap pagi, tugasnya adalah menyiapkan sekitar 3.104 porsi MBG yang akan disalurkan kepada para siswa. "Ini salah satu yang pertama kali jalan MBG di Susukan," kata dia saat ditemui beberapa waktu lalu.

AioTrade Autopilot
🔥 SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Neneng mengaku pertama kali mendapatkan informasi terkait pembukaan lowongan untuk pekerja di dapur MBG dari pihak kelurahan. Alhasil, ia memberanikan diri untuk melamar pekerjaan itu, karena pekerjaan sebelumnya sebagai pengemudi ojek daring atau online (ojol) terlalu memberatkan. Setiap hari ia harus 'keliling Jakarta' untuk menjemput nafkah. "Nah kebetulan saya dapet di sini," kata ibu yang punya tiga anak itu.

Tugas dalam SPPG
Ia menjelaskan, terdapat beberapa tugas bagi pekerja di SPPG, seperti bagian persiapan masak, memasak, pemorsian makanan, hingga pengiriman makanan ke sekolah-sekolah. Sementara Neneng mendapatkan tugas melakukan pemorsian makanan sesuai takaran yang telah ditentukan ke ompreng. Baru setelahnya, MBG yang sudah siap itu akan dikirim ke sekolah.

Setiap hari, ia harus datang ke SPPG sejak pukul 04.00 WIB. Biasanya, tugasnya memorsikan makanan MBG selesai pada pukul 08.00 WIB. Namun, ia tetap harus siaga di dapur hingga pukul 12.00 WIB setelah semua makanan disalurkan kepada penerima manfaat. Meski harus berangkat sebelum matahari terbit setiap harinya, Neneng mengaku menikmati pekerjaan itu. Sebab, lokasi SPPG tempatnya bekerja tidak jauh dari rumah, sehingga tidak menghabiskan banyak ongkos.

Penghasilan dan Kebiasaan
Sejak bekerja di SPPG, Neneng juga telah sepenuhnya melepas pekerjaannya sebagai pengemudi ojol. Pasalnya, upah yang didapatkannya dari SPPG sudah lumayan menutupi kehidupan keluarganya. Ia menyebutkan, upahnya untuk sehari bekerja di SPPG adalah Rp 125 ribu. Dalam sepekan, ia bekerja selama lima hari. Di luar itu, ia pun kerap mendapatkan bonus apabila absensinya baik.

Ia menambahkan, keuntungan bekerja di dapur MBG adalah bisa membawa pulang sisa makanan yang kelebihan. Alhasil, pengeluarannya untuk membeli lauk bisa ditekan. "Ya apalagi kalau misalnya kayak masak gitu ya, udah selesai pemorsian gitu kan, suka ada sisa lauk matang gitu kan, boleh dibawa pulang. Ini alhamdulillah ngebantu kita, enggak beli lauk," kata perempuan single parent itu.

Harapan dan Keuntungan
Ia menilai, pendapatannya itu tentu lebih baik dibandingkan harus menjadi pengemudi ojol. Pasalnya, pendapatan dari mengemudi ojol tidak bisa diprediksi setiap harinya. Karena itu, ia berharap program MBG itu dapat terus dilanjutkan oleh pemerintah. Pasalnya, program itu tak hanya membantu pemenuhan gizi anak-anak di sekolah. Lebih dari itu, program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut juga berhasil memberdayakan banyak warga untuk bisa bekerja.

Neneng menyebutkan, di SPPG tempatnya bekerja saja, setidaknya ada 47 orang yang terlibat dalam menyediakan MBG. Mayoritas dari total pekerja itu adalah ibu rumah tangga. "Harapannya sih jangan sampai keputus ya. Mudah-mudahan sih seterusnya, jangan sampai cuma sampai 5 tahun. Soalnya alhamdulillah, Mas, ngebantu banget," kata perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga itu.

Manfaat dari program yang dijalankan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) itu tidak hanya dirasakan oleh Neneng. Salah seorang pekerja di dapur MBG lainnya, Nike Wulandari (38), juga merasa terbantu ekonominya dari program itu. "Ya alhamdulillah. Banyak lah, Mas, yang kebantu. Apalagi, khususnya ibu-ibu ya," kata dia.

Ia juga berharap program itu bisa terus berjalan selamanya. Pasalnya, program itu juga dinilai dapat mendorong pertumbuhan ekonomi warga kelas menengah. "Ya kalau harapan saya ya terus berjalan terus. Kalau bisa sampai seterusnya. Karena kan banyak lah ya, yang menggantungkan hidup dari sini tuh banyak," ujar dia.

Kegiatan dan Pengalaman
Neneng dan Nike mengakui, bekerja untuk menyiapkan makanan gratis bagi anak-anak sekolah itu cukup melelahkan. Apalagi, porsi makanan yang disalurkan setiap harinya itu mencapai ribuan. Setiap harinya, para pekerja MBG harus tetap fokus dalam mengolah hingga mendistribusikan makanan-makanan itu kepada para siswa, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia. Dengan begitu, MBG yang disalurkan itu sesuai dengan takaran gizi yang sudah ditentukan.

"Capek ada lah, tapi kan kami ngerjain ini tuh sambil kita bercanda, tapi tetap fokus gitu kan. Jadinya enggak monoton serius banget gitu. Mungkin kalau serius banget gitu, berasa capek aja," kata Neneng.

Ketika melihat respon anak-anak
Neneng menambahkan, rasa lelah itu juga kadang terbayar ketika para pekerja MBG menerima catatan kecil para siswa penerima manfaat di dalam ompreng yang kembali dari sekolah. Sebab, tak jarang mereka menemukan selipan kertas di dalam ompreng-ompreng itu. "Itu suka ada tulisan-tulisan anak-anak SD. Ada yang bilang ucapan terima kasih, permintaan makanan-makanan yang aneh-aneh. Itu kadang-kadang lucu," kata dia.

Menurut dia, tulisan lugu anak-anak sekolah itu menjadi bukti bahwa program MBG membawa banyak kegembiraan. Hal itu juga yang menjadi penyemangat baginya untuk terus berupaya menyajikan makanan terbaik bagi mereka. "Yang terkesan itu kadang dari anak-anak SD yang nulis-nulis kayak gitu. Di dalam kertas. Jadi kadang-kadang senang," kata dia sambil tersenyum.

Neneng mengaku juga pernah datang ke sekolah untuk melihat langsung program MBG itu berjalan. Menurut dia, banyak siswa dan guru yang berterima kasih kepadanya karena telah membuatkan MBG. "Saya juga pernah datang ke tempat, ke sekolah gitu. Ya seneng aja, mereka seneng. 'Makanan datang, makanan datang'. Kayak misalnya guru-gurunya pun bersyukur gitu. Anak-anak jadinya, yang tadinya gak bawa bekal mereka dapat makan," ujar dia.


Hal yang sama juga dirasakan Suyadi (55). Sudah tiga bulan Suyadi bekerja sebagai koki di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sendang Mulyo II di Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng). Dia merasa bangga dapat ikut andil dalam pelaksanaan program MBG yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi anak-anak se-Indonesia. Terlebih lagi, Suyadi mengaku diupah secara layak.

Sebelum bergabung dengan SPPG Sendang Mulyo II, Suyadi adalah pedagang nasi goreng. Pekerjaan tersebut sudah dilakoninya selama 25 tahun. Pintu yang membawanya bergabung dengan SPPG Sendang Mulyo II adalah sepotong informasi dari mantan rekannya yang dulu sama-sama bekerja di perhotelan.

Sebagai koki SPPG, Suyadi mengaku diupah cukup layak. "Per hari saya dibayar Rp 400 ribu. Untuk standar Kota Semarang, itu sudah lumayan," ujarnya seraya menambahkan bahwa dia dan pegawai SPPG lainnya bekerja lima hari dalam sepekan.

Suyadi pun mengapresiasi kehadiran SPPG karena menciptakan peluang pekerjaan bagi masyarakat. Menurutnya, saat ini persyaratan untuk memperoleh pekerjaan sudah cukup ketat. "Tapi kalau di SPPG, selama dia punya kemauan untuk bekerja keras dan bekerja sama, masyarakat kecil yang tidak punya ijazah pun, itu bisa dipakai. Jadi dampak MBG ini meluas. Tidak hanya untuk anak-anak (penerima manfaat), tapi juga perekonomian pertanian, perkebunan, dan peternakan," ujar Suyadi.

Meski dibayar untuk keahliannya dalam memasak, Suyadi merasa keterlibatannya dalam pelaksanaan MBG sebagai kerja sosial. "Untuk saya pribadi, ini adalah momen saya, bisa berkecimpung dan turut andil dalam program Presiden Prabowo. Karena ini program yang sangat bagus, memenuhi gizi anak-anak, balita, dan ibu hamil. Walaupun tetap dapat gaji, intinya kami ini kerja sosial," katanya.

"Saya sangat bangga, berterima kasih kepada Tuhan, melalui teman saya dan grup-grup saya, karena berkat mereka, saya bisa berkecimpung di sini. Terutama dalam membangun dan ngopeni anak-anak bangsa. Mudah-mudahan, ke depannya, SPPG, di mana pun berada, semakin maju dan semakin jaya," ujar Suyadi.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan