
Pengakuan Menyentuh Niken Anjani tentang Trauma Masa Kecil
Aktris ternama Niken Anjani baru-baru ini memberikan pengakuan yang sangat mengejutkan mengenai pengalaman kelam yang dialaminya saat masih kecil. Dalam sebuah acara podcast di kanal YouTube @maiaaleldultv dengan judul program ‘Anya Geraldine Peluk Niken Anjani Saat Speak Up Soal Pelecehan Seksual!! Vino G. Bastian Beri Support’, Niken berani menceritakan pengalaman pelecehan seksual yang terjadi dari orang terdekatnya sendiri.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Pada kesempatan tersebut, Niken mengungkapkan bahwa ia merasa gemetar saat mencoba menceritakan pengalaman masa lalunya. Ia menjelaskan bahwa kejadian itu terjadi ketika usianya masih delapan tahun, saat kelas tiga SD. Saat itu, orang tua Niken bekerja dan sering menitipkannya kepada kerabat dekat yang selama ini dipercaya oleh keluarga.
Namun, kepercayaan tersebut justru menjadi awal dari trauma panjang yang masih membekas dalam dirinya hingga sekarang. Niken mengungkapkan bahwa saat memasuki masa pra-pubertas, tubuhnya mulai mengalami perubahan fisik yang membuatnya menjadi sasaran perilaku tidak senonoh dari pelaku. Ia mengatakan bahwa saat itu ia belum menyadari perubahan tersebut, bahkan belum mengenal hal-hal seperti penggunaan bra atau sejenisnya. Awalnya, ia hanya menggunakan daster di rumah.
Tiba-tiba, pelaku lewat dan menyentuh bagian nipelnya. Ia mengaku bahwa pelaku saat itu sudah berusia sekitar 40 tahun. Walaupun merasa marah, Niken belum paham apa itu bagian privat karena belum diajarkan. Ia hanya merasa tidak nyaman, tetapi takut dan bingung membuatnya memilih diam meski kejadian itu terus berulang.
Niken juga menceritakan kejadian lain yang masih membekas dalam ingatannya. Pada suatu hari, ia secara tidak sengaja membuka pintu toilet karena tidak dikunci. Saat itu, orang tersebut sedang buang air kecil. Ia kaget dan ingin langsung menutup pintu untuk lari, namun orang tersebut menariknya dan memegangnya. Saat itu, Niken masih duduk di kelas tiga SD dan mulai merasa takut.
Puncak dari pelecehan itu terjadi saat Niken sedang menggambar. Ia berdiri menggambar, lalu pelaku datang dari belakang dan menempelkan badannya. Ia langsung menangis dan lari. Kejadian ini terjadi beberapa kali dalam waktu singkat, akhirnya ia ceritakan kepada orang tuanya setelah kejadian ketiga. Namun, respons lingkungan saat itu tidak mudah. Orang tua dan lingkungan cenderung meragukan ceritanya, karena pada masa itu kasus pelecehan seksual masih dianggap tabu.
Meskipun keluarganya mengonfrontasi pelaku, trauma yang ditinggalkan sangat sulit untuk dihapuskan. Niken mengatakan bahwa pengalaman kelam tersebut membuatnya sangat berhati-hati terhadap anak-anaknya. Ia tidak memperbolehkan anak-anaknya muncul di media sosial. Jika nanti mereka ingin mandiri, ia akan memberi kebebasan, tetapi selama masih tanggung jawabnya, ia akan menjaga mereka dengan ketat.
Dalam percakapan tersebut, Anya Geraldine yang duduk di samping Niken tampak menenangkan dan memberi dukungan dengan pelukan. Bunda Maya sebagai pembawa acara juga menyoroti bahwa kasus pelecehan seksual tidak hanya terjadi melalui media sosial, tetapi sering kali dilakukan oleh orang terdekat.
Niken menjelaskan bahwa dari pengalaman kelamnya, ia memiliki pesan penting bagi para orang tua agar lebih waspada. Ia kini sangat hati-hati dalam menitipkan anak kepada orang yang tidak terlalu dekat. Ia menegaskan bahwa ia tidak pernah meninggalkan anak-anaknya tanpa pengawasan.
Trauma masa kecil Niken membuatnya lebih protektif terhadap anak-anak dan lebih sadar pentingnya pengawasan keluarga. Kisah Niken menjadi pengingat keras bahwa pelecehan seksual bisa terjadi di lingkungan terdekat sekalipun. Keberaniannya untuk berbicara di depan publik tidak hanya menjadi bentuk penyembuhan diri, tetapi juga edukasi agar masyarakat lebih peduli, percaya pada korban, dan menciptakan ruang aman bagi para korban untuk bersuara.