Nilai Tukar Rupiah Berfluktuasi, Rosan Sebut Masih dalam Batas Wajar Investor

aiotrade – Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani buka suara soal tren depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang belakangan menjadi perhatian pelaku pasar. Rosan menegaskan, pelemahan rupiah tersebut belum berdampak signifikan terhadap iklim investasi di Tanah Air.

Menurut Rosan, pergerakan dolar AS terhadap berbagai mata uang global, termasuk rupiah, merupakan dinamika yang wajar. Ia menilai fluktuasi nilai tukar masih berada dalam batas yang bisa diterima oleh para investor, khususnya investor asing.

“Sebetulnya ini kan kalau kita lihat, USD itu kan bukan suatu kenaikan yang meningkat terus. Ini kan masih naik turun. Saya melihat ini masih dalam range yang sangat-sangat acceptable oleh investor luar juga,” ujar Rosan saat ditemui di Kantornya, Jakarta Selatan, Kamis (15/1).

Rosan menjelaskan, investor asing pada dasarnya sudah memperhitungkan risiko nilai tukar sejak awal ketika menanamkan modal di Indonesia. Pergerakan rupiah terhadap dolar AS telah masuk dalam skema perhitungan bisnis mereka, sehingga fluktuasi yang terjadi saat ini tidak mengejutkan pasar.

“Jadi, mereka sudah memperkirakan pergerakan dari mata uang kita pada saat mereka berinvestasi ke Indonesia. Pergerakan itu masih dalam range yang sangat-sangat acceptable,” tukasnya.

Sementara itu, pada penutupan perdagangan hari ini, Kamis (15/1) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah ke posisi Rp 16.895. Angka tersebut melemah 30,50 poin atau 0,18 persen terhadap penguatan dolar AS.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus Pengamat Ekonomi, Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa penguatan indeks dolar AS seiring dengan meredanya ketagangan antara Washington dan Teheran.

Sedangkan dari sisi data ekonomi, rilis Penjualan Ritel AS melampaui perkiraan dan mengindikasikan rumah tangga AS tetap kuat dalam berbelanja.

“Hari ini fokus pasar adalah klaim pengangguran awal untuk minggu yang berakhir pada 10 Januari, dengan perkiraan 215.000 warga Amerika mengajukan tunjangan pengangguran, di atas 208.000 yang terlihat pada minggu sebelumnya,” ujar Ibrahim dalam keterangannya.

Diskusi Pembaca

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Tambah Komentar
Email tidak akan dipublikasikan