
Pengumuman Penerbitan Obligasi oleh BUMI
PT Bumi Resources Tbk (BUMI), salah satu emiten yang terafiliasi dengan Grup Salim dan Bakrie, mengumumkan penerbitan Obligasi Berkelanjutan I BUMI Tahap III Tahun 2025 sebesar Rp 780 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk akuisisi tambang emas di Australia dan saham perusahaan tambang bauksit di Kalimantan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Obligasi yang diterbitkan memiliki bunga tetap sebesar 9% per tahun dan tenor lima tahun sejak tanggal emisi. Pelunasan dilakukan secara penuh sebesar 100% pokok obligasi pada saat jatuh tempo. Dengan demikian, investor akan mendapatkan kembali seluruh modal mereka pada masa jatuh tempo.
Alokasi Dana dari Penawaran Obligasi
Dari total dana yang diperoleh sebesar Rp 340,88 miliar atau AU$ 31,47 juta, sebagian besar dialokasikan untuk pembayaran akuisisi Jubilee Metals Limited (JML), sebuah perusahaan tambang emas di Australia Barat. Sementara itu, sebanyak Rp 333,6 miliar akan digunakan sebagai uang muka untuk rencana akuisisi PT Laman Mining (LM), perusahaan pertambangan bauksit di Ketapang, Kalimantan.
Selain itu, sekitar Rp 97,50 miliar atau AU$ 8,76 juta dari dana obligasi akan dialokasikan sebagai pinjaman kepada Wolfram Limited (WFL) yang baru saja diakuisisi oleh BUMI. Pinjaman ini bertujuan untuk membiayai belanja modal dan modal kerja WFL hingga memasuki tahap produksi pada 2026.
Rincian Penggunaan Dana untuk WFL
Secara rinci, sekitar Rp 63,62 miliar atau AU$ 5,87 juta akan digunakan untuk penyelesaian pengembangan pabrik pengolahan bijih, termasuk peremajaan fasilitas, perbaikan, pemeliharaan, dan inspeksi. Selain itu, sekitar Rp 19,99 miliar atau AU$ 1,85 juta akan digunakan untuk mendanai aktivitas eksplorasi. Sisanya akan dialokasikan sebagai modal kerja, mencakup biaya tenaga kerja, biaya lingkungan, keselamatan, serta iuran wajib operasional tambang.
Manajemen BUMI menyatakan bahwa jika dana yang dipinjam telah dikembalikan oleh WFL, maka BUMI akan menggunakan dana tersebut untuk membiayai kebutuhan modal kerja perseroan.
Proyeksi Harga Saham BUMI
Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) menilai bahwa akuisisi ini bersifat value-accretive, yang berarti meningkatkan stabilitas pendapatan jangka panjang BUMI serta mendiversifikasi portofolio bisnisnya di luar batu bara. BUMI berencana mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 5,8 juta untuk meningkatkan aset tambang emas Wolfram. Produksi komersial ditargetkan mulai Juni 2026 dengan fasilitas flotation plant, dan fasilitas pengolahan Carbon-in-Leach (CIL) senilai US$ 45,5 juta dibangun untuk meningkatkan kapasitas produksi emas pada 2029.
SSI memperkirakan bahwa dengan volume penjualan emas mencapai 40 ribu ons pada 2027, pendapatan tambahan bisa mencapai US$ 221 juta, meningkatkan proyeksi pendapatan BUMI sebesar 13,6% dibanding perkiraan sebelumnya. Sekuritas ini mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BUMI sekaligus menaikkan target harga menjadi Rp 300 per saham, atau potensi kenaikan 34% dari harga saat ini.
Rekomendasi dan Prospek Masa Depan
SSI menulis bahwa revisi target harga ini mencerminkan tambahan kontribusi pendapatan dari aset emas Wolfram serta peningkatan nilai aset bersih BUMI seiring ekspansi ke bisnis logam mulia. Selain itu, sekuritas ini menambahkan bahwa mulai 2029 BUMI berpotensi mendapatkan penilaian ulang (re-rating) oleh pasar karena transformasi perusahaan dari tambang batu bara menjadi perusahaan tambang logam yang terdiversifikasi.