
aiotrade.CO.ID – JAKARTA.
Bank Indonesia (BI) mulai menerima obligasi korporasi sebagai underlying transaksi repo dalam operasi moneter BI. Pada tahap awal, BI akan menerima obligasi yang diterbitkan oleh PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sebagai underlying repo.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Chief Economist PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), Suhindarto menilai secara umum dampak dari adanya operasi repo yang menggunakan underlying obligasi korporasi adalah suatu hal yang positif.
“Dampak kepada pasar obligasi korporasi sendiri dengan digunakannya obligasi korporasi sebagai underlying repo ini bisa membuat pendalaman pasar lebih baik,” ujar Suhindarto dalam Media Forum, Selasa (16/12/2025).
Suhindarto menilai hal ini juga dapat mendorong minat investor untuk membeli obligasi korporasi. Karena secara tidak langsung memberi sinyal aset tersebut bisa digunakan sebagai jaminan untuk mendapatkan likuiditas. Selain itu langkah ini bisa juga menjadi alternatif likuiditas.
“Dimana ini memberikan bank juga opsi yang lebih luas untuk mendapatkan dana dari bank sentral selain hanya menggunakan SBN itu sendiri. Hal ini juga bisa memuat transmisi kebijakan moneter jika channelnya lebih banyak, maka penyebarannya juga relatif lebih efektif,” kata Suhindarto.
Kemudian dari sisi pembiayaan di sisi swastanya sendiri. Suhindarto melihat repo ini mensinyalkan pemerintah sendiri menggunakan obligasi korporasi sebagai underlying. Hal itu dinilai bisa menjadi pandangan atau persepsi resiko dari investor mengalami penurunan.
“Dan kalau itu terjadi maka penurunan cost of fund bisa terjadi lebih jauh. Sehingga secara umum memang dampaknya positif,” ucap Suhindarto.
Akan tetapi, Suhindarto juga mengatakan perlunya mengantisipasi dampak potensial lainnya. Ia melihat Bank Indonesia sudah mengantisipasi dengan mengambil obligasi berperingkat tinggi atau AAA seperti milik SMF menjadi underlying repo.
“Jadi memang yang diambil bukanlah yang obligasi dengan peringkat dibawahnya. Sehingga dari sisi likuiditas, resiko, ini bisa diantisipasi dan relative lebih terjaga,” pungkas Suhindarto.
Sebelumnya, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef, M Rizal Taufikurahman menilai, untuk pembukaan repo obligasi korporasi di luar SMF pada prinsipnya memungkinkan. Namun harus dilakukan secara bertahap dan terbatas, mengingat tingginya ketidakpastian global dan volatilitas pasar keuangan.
“Perluasan sebaiknya difokuskan pada lembaga quasi-sovereign atau BUMN dengan kualitas kredit sangat baik, disertai batas eksposur yang ketat untuk menjaga kehati-hatian kebijakan moneter,” imbuhnya.
Dampak Positif dan Tantangan yang Perlu Diperhatikan
Adopsi obligasi korporasi sebagai underlying repo oleh BI membuka peluang baru dalam sistem keuangan nasional. Dari sisi pasar, langkah ini dapat meningkatkan permintaan terhadap obligasi korporasi karena penggunaannya sebagai jaminan dalam transaksi repo. Hal ini bisa memperkuat likuiditas pasar dan meningkatkan daya tarik bagi para investor.
Namun, penting untuk memastikan bahwa hanya obligasi dengan kualitas tinggi yang digunakan sebagai underlying. Ini bertujuan untuk mengurangi risiko kredit dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Dengan demikian, BI dapat memastikan bahwa transaksi repo tetap aman dan efektif.
Selain itu, perlu adanya pengawasan ketat terhadap eksposur terhadap obligasi korporasi. Langkah ini bertujuan untuk mencegah risiko yang tidak terduga akibat fluktuasi pasar atau ketidakpastian eksternal.
Strategi Pengembangan Pasar Obligasi Korporasi
Untuk memperkuat pasar obligasi korporasi, BI perlu membangun kerja sama yang kuat dengan lembaga penerbit obligasi. Dengan adanya regulasi yang jelas dan transparan, investor akan lebih percaya diri untuk berpartisipasi dalam pasar ini.
Selain itu, penting juga untuk meningkatkan edukasi dan pemahaman investor tentang obligasi korporasi. Dengan informasi yang cukup, investor dapat membuat keputusan yang lebih bijak dalam memilih aset yang sesuai dengan profil risiko mereka.
Kesimpulan
Adopsi obligasi korporasi sebagai underlying repo oleh BI merupakan langkah strategis yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan stabilitas dan pertumbuhan pasar keuangan. Meski ada tantangan yang perlu diperhatikan, langkah ini dapat menjadi fondasi yang kuat untuk pengembangan pasar obligasi yang lebih berkembang dan berkelanjutan.