
BADUNG, aiotrade
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang mempertimbangkan untuk menaikkan batas free float atau jumlah saham yang bisa diperdagangkan oleh publik. Kepala Eksekutif Pasar Modal, Derivatif Keuangan dan Bursa Karbon OJK Inarno Djajadi menyatakan bahwa pihaknya bersama dengan Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan kajian mendalam terkait rencana ini.
"Ini sudah menjadi kajian kami yang sangat serius dan mudah-mudahan dapat kami terapkan dalam waktu dekat," ujar dia dalam Media Gathering Pasar Modal, Sabtu (15/11/2025).
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Saat ini, pasar modal menetapkan batasan free float sebesar 7,5 persen. Namun, realisasi tersebut masih berada di bawah rata-rata free float regional. Meskipun menghadapi tantangan, batasan minimum free float ini perlu ditingkatkan.
"Target kami mungkin 25 persen, tetapi tidak mungkin langsung ke 25 persen karena konsekuensinya," tambah dia.
Dalam waktu dekat, Inarno mengatakan akan menaikkan batasan minimum free float saham di pasar modal menjadi 10 persen. Selain itu, perusahaan yang akan melaksanakan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) juga diharapkan dapat memenuhi minimal free float sebesar 10 persen.
Harapan dari kenaikan ini adalah agar bisa terus bertumbuh ke level 15 persen dan akhirnya mencapai target 25 persen.
Hal ini juga disampaikan oleh Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Iman Rachman. Ia mengatakan bahwa pihaknya memang berencana untuk menambahkan batasan free float saham.
"Mungkin bocoran kami tidak akan drastis menambah persentase, tapi dasarnya, kalau IPO dulu itu berdasarkan ekuitas, tapi masukan dari bursa itu berdasarkan market cap," ungkap dia.
Menurut Iman, market cap atau kapitalisasi pasar lebih menunjukkan kondisi perusahaan saat ini. Selain itu, ia juga menyampaikan bahwa ke depannya, bursa akan meminta perusahaan yang akan menggelar IPO untuk memenuhi persyaratan free float sebesar 10 persen.
Saat ini, ia mencatat masih ada sekitar 30 perusahaan yang belum memenuhi batas free float sebesar 7,5 persen. Lebih lanjut, Iman mengatakan bahwa perusahaan-perusahaan blue chip yang telah lama menggelar IPO juga perlu didorong untuk meningkatkan free float-nya. Hal ini bertujuan agar investor asing bisa masuk ke pasar modal Indonesia.
"PR kami adalah bagaimana perusahaan yang dulu 'darling', misalnya bank-bank seperti CIMB yang free floatnya masih rendah, bisa lebih tinggi, karena kalau terlalu rendah, asing tidak bisa masuk juga," ujar dia.
Tak hanya itu, Iman juga mengusulkan kepada OJK untuk mempermudah persyaratan perusahaan melakukan rights issue. Dengan demikian, hal tersebut diharapkan akan mempermudah penambahan saham free float terhadap yang sudah ada bisa lebih cepat.
"Karena rights issue kami sekarang terus terang prosesnya hampir sama dengan IPO," tutup dia.