
Penurunan Investasi Dana Pensiun di SRBI
Pada Oktober 2025, penempatan investasi dari industri dana pensiun di Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami penurunan dibandingkan akhir tahun 2024. Hal ini disampaikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK, Ogi Prastomiyono, yang menjelaskan bahwa penurunan ini sejalan dengan berkurangnya penerbitan SRBI sepanjang 2025.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Berdasarkan data per Oktober 2025, nilai penempatan dana pensiun pada SRBI tercatat sebesar Rp4,09 triliun atau sekitar 1,06% dari total investasi,” ujarnya dalam jawaban RDK November 2025.
Meskipun demikian, Ogi menilai SRBI masih memiliki potensi sebagai instrumen investasi jangka pendek dengan risiko rendah dan imbal hasil yang kompetitif. Namun, ia menegaskan bahwa alokasi investasi dana pensiun tetap perlu disesuaikan dengan profil liabilitas (liability driven investment).
Proyeksi Pertumbuhan Industri Dana Pensiun
OJK memproyeksikan pertumbuhan industri dana pensiun, baik dari program pensiun wajib maupun sukarela, akan mencapai double digit pada 2026. Meski begitu, Ogi menyebut bahwa dana pensiun pada tahun depan akan menghadapi tantangan dalam pengelolaan portofolio investasi.
Menurutnya, penurunan tingkat suku bunga acuan (BI Rate) akan berdampak pada potensi penurunan tingkat imbal hasil investasi yang akan diperoleh Dana Pensiun. Selain itu, strategi alokasi aset yang optimal menjadi tantangan bagi dana pensiun di tengah pergerakan pasar keuangan yang sangat dinamis.
Tantangan dan Inovasi dalam Pengelolaan Dana Pensiun
Selain masalah pengelolaan investasi, Ogi juga menyoroti pertumbuhan jumlah peserta yang menjadi tantangan tersendiri bagi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK). DPLK harus melahirkan inovasi produk untuk dapat menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat serta mengembangkan digitalisasi dalam rangka efektivitas pengelolaan dana pensiun.
Penurunan Penerbitan SRBI oleh Bank Indonesia
Sebelumnya, Bank Indonesia menurunkan penerbitan SRBI secara terukur sepanjang 2025 sebagai salah satu upaya menjaga likuiditas perbankan. Direktur Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Ronald D. Parluhutan, menyampaikan bahwa outstanding SRBI menurun menjadi Rp720,61 triliun per 19 Agustus 2025, dari Rp923,53 triliun per 31 Desember 2024.
“Upaya ini dilakukan untuk mendukung kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, sekaligus mendorong keberlanjutan pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya dalam agenda Pelatihan Wartawan Media Nasional di Yogyakarta, Jumat (22/8/2025).
Penurunan outstanding SRBI juga diikuti dengan turunnya yield atau imbal hasil, khususnya pada tenor 12 bulan yang menjadi acuan utama. SRBI saat ini ditawarkan dalam tiga tenor, yaitu 6, 9, dan 12 bulan.