Pertumbuhan Kredit Perbankan pada September 2025
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan bahwa penyaluran kredit perbankan pada bulan September 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 7,7 persen secara tahunan (year on year/yoy), mencapai angka Rp8.163 triliun. Angka ini sedikit meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Agustus 2025 yang tercatat sebesar 7,56 persen, atau senilai Rp8.075 triliun.
Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, kinerja intermediasi perbankan saat ini tetap stabil dengan profil risiko yang terjaga. Aktivitas operasional perbankan juga berjalan optimal dalam memberikan layanan keuangan kepada masyarakat. Pada September 2025, kredit tumbuh sebesar 7,70 persen yoy.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kredit Investasi Mengalami Pertumbuhan Tinggi
Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 15,18 persen, diikuti oleh kredit konsumsi yang naik sebesar 7,42 persen, dan kredit modal kerja yang tumbuh sebesar 3,37 persen. Dari sisi kategori debitur, kredit korporasi mengalami pertumbuhan sebesar 11,53 persen, sementara kredit UMKM hanya meningkat sebesar 0,23 persen.

Dari sisi penghimpunan dana, Dana Pihak Ketiga (DPK) juga mengalami pertumbuhan kuat sebesar 11,81 persen yoy menjadi Rp9.695 triliun, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus yang sebesar 8,51 persen. Menurut OJK, kondisi ini mencerminkan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan yang masih solid.
Likuiditas Perbankan Tetap Longgar
Likuiditas industri perbankan tetap longgar, dengan rincian rasio alat likuid terhadap noncore deposit (AL/NCD) dan alat likuid terhadap DPK (AL/DPK) masing-masing berada pada level 130,47 persen dan 29,30 persen, jauh di atas ambang batas minimal.
“Masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 205,94 persen,” ujar Dian.

Kualitas Aset Perbankan Terjaga
Dari sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat sebesar 2,24 persen dan NPL net sebesar 0,87 persen. Sementara itu, loan at risk (LAR) turun menjadi 9,52 persen dari bulan sebelumnya.
Permodalan perbankan juga terjaga kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) mencapai 26,15 persen. Menurut Dian, posisi ini menjadi bantalan penting untuk menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
“CAR yang tinggi menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat dalam mengantisipasi kondisi ketidakpastian global,” ujarnya.

Tantangan dan Peluang di Sektor Kredit
Meskipun pertumbuhan kredit perbankan menunjukkan optimisme, ada beberapa tantangan yang masih dihadapi. Penyaluran kredit UMKM belum pulih seperti sebelum pandemi, sehingga perlu dukungan lebih lanjut dari pihak bank dan otoritas. Selain itu, isu suku bunga kredit juga menjadi topik hangat, dengan beberapa pihak mengkritik kebijakan bank dalam menentukan suku bunga yang dapat memengaruhi daya beli masyarakat.
Ekonom juga menyampaikan pandangan bahwa sistem SLIK OJK tidak menghambat penyaluran kredit, karena sistem tersebut dirancang untuk meningkatkan transparansi dan efisiensi proses penyaluran kredit.