
aiotrade, DENPASAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus berupaya untuk memberantas praktik perdagangan saham gorengan yang dapat menimbulkan distorsi harga atau manipulasi pasar. Langkah ini dilakukan guna menjaga kestabilan dan keterbukaan pasar modal di Indonesia.
Menurut informasi yang diperoleh, OJK bekerja sama dengan Self Regulatory Organization (SRO), serta Kementerian Keuangan membentuk satuan tugas khusus untuk mengatasi masalah tersebut. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyebut bahwa pasar modal belum mendapat insentif dari pemerintah sebelum masalah saham gorengan diselesaikan.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi, menjelaskan bahwa pemerintah melalui berbagai lembaga dan kementerian telah membentuk sebuah task force lintas lembaga. Tujuan utamanya adalah untuk memperdalam pasar modal, termasuk dalam penegakan hukum.
"Inarno dalam forum Workshop Capital Market BEI, di Bali, Sabtu (15/11/2025) mengatakan bahwa OJK bersama dengan Kementerian Keuangan, Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) telah membentuk suatu task force lintas lembaga yang utamanya adalah untuk pendalaman pasar, yang salah satunya itu juga penegakan hukum," ujarnya.
Pengawasan pasar menjadi salah satu prioritas utama OJK pada tahun 2026. Tiga program prioritas yang dicanangkan oleh OJK mencakup sisi penawaran, permintaan, dan infrastruktur. Dari sisi penawaran, fokusnya adalah meningkatkan aktivitas penawaran umum perdana saham (IPO) bagi emiten berkapitalisasi besar, serta meningkatkan efisiensi dan transparansi penawaran umum.
Selain itu, OJK juga mendorong penerbitan obligasi dan sukuk daerah. Di sisi permintaan, upaya dilakukan dengan memperluas basis investor, meningkatkan likuiditas pasar sekunder, dan meningkatkan free float saham. Saat ini, free float saham hanya sebesar 7,5%.
"Target kami free float 25%, tapi tidak mungkin langsung ke 25% karena konsekuensinya cukup banyak. Jadi kami secara bertahap mungkin dalam waktu dekat naik ke 10%, dan paling tidak kami upayakan IPO yang ke depan harus minimal 10%, berikutnya 15%, berikutnya mengarah ke 25%," jelas Inarno.
Dari sisi infrastruktur, OJK fokus pada penguatan infrastruktur pasar, percepatan perizinan, transformasi proses penawaran umum, penguatan pelaku pasar, perluasan akses, serta penguatan tata kelola.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. aiotrade tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.