OJK: Suku Bunga Mulai Turun, Kredit Ini Terdampak

admin.aiotrade 08 Nov 2025 3 menit 14x dilihat
OJK: Suku Bunga Mulai Turun, Kredit Ini Terdampak

Penurunan Suku Bunga Kredit Perbankan di September 2025

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa rata-rata suku bunga kredit perbankan mulai mengalami penurunan pada bulan September 2025. Hal ini terjadi seiring dengan pemangkasan suku bunga acuan Bank Indonesia yang dilakukan sejak awal tahun hingga saat ini. Dalam periode tersebut, Bank Indonesia telah melakukan lima kali pemangkasan suku bunga acuan sebesar 1,25% sehingga tingkat suku bunga acuan berada pada posisi 4,75%.

AioTrade Autopilot
πŸ”₯ SPONSOR

TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET

Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)

Bukan FUTURE. Bukan Judi. Bukan Tebak-tebakan.
CARA KERJA (Real)
  • Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
  • Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
  • Profit 1 siklus = 1.2%
  • Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
  • Anti Loss & SPOT Market (Aman)
  • LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
  • Tanpa emosi, pantau chart otomatis
  • Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan

Dari sisi penghimpunan dana, suku bunga tertimbang Dana Pihak Ketiga (DPK) rupiah juga terpantau menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan hal ini dalam Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK, Jumat (7/11). Menurutnya, suku bunga tertimbang DPK rupiah turun sebesar 11 bps dari 2,89% pada Agustus menjadi 2,78% pada September.

Penurunan ini terutama disebabkan oleh turunnya suku bunga deposito rupiah dari 5,24% menjadi 4,96%. Selain itu, penghimpunan DPK perbankan yang tumbuh 8,81% secara year on year (yoy) mencapai Rp 9.695,4 triliun, lebih baik dibandingkan Agustus yang hanya mencapai 8,51%. Di sisi lain, penyaluran kredit per September 2025 tumbuh 7,7% secara tahunan mencapai Rp 8.162 triliun, juga lebih tinggi dibandingkan Agustus sebesar 7,56%.

Pertumbuhan Kredit Berdasarkan Jenis Penggunaan

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 15,18%, diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 7,4%, dan kredit modal kerja sebesar 3,37% (yoy).

Sementara itu, dari sisi kategori debitur, kredit korporasi tercatat naik paling tinggi sebesar 11,53%, sedangkan kredit Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hanya tumbuh 0,23%. Dian menilai bahwa penyaluran kredit berpotensi tumbuh lebih tinggi seiring dengan beberapa program yang tengah dijalankan pemerintah saat ini.

Perbankan juga memiliki likuiditas yang longgar dengan rasio kredit terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) yang pada September 2025 berada di level 84,19%, jauh di bawah batas ambang (threshold) sebesar 92%.

Peluang Pertumbuhan Kredit

Menurut Dian, pemulihan sejumlah sektor ekonomi serta dukungan dari kebijakan perdagangan, industri, dan investasi diharapkan mampu menciptakan multiplier effect terhadap konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha. Dengan demikian, permintaan terhadap kredit perbankan juga akan ikut meningkat.

Namun, ia mencatat bahwa pertumbuhan kredit UMKM masih melambat dibandingkan dengan ekspansi kredit korporasi dan konsumsi rumah tangga. Pada September 2025, kredit UMKM hanya tumbuh 0,23% secara tahunan atau year on year (yoy).

Upaya Meningkatkan Kualitas Kredit UMKM

Menurutnya, kondisi ini terjadi karena perbankan saat ini lebih berfokus pada peningkatan kualitas kredit UMKM. OJK pun berupaya bekerja sama dengan berbagai lembaga untuk membangun ekosistem UMKM yang lebih baik.

β€œBank-bank perlu menyesuaikan proses penyaluran kredit dengan mempercepat persyaratan, menawarkan produk yang sesuai segmen UMKM, dan meningkatkan kerja sama dengan lembaga penjamin kredit agar risiko dapat diminimalkan,” ujar Dian.

Kondisi Rasio Kualitas Kredit

Adapun sejauh ini, menurut dia, rasio kualitas kredit tetap terjaga. Rasio non-performing loan (NPL) gross per September 2025 tercatat 2,24%, naik tipis dari 2,20% pada Agustus, sedangkan NPL net stabil di 0,87%. Adapun loan at risk (LAR) menurun menjadi 9,52% dari 9,73% pada bulan sebelumnya.

Kekuatan Permodalan Perbankan

Dari sisi ketahanan, permodalan perbankan masih sangat kuat dengan capital adequacy ratio (CAR) mencapai 26,15%, naik dari 26,03% pada Agustus. Hal ini menunjukkan bahwa perbankan tetap dalam kondisi sehat dan siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan.

Diskusi Pembaca (0)

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan tanggapan informatif!

Tinggalkan Balasan