
JAKARTA, aiotrade
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat pengawasan di pasar modal. Sepanjang tahun 2025, OJK melakukan pemeriksaan terhadap 155 kasus yang diduga mengganggu integritas perdagangan saham. Mayoritas dari jumlah tersebut, yaitu 116 kasus, terkait dengan aktivitas perdagangan saham.
Deputi Komisioner Pengawas Pengelolaan Investasi Pasar Modal dan Lembaga Efek OJK, Eddy Manindo Harahap, menyebutkan bahwa dari total kasus tersebut, sebanyak 69 kasus telah diselesaikan, sementara 86 lainnya masih dalam proses pemeriksaan. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa praktik-praktik yang tidak sesuai dengan prinsip pasar yang teratur, wajar, dan efisien masih terjadi. Oleh karena itu, diperlukan upaya penindakan yang berkelanjutan dan konsisten agar integritas pasar tetap terjaga serta kepercayaan investor tidak tergerus.
TRADING OTOMATIS 24 JAM TANPA RIBET
Aiotrade adalah alat bantu trading autopilot nonstop di market SPOT Binance & Bitget
(Next: OKX, Tokocrypto & Saham)
CARA KERJA (Real)
- Harga Turun 1% → BELI OTOMATIS
- Harga Naik 1.2% → JUAL OTOMATIS
- Profit 1 siklus = 1.2%
- Mengulang selama market bergerak
KEUNGGULAN UTAMA
- Anti Loss & SPOT Market (Aman)
- LEGAL & Terdaftar BAPPEBTI
- Tanpa emosi, pantau chart otomatis
- Tidur/Sibuk, transaksi tetap jalan
“Kondisi ini menegaskan bahwa praktek-praktek yang tidak sejalan dengan prinsip pasar yang teratur, wajar, dan efisien masih perlu diberantas secara konsisten,” ujar Eddy saat konferensi pers di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/12/2025).
Upaya penegakan hukum ini sejalan dengan arahan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, yang meminta seluruh Self-Regulatory Organization (SRO) untuk memperkuat pengawasan dan membenahi pasar modal dari praktik goreng saham. Ia memastikan setiap bentuk praktik manipulatif, baik melalui transaksi semu maupun pola perdagangan yang merugikan investor, khususnya investor ritel, tidak akan diberi ruang di pasar modal. Bahkan bakal ditindak secara serius.
“OJK menegaskan tidak akan mentoleransi praktek manipulatif transaksi semu, maupun pola perdagangan yang merugikan investor, khususnya investor retail,” paparnya.
Lebih jauh, OJK juga menjatuhkan berbagai sanksi administratif sepanjang 2025. Terdapat 120 sanksi administratif untuk pelanggaran di pasar modal, 1.180 sanksi administratif atas keterlambatan penyampaian laporan, serta 65 sanksi administratif lain yang bersifat non-kasus.
Di sisi lain, maraknya serangan siber di industri pasar modal mendorong otoritas dan pengelola bursa memperkuat pertahanan dari hulu ke hilir. Tidak hanya sistem dan regulasi, kualitas sumber daya manusia (SDM) hingga literasi keamanan investor kini menjadi perhatian Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, mengatakan bahwa penguatan keamanan siber pasar modal dimulai dari anggota bursa. BEI bersama komponen lain dalam Self Regulatory Organization (SRO) telah menerbitkan surat keputusan (SK) bersama yang mengatur penguatan cyber security alias keamanan siber bagi pelaku pasar modal.
“Dari sisi bursa mungkin yang paling kita juga tekankan, ya tadi kan sampaikan samping investor. Tadi juga adalah bawa dari sisi anggota bursanya,” ucap Iman.
“Jadi mungkin rekan-rekan media telah melihat bahwa beberapa SK bersama, ya. SRO, bursa, KPEI, KSEI terkait SK bersama mengenai cyber security. Tapi yang paling penting adalah yang pertama dari si anggota bursanya adalah terkait penguatan SDM-nya,” paparnya.
Menurut Iman, langkah tersebut penting agar anggota bursa memiliki kompetensi memadai dalam menghadapi ancaman digital yang kian kompleks. Selain penguatan SDM, BEI juga menekankan aspek regulasi dan pedoman pengamanan sistem sebagai bagian dari fungsi pengawasan.
“Aspek kedua adalah regulasi dan pedoman keamanan sistem. Ketiga assessment atau penilaian terhadap keamanan sistem di anggota bursa, untuk memastikan standar keamanan minimum benar-benar terpenuhi,” jelasnya.
Tak berhenti di situ, BEI juga memperkuat kolaborasi lintas lembaga. Dukungan tenaga ahli tersertifikasi, antara lain dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Indonesia Anti Scam Center, hingga pengembangan Security Operation Center (SOC), menjadi bagian dari strategi jangka menengah.
“Mulai tahun ini hingga pertengahan tahun depan, kami akan mengukur maturity level atau tingkat kematangan keamanan sistem anggota bursa. Ini penting untuk memetakan kesiapan industri secara menyeluruh,” kata Iman.